Mbak Amalia;
pengamatan saya terhadap anak saya, dia lebih peka terhadap lingkungan dan lebih bisa 
mengutarakan alasan-alasan atau lebih tepatnya lebih kritis. Contohnya dia lagi tidak 
mau makan, kami para orang tua dibiasakan untuk menanyakan apa alasan dia tidak mau 
makan, bukan langsung paksa dia makan, dan kita para orang tua diharuskan menghormati 
keputusan dia. Terus terang saya juga suka kewalahan menerapkan ajaran sekolah di 
rumah, apalagi saya dulu bukan sekolah di SNK (sekolah non konvesional). Jadi 
kadangkala saya berdiskusi dengan sekolahnya. Tapi jangan harap kita bisa memaksa 
sekolah untuk meningkatkan kemampuan matematika atau membaca sang anak, mereka tidak 
akan mau karena tidak sesuai dengan konsep mereka.
 
Kalau boleh disimpulkan, baik tidaknya tergantung dari sisi mana kita memandang, jika 
mau prestasi ya silahkan pilih SK, jika tidak terlalu ambisius untuk prestasi bisa 
memilih SNK.
 
Salam, Niken

Amalia Maya Fitri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mbak Niken,

Terima kasih sharingnya. Justru karena saya almamater dari sekolah
konvensional, (-SD, SMP, SMA saya selalu duduk maniez di bangku, mencatat
dan memperhatikan guru yang mengajar di depan kelas, jarang mengacungkan
jari untuk bertanya, di rumah "rajin" belajar sehingga secara akademis, saya
bisa dibanggakan oleh ortu ehm...ehm..:-P,
tapi saya tidak pernah punya kedekatan dengan guru2 saya diluar hubungan di
sekolah, walaupun guru2 hapal nama saya-)

Saya Tidak Begitu Ingin menyekolahkan Naila di Sekolah Konvensional. Tapi
seperti ibu/bapak Vincentia singgung dalam emailnya, sekolah yang sudah
mempunyai tradisi Prestasi itu justru Sekolah Konventional. Apa itu berarti
staf Pengajar SD Konvensional itu sudah bagus? (seperti pendapat Mamanya
Ais?)
Sementara sekarang yang banyak didiskusikan itu bukan hanya IQ, tapi EQ (dan
juga SQ). Lalu bagaimana ya, pengembangan EQ di sekolah2 Konvensional dengan
jumlah murid yang berpuluh2 dalam 1 kelas.?

Mamanya Naila+Reyhan



----- Original Message -----
From: niken dhamayanti 
To: 
Sent: Thursday, March 25, 2004 10:31 AM
Subject: Re: [balita-anda] SD Konvensional versus Non Konvensional


>
> Mbak Amalia;
>
> kebetulan anak saya bersekolah di sekolah non konvensional. Satu hal yang
saya pelajari di sini adalah bahwa kita dituntut mengerti kemampuan anak
secara individu. Jadi kita tidak bisa melihat hanya dari sisi nilai
pelajaran sang anak, tapi juga kita lihat dari kemampuan lain-lainnya.
Terkadang sang anak tidak mampu mencapai nilai pelajaran yang baik, tapi dia
memiliki kemampuan di seni, nah biasanya di sekolah non konvensional dia
akan digenjot di kemampuan seninya.
>
> Nah kalo saya baca email Mbak Amalia, tampaknya mbak masih berpikir ala
konvensional (maaf kalau salah), saya mengambil kesimpulan ini karena Mbak
berpikiran ah anak-anak yang sekolah di konvensional bisa masuk SMP atau SMA
favorit, dimana SMP dan SMA favorit ini biasanya menekankan pada nilai
sekolah. Jika Mbak mengharapkan sang anak masuk ke SMP atau SMA favorit,
agak kurang nyambung jika memasukkan anak ke sekolah non konvensional,
malahan mbak akan kecewa. Tidak jarang temen-temen sesama orang tua yang
marah-marah karena tidak sejalan dengan guru. Di sekolah konvensional tidak
ada PR ataupun ulangan, nah biasanya orangtua yang mengharapkan nantinya
sang anak masuk ke SMP favorit jadi ketakutan karena takut anaknya kurang
siap dalam hal nilai pelajaran.
>
>
> Jadi semua ini sebetulnya berpulang kepada orang tua juga, karena kacian
kan jika orang tua tidak inline dengan program sekolahan. Apakah kita siap
dengan sistem dimana sang anak tidak dinilai berdasarkan ulangan ?Kebanyakan
sekolah non konvensional kan tidak murah, jadi sayang jika tengah jalan tapi
kitanya kurang sreg.
>
> Salam, Niken
> ----- Original Message -----
> From: "Amalia Maya Fitri"
> To:
> Sent: Thursday, March 25, 2004 08:04 AM
> Subject: [balita-anda] SD Konvensional versus Non Konvensional
>
>
> Selamat pagi ibus dan bapaks
>
> Mohon sharingnya dari parents yang sudah punya anak2 di SD, pengalaman
> memilih SD.
> Saat ini begitu banyak SD Non Konvensional, yang mulai dengan metoda
active
> learning, KBK (kurikulum berbasis kompetensi), bilingual, full day dll.
> Sementara itu di sisi lain, masih ada SD Konvensional (terutama SD Negeri)
> yang masih menggunakan gaya lama. Tapi kebetulan di tempat saya (Bandung)
SD
> Negeri ini yang menjadi salah satu SD Favorit, dimana para ortu
> berlomba-lomba memasukan anaknya. Sampai2 saya dengar dalam satu kelas
> (kelas 1 SD) jumlah murid mencapai 35-40 orang. Dengan rasio 1 guru : 35
> murid seperti itu, bagaimana guru2 dapat mengenal kemampuan anak2
didiknya?
> Tetapi berdasarkan pengalaman, murid2 dari SD Negeri ini rata2 di jenjang
> berikutnya bisa masuk SMP Favorit, SMA Favorit dst,
>
> Sementara itu di sisi lain, ada suatu sekolah swasta yang baru berdiri
tahun
> ini menawarkan pendidikan dgn metoda active learning dengan rasio 1 guru :
> 10 murid. Dengan guru2 yang notabenen Sarjana UPI (masih muda2, hanya
> beberapa orang yang sepertinya sudah berpengalaman). Apabila membaca
program
> mereka, terus terang saya tertarik. Hanya yang menjadi keraguan saya,
karena
> sekolah ini betul2 baru berdiri tahun ini. Jadi apabila Naila (anak sulung
> saya) masuk ke SD ini, maka dia akan menjadi angkatan ke-1. Belum ada
kakak
> kelas.
>
> Jadi saya mohon sharing untuk parents yang mempunyai anak2 sekolah di SD
> Konvensional dan mereka yang anaknya sekolah di SD Non Konvensional. Plus
> minusnya.
>
> Mamanya Naila+Reyhan
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> >> Kirim bunga, buket balon atau cake, klik,http://www.indokado.com/
> >> Info balita, http://www.balita-anda.com
> >> Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
> Yahoo! Finance Tax Center - File online. File on time.


---------------------------------------------------------------------
>> Kirim bunga, buket balon atau cake, klik,http://www.indokado.com/
>> Info balita, http://www.balita-anda.com
>> Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]


---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Finance Tax Center - File online. File on time.

Kirim email ke