itulah di dunia perpolitikan, dunia yang cuman buat orang yang punya
nyali dan nafas panjang. ibarat mendaki puncak gunung, terancam
hembusan angin kencang, jurang dalam, hilangnya pijakan karena
tanjakan penuh pasir dan batu dan lainnya.

dalam dunia politik praktis, tak cuma nyali dannafas panjang, dasarnya
politikus memerlukan dua dukungan, massa dan uang. dalam bahasa
politik massa adalah bekal suara, nah untuk menggerak mesin politik
buat menjaring suara semuanya perlu modal, apalagi kalo bukan yang
real, tetap uang. mana mungkin ada barter antara kaos dengan segepok
kertas fotocopian ? 

punya massa dan uang pun tak cukup, juga perlu dukungan partai. jadi
bukan lagi cuman uang dan massa, sayangnya, dukungan partai ditengarai
sangat melibatkan uang juga. karena untuk pilkada sekarang ini aturan
masih menjerat para calon untuk bersandar pada dukungan partai bukan
pada dukungan real rakyat, disanalah sangat rawan dengan "jual beli"
dukungan partai. tidak percaya ? ingat kasus bakal calon bupati yang
ribut karena tidak terpilih sementara dia sudah menyetor sekian jumlah
uang buat satu partai didaerahnya.

di dunia politik praktis pun batasan antara kawan dan lawan setipis
rambut dibelah tujuh. semua begitu cepat berubah hanya karena sebuah
kepentingan. entah kepentingan sesaat atau kepentingan nanti, apa yang
terjadi dengan winasa ya seperti itu. kalo dulu dprd jembrana
menganggap winasa sebagai kawan, maka sekarang ya dianggap lawan. maka
tak heran, kalaupun ada, kuburan cacat setitikpun akan dibongkar
keluar oleh para lawan politiknya. bahkan kalo perlu bau kentut winasa
pun dibeberkan dimana-mana.

itu lah politik penuh liku, perjuangan dan keringat. namun jika semua
untuk senyata-nyatanya kepentingan rakyat banyak sebodoh-bodohnya
rakyat pasti akan memilih pemimpin terbaiknya. 

btw 1, kalo di kabupaten dengan pendapatan daerah kecil spt jembrana
itu bisa membuat biaya kesehatan menjadi murah, birokrasi sangat
efisien, biaya pendidikan terjangkau, kenapa di badung dan di gianyar
masih banyak terdapat keluarga miskin, anak putus sekolah, sekolah
rusak, rakyat miskin tak bisa berobat ?

btw 2, kalo winasa jadi gubernur apakah 5 bebas itu bakalan terwujud ?
menurut saya bisa terwujud, tapi akan memakan korban setidaknya bonus
pungutan pajak (diluar gaji) bagi pegawai disuatu kantor dinas akan
berkurang drastis dan laci meja pemakan amplop akan banyak kosong
melompong !

btw 3, sepertinya aku akan golput di pilkada kali ini, soale gak mood
nyoblos di pilkada. nyoblos lain mungkin saja.. hehehehe...


reply kok panjang gini ya ?


yos kebe
mosalaki.multiply.com


--- In [email protected], ratna hidayati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Sejak awal, perjuangan Winasa untuk menjadi Gubernur Bali periode
2008 – 2013 rasanya berat sekali. Pertama, susah sekali baginya dapat
rekomendasi menjadi calon gubernur dari PDIP, partai tempatnya
bernaung ketika itu. Rekomendasi DPP PDIP akhirnya jatuh ke tangan
Mangku Pastika, yang bukan kader partai. 
>    
>   Waktu itu, keputusan itu membuat masyarakat umum terheran-heran.
"Kader partai yang baik tapi kok nggak dipilih?" Seorang bapak-bapak
yang kutemui di Warung Mek Liong ngomel panjang-lebar gara-gara
keputusan yang dianggapnya nyeleneh itu. 
>    
>   Beberapa waktu kemudian, ketika aku bertemu dengan seorang kader
PDIP lainnya, aku bertanya, "Kenapa memilih Mangku Pastika, bukan
Winasa? Bukankah dia kader yang potensial? Banyak yang bertanya-tanya
mengenai itu." Jawabannya simpel. "Sesungguhnya, itu bagian strategi
dari partai. Winasa sesungguhnya lebih cocok jadi menteri. Dia hebat,
pintar. Sekarang tinggal dijalani aja. Siapa pun yang menang, toh
bagian dari PDIP," katanya diplomatis. Sesederhana itu? Rasanya tidak.
>    
>   Winasa memilih keluar dari PDIP setelah dia memutuskan diri tetap
maju dalam pencalonan pilkada Bali tahun ini. Setelah Partai Golkar
menetapkan kadernya sebagai calon gubernur, Winasa harus berjuang
habis-habisan mengumpulkan dukungan. Syarat 15% dukungan harus
dipenuhinya, karena jika tidak, dia tak bisa mencalonkan diri.
Dukungan PDIP sebesar 51,34%, suara Partai Golkar bergabung dengan
Partai Karya Peduli Bangsa, Partai Nasional Indonesia Marhaenisme,
Partai Perhimpunan Indonesia Baru, dan Partai Persatuan Pembangunan
sebesar 29,54%. Koalisi Bali Dwipa yang mengusung Suweta dalam
konvensi calon gubernur sebelumnya pun pecah. Sebagian suaranya lari
ke Koalisi Kebangkitan Bali, koalisi yang terbentuk dari 13 partai
kecil yang mendukung Winasa. Ia pun bisa mendapat dukungan sebesar
16,37% suara. Dukungan terbesar datang dari Partai Demokrat, yaitu 5,53%. 
>    
>   Winasa sudah aman? 
>    
>   --selanjutnya baca di http://erhanana.wordpress.com
>


Kirim email ke