http://imunisasihalal.wordpress.com/2008/04/15/review-buku-yang-orangtua-harus-tahu-tentang-vaksinasi-pada-anak/

Review Buku: Yang Orangtua Harus Tahu tentang Vaksinasi pada Anak
 December 18th 2007, on Kesehatan, Ulasan Buku
 Buku berjudul Yang Orangtua Harus Tahu tentang Vaksinasi pada Anak ini adalah 
saduran dari buku berjudul What Your Doctor May Not Tell You About Children’s 
Vaccinations karangan Stephanie Cave, M.D., F.A.A.F.P bersama Deborah Mitchell.
 Diterbitkan dengan ISBN 979-22-349-4 yang diterbitkan pertama kali oleh PT. 
Gramedia Pustaka Utama cetakan pertamanya pada tahun 2003.
 Buku yang sangat memukau saya karena menyajikan banyak informasi mengejutkan 
tentang vaksinasi yang tidak pernah ditemukan di media informasi apapun.
 Selama ini setiap informasi yang kita terima mengenai vaksinasi adalah suatu 
hal yang harus dilakukan dan memiliki dampak nol persen terhadap kesehatan 
manusia.
 Padahal sebagaimana tertulis dalam lembaran pertama buku ini disebutkan 
sebagai berikut, “Dalam hal vaksinasi anak, mencegah mungkin tidak lebih baik 
daripada menyembuhkan”.
 Ditutup dengan kalimat berikutnya, “Jangan ambil resiko untuk kesehatan anak 
Anda! Pelajari lebih lanjut tentang vaksinasi yang ada pada masa kini dengan… 
ORANG TUA HARUS TENTANG VAKSINASI ANAK”.
 Mengapa hal tersebut menjadi penting?
 Karena sebagai orang tua, tentunya kita mengharapkan hal terbaik yang dapat 
kita berikan kepada seluruh anak kita. Hal tersebut hanya dapat diwujudkan jika 
dan hanya jika kita memiliki informasi yang memadai mengenai apapun yang ingin 
kita persembahkan kepada mereka.
 Fakta-fakta mengejutkan tentang kandungan merkuri yang digunakan dalam 
sebagian besar vaksin anak saat ini baru salah satu contoh mengerikan tentang 
vaksin yang harus Anda ketahui.
 Berikut ini adalah beberapa hal yang mungkin tidak Anda ketahui tentang vaksin:
 1. Beberapa vaksin mengandung racun seperti air raksa (merkuri), almunium dan 
formalin
 2. Di tahun 1998, Pemerintah Perancis menghentikan program vaksinasi berbasis 
sekolah yang memberikan vaksin Hepatitis B kepada anak-anak usia sekolah karena 
kasus multiple-sklerosis telah dikaitkan dengan vaksin tersebut dan lebih dari 
600 kasus imunitas dan persyarafan telah dilaporkan.
 3. Beberapa vaksin dibuat menggunakan bahan yang berasal dari jaringan manusia 
dari janin yang digugurkan.
 4. Kebanyakan negara mewajibkan bahwa saat anak berusia 5 tahun, ia sudah 
harus menerima 33 dosis dari 10 vaksin.
 5. Para dokter hanya melaporkan kurang dari 10 persen kejadian buruk yang 
berkaitan dengan vaksinasi dan/atau sesudah vaksinasi.
 Selain itu salah satu isu keamanan yang menurut buku ini sering diabaikan 
adalah bahan-bahan tambahan yang terdapat dalam vaksin sebagai berikut:
 1. Alumunium
 Logam ini ditambahkan ke dalam vaksin dalam bentuk gel atau garam sebagai 
pendorong terbentuknya antibodi. Alumunium telah dikenal sebagai penyebab 
kejang, penyakit alzheimer, kerusakan otak dan dimensia (pikun). Logam ini 
biasanya digunakan pada vaksin-vaksin DPT, DaPT dan Hepatitis B.
 2. Benzetonium Khlorida
 Benzetonium adalah bahan pengawet dan belum dievaluasi keamanannya untuk 
dikonsumsi oleh manusia. Biasa digunakan sebagai campuran vaksin anthrax 
terutama diberikan kepada para personil militer.
 3. Etilen Glikol
 Biasa digunakan sebagai bahan utama produk antibeku dan digunakan sebagai 
pengawet vaksin DaPT, polio, Hib dan Hepatitis B.
 4. Formaldehid
 Bahan kimia yang terkenal sebagai zat karsinogenik (penyebab kanker) yang 
biasanya digunakan dalam proses pengawetan mayat, fungisida/insektisida, bahan 
peledak dan pewarna kain.
 Selain beracun, menurut Sir Graham S. Wilson pengarang buku The Hazards of 
Immunization formalin tidak mamadai sebagai pembunuh kuman sehingga maksud 
penggunaannya sebagai penonaktif kuman dalam vaksin menjadi tidak berfungsi 
dengan baik.
 Akibatnya adalah kuman yang seharusnya dilemahkan dalam vaksin tersebut malah 
menguat dan menginfeksi penggunanya.
 5. Gelatin
 Bahan yang dikenal sebagai alergen (bahan pemicu alergi) ini banyak ditemukan 
dalam vaksin cacar air atau MMR. Bagi kaum Muslim, gelatin menimbulkan isu 
tambahan karena biasanya bahan dasarnya berasal dari babi.
 6. Glutamat
 Bahan yang digunakan dalam vaksin sebagai penstabil terhadap panas, cahaya dan 
kondisi lingkungan lainnya. Bahan ini banyak dikenal sebagai penyebab reaksi 
buruk kesehatan dan ditemukan pada vaksin varicella.
 7. Neomisin
 Antibiotik ini digunakan untuk mencegah pertumbuhan kuman di dalam biakan 
vaksin. Neomisin menyebabkan reaksi alergi pada beberapa orang dan sering 
ditemukan dalam vaksin MMR dan polio.
 8. Fenol
 Bahan yang berbahan dasar tar batu bara yang biasanya digunakan dalam produksi 
bahan pewarna non makanan, pembasmi kuman, plastik, bahan pengawet dan 
germisida.
 Pada dosis tertentu, bahan ini sangat beracun dan lebih bersifat membahayakan 
daripada merangsang sistem kekebalan tubuh sehingga menjadi berlawanan dengan 
tujuan utama pembuatan vaksin.
 Fenol digunakan untuk pembuatan beberapa vaksin termasuk vaksin tifoid.
 9. Streptomisin
 Antibiotik ini dikenal menyebabkan reaksi alergi pada beberapa orang dan biasa 
ditemukan dalam vaksin polio.
 10. Timerosal/Merkuri
 Bahan yang sangat beracun yang selama beberapa puluh tahun digunakan pada 
hampir seluruh vaksin yang ada di pasaran. Padahal timerosal/merkuri adalah 
salah satu bahan kimia yang bertanggung jawab atas tragedi Minamata di Jepang 
yang menyebabkan lahirnya bayi-bayi yang cacat fisik dan mentalnya.
 Berikut ini adalah beberapa kerusakan yang disebabkan keracunan merkuri:
 1. Otak bayi masih mengalami perkembangan yang cepat dan merkuri bisa merusak 
sel otak secara menetap.
 2. Sistem kekebalan tubuh bayi masih belum berkembang secara penuh sehingga 
bayi tidak mempunyai kemampuan melawan serangan benda asing (bakteri, virus dan 
racun lingkungan) secara benar.
 3. Kemampuan tubuh bayi untuk membuang racun dari tubuhnya melalui hati belum 
berkembang sepenuhnya sehingga zat-zat berbahaya cenderung menetap di dalam 
tubuhnya seperti merkuri, formalin dan alumunium.
 4. Penghambat darah-otak (selaput yang berada di antara darah yang beredar di 
tubuh dengan otak yang berfungsi bahan-bahan berbahaya mencapai otak) belum 
mampu menghalangi racun yang bisa merusak otak.
 5. Gejala keracunan merkuri yang paling umum antara lain adalah:
 * Perubahan suasana hati dan kepribadian, termasuk mudah marah dan malu
 * Hilangnya sensasi dan masalah penglihatan serius
 * Ketulian dan kecenderungan kesulitan berkomunikasi karenanya
 * Kelemahan otot dan tidak adanya koordinasi tubuh yang baik
 * Hilangnya/lemahnya ingatan
 * Tremor/gemetaran
 Belum lagi fakta-fakta yang disajikan dalam buku ini yang mengkaitkan 
vaksinasi yang berbahaya dengan meningkatnya kasus-kasus autisme saat ini.
 Dimana kasus autisme ini ternyata memiliki kemiripan dengan gejala-gejala 
keracunan merkuri yang banyak digunakan dalam vaksin.
 Hal yang menarik lainnya untuk kita di Indonesia yang sedang gencar-gencarnya 
melakukan vaksinasi polio melalui mulut (oral/dimakan) adalah fakta bahwa sejak 
tahun 2000 Sentra Pengendalian Penyakit Amerika Serikat sudah menghentikan 
vaksin oral dan digantikan dengan suntikan.
 Mengapa? Karena vaksinasi polio oral terbukti menimbulkan sampai 10 kasus 
polio per tahun dan dituding menyebabkan gangguan serius pada sistem pencernaan 
terutama penyumbatan usus!
 Lantas mengapa informasi-informasi tersebut cenderung tidak pernah 
terpublikasikan secara luas?
 Alasannya tentu saja sederhana sekali: UANG.
 Bisnis produksi dan penjualan vaksin bernilai milyaran dollar Amerika Serikat 
per tahun! Selain itu banyak sekali bukti-bukti yang kemudian dibungkam 
menelusuri bahwa penyakit-penyakit saat ini seperti HIV/AIDS, DBD (demam 
berdarah), flu burung, dsb adalah senjata biologi yang sengaja dikembangkan 
yang kemudian dilepaskan ke komunitas sehingga mendorong kebutuhan akan obat 
dan vaksin penyakit-penyakit tersebut.
 Saya dan isteri pun akhirnya sepakat untuk tidak memvaksinasi puteri kami. Hal 
ini kami lakukan setelah berkonsultasi dengan banyak ahli kesehatan 
(kedokteran, kimia klinis, teknologi kesehatan, dsb).
 Apalagi ternyata teman-teman kami yang menjadi atau sedang kuliah menjadi 
dokter di Eropa secara terang-terangan menyatakan “vaksinasi adalah fiksi 
seperti cerita manusia mendarat di bulan..”

       

Kirim email ke