Sejak awal, perjuangan Winasa untuk menjadi Gubernur Bali periode 2008 – 2013 
rasanya berat sekali. Pertama, susah sekali baginya dapat rekomendasi menjadi 
calon gubernur dari PDIP, partai tempatnya bernaung ketika itu. Rekomendasi DPP 
PDIP akhirnya jatuh ke tangan Mangku Pastika, yang bukan kader partai. 
   
  Waktu itu, keputusan itu membuat masyarakat umum terheran-heran. “Kader 
partai yang baik tapi kok nggak dipilih?” Seorang bapak-bapak yang kutemui di 
Warung Mek Liong ngomel panjang-lebar gara-gara keputusan yang dianggapnya 
nyeleneh itu. 
   
  Beberapa waktu kemudian, ketika aku bertemu dengan seorang kader PDIP 
lainnya, aku bertanya, “Kenapa memilih Mangku Pastika, bukan Winasa? Bukankah 
dia kader yang potensial? Banyak yang bertanya-tanya mengenai itu.” Jawabannya 
simpel. “Sesungguhnya, itu bagian strategi dari partai. Winasa sesungguhnya 
lebih cocok jadi menteri. Dia hebat, pintar. Sekarang tinggal dijalani aja. 
Siapa pun yang menang, toh bagian dari PDIP,” katanya diplomatis. Sesederhana 
itu? Rasanya tidak.
   
  Winasa memilih keluar dari PDIP setelah dia memutuskan diri tetap maju dalam 
pencalonan pilkada Bali tahun ini. Setelah Partai Golkar menetapkan kadernya 
sebagai calon gubernur, Winasa harus berjuang habis-habisan mengumpulkan 
dukungan. Syarat 15% dukungan harus dipenuhinya, karena jika tidak, dia tak 
bisa mencalonkan diri. Dukungan PDIP sebesar 51,34%, suara Partai Golkar 
bergabung dengan Partai Karya Peduli Bangsa, Partai Nasional Indonesia 
Marhaenisme, Partai Perhimpunan Indonesia Baru, dan Partai Persatuan 
Pembangunan sebesar 29,54%. Koalisi Bali Dwipa yang mengusung Suweta dalam 
konvensi calon gubernur sebelumnya pun pecah. Sebagian suaranya lari ke Koalisi 
Kebangkitan Bali, koalisi yang terbentuk dari 13 partai kecil yang mendukung 
Winasa. Ia pun bisa mendapat dukungan sebesar 16,37% suara. Dukungan terbesar 
datang dari Partai Demokrat, yaitu 5,53%. 
   
  Winasa sudah aman? 
   
  --selanjutnya baca di http://erhanana.wordpress.com
   

       

Kirim email ke