Dear parents, melanjutkan masukan dari Pak Hasbullah, kebetulan saya dapat
artikel dari keluargabahagia.com yg mengarah pada pembentukan kecerdasan emosi anak.
==============================================
Mengajarkan Sopan Santun Pada Anak
keluargabahagia.com. Kalau ada anak umur 2,5 tahun tiba-tiba berkata 'bego lu!'
pada Anda, bagaimana reaksi Anda? Reaksi spontan yang Anda perlihatkan antara lain,
bilang 'hus, tidak boleh!', atau 'siapa yang mengajari kamu ngomong begitu?' atau
sambil membelalakkan mata Anda menyentil sedikit ujung jarinya. Sesudah itu Anda akan
terheran-heran darimana anak bisa berbicara seperti itu. Anda mungkin akan dilanda
kepanikan, bagaimana kalau tiba-tiba dia berbicara kasar yang lain di depan orang lain
atau kerabat Anda yang lain? Aduh, bisa dicap yang tidak-tidak nantinya.
Carl Gustav Jung, seorang psikoanalis terkenal pernah mengatakan, 'kalau
orangtua ingin anak bertingkah laku baik, terlebih dahulu orangtua harus mengevaluasi
dirinya apakah memang sudah bisa bertingkah laku lebih baik?'. Berat sekali memang
tugas sebagai orangtua. Ada tuntutan untuk selalu bisa menjadi teladan bagi anak
karena anak akan selalu belajar tentang dunia ini dengan melihat tingkah laku dan
sikap dari orang terdekatnya.
Orangtua mana pun pasti ingin anaknya bisa bertingkah laku yang baik di depan
orang banyak, menghormati orang lebih tua, sadar akan hak dan kewajiban orang lain
yang bisa membatasi hak dan kewajibannya sendiri, serta peka terhadap orang lain.
Pendek kata anak bisa mengikuti norma dan nilai sosial yang berlaku. Sungguh bukan hal
yang mudah untuk diserap dan dipelajari anak, namun kita begitu ingin mereka tahu dan
bisa mengamalkan hal-hal baik tersebut. Mengapa anak harus mempelajari hal tersebut?
Letitia Baldrige, seorang ahli etiket yang merupakan staf ahli dari mantan first lady
Jacqueline Kennedy, mengatakan bahwa alasan bahwa kita (dan juga anak-anak) perlu
bertingkah laku yang baik dan bersopan santun, yaitu:
1. Diri kita akan merasa nyaman dan bahagia ketika kita bisa memperlihatkan
tingkah laku yang baik
2. Kita akan bisa hidup di tempat yang efisien dan tertib bila semua orang bisa
bertingkah laku baik dan bersopan santun
3. Kebaikan akan membuat lingkungan dan dunia kita lebih baik dan hangat.
Mengajarkan anak bersopan santun memang tidak terlalu mudah. Hal-hal yang
sifatnya abstrak seperti konsep kebaikan, sopan, santun, keadilan, menghormati orang
yang lebih tua, kasih sayang, dan sebagainya itu tidak dapat begitu saja dimengerti
oleh anak, terutama anak yang masih kecil atau batita. Penyebab utamanya adalah karena
perkembangan kognitif anak yang masih berpusat pada hal-hal yang kongkrit, mereka
belum bisa mencerna hal-hal yang sifatnya abstrak atau hal-hal yang tidak bisa mereka
lihat, rasa atau cium.
Namun bukan berarti karena anak belum mengerti hal-hal yang abstrak, maka
konsep-konsep di atas tidak diajarkan pada anak. Justru anak harus mulai diperkenalkan
dan diajarkan sejak dini tentang konsep-konsep tersebut. Cara mengajarkan anak tentang
hal ini pastinya berbeda dengan cara mengajar anak membaca, menulis atau berhitung.
Dan tentu saja dari hal yang sederhana dan mudah dimengerti anak.
Beberapa hal dasar yang perlu dikenalkan dan dipelajari anak adalah:
1. Bagaimana mengucapkan salam ketika bertemu dengan orang lain
2. Bagaimana mengucapkan terima kasih untuk sesuatu yang telah dilakukan orang
lain padanya
3. Menghormati orang yang lebih tua, seperti orangtua, kakek-nenek, guru di
sekolah, dan yang lainnya.
4. Ramah pada lingkungan, misalnya anak tahu bahwa tidak baik membuang sampah
sembarangan atau mencorat-coret sembarangan
5. Melatih anak untuk sadar akan kepentingan orang lain yang lebih membutuhkan,
misalnya memberikan tempat duduknya di kendaraan umum untuk nenek-nenek.
6. Bersopan santun di meja makan
7. Membantu orang lain yang sedang membutuhkan, seperti membantu beberapa
pekerjaan kecil di rumah ketika ayah / ibu meminta bantuan atau membantu ibu guru
membawa buku-bukunya
8. Melatih anak untuk berjiwa sportif, tidak main curang atau main belakang atau
mencari-cari kesalahan orang lain untuk menutupi kesalahan diri sendiri.
Sesederhana apapun hal yang kita ajarkan, anak selalu akan membutuhkan contoh
dari orangtua. Dan orangtua pun dituntut untuk selalu konsisten memperlihatkan tingkah
laku yang diharapkan muncul pada anak. Memang mudah mengatakan pada anak untuk
bersopan santun, tapi tidak mudah untuk mengingatkan diri kita sendiri untuk tetap
bisa bertingkah laku baik di depan orang lain dan di depan orang banyak. Coba kita
ingat-ingat situasi di mana kita harus terjebak macet yang parah atau kita tiba-tiba
harus mengerem mendadak ketika ada orang yang belok sembarangan. Apa reaksi spontan
kita? Mungkin anda akan mengatakan "sialan, jalan gak liat-liat", atau "bego, nyetir
kok gak pake otak" atau bisa saja "kurang ajar, orang begitu kok nyetir mobil", dan
lain sebagainya. Ketika kita mengeluarkan respon seperti itu sadarkan kalau anak yang
semobil dengan kita akan memperhatikan segala ucapan dan tindakan kita? Terkadang
tidak, dan itulah susahnya kita sebagai orangtua untuk mencontohkan tingkah laku yang
baik.
Mungkin ada baiknya jika kita terlanjur melakukan sesuatu yang berlawanan dengan
apa yang kita katakan pada anak, kita meminta maaf pada anak dan memberi pengertian
pada mereka mengapa kita melakukan hal tersebut. Dengan begitu anak akan tahu bahwa
orang dewasa pun terkadang melakukan kesalahan dan kesalahan itu tidak boleh terulang
atau ditiru oleh anak. Satu hal lain yang sering terlewatkan adalah ketika kita secara
tidak sengaja menyinggung atau membicarakan hal-hal buruk tentang kelompok etnis
tertentu. Misalnya 'dasar padang, pelit banget', atau 'cina sih, makanya dia bisa kaya
raya begitu' dan sebagainya. Prejudice atau prasangka buruk terhadap kelompok etnis
tertentu yang sering kita ucapkan awal mulanya juga karena kita waktu kecil sering
mendengar orangtua kita atau orang dewasa lain di sekitar kita mengatakan hal itu.
Lama-kelamaan prasangka itu semakin mendalam dalam otak kita dan akhirnya menjadi
bagian dari pemikiran kita. Dampaknya, bila kita tidak hati-hati, prejudice tersebut
bisa kita turunkan dan kita ajarkan pada anak kita, walau pun sebenarnya kita
melakukan hal itu tanpa sengaja.
Berkaitan dengan prasangka buruk di atas, kita pasti tidak ingin anak mempunyai
pikiran yang negatif tentang orang lain bukan? Nah, salah satu cara untuk menghentikan
berkembangnya pikiran yang negatif tentang orang lain adalah kita terlebih dahulu
harus merasa nyaman dan berpikiran positif terhadap diri kita sendiri. Mengajarkan
anak untuk selalu merasa seperti itu sebenarnya cukup mudah, antara lain dengan tidak
selalu membandingkan dia dengan anak lain, menerima segala kelebihan dan
kekurangannya, sering melibatkan anak dalam kegiatan di rumah, memberi kepercayaan
pada anak untuk bisa belajar dan melakukan apa yang dia sukai (tentu saja dengan
bimbingan dan arahan dari orangtua), serta bisa mendengarkan pendapat dan pemikiran
anak.
Secara garis besar, masalah sopan santun dan tingkah laku yang baik memang harus
dipelajari oleh anak karena masalah ini bukan hal yang terberi begitu saja. Namun, ada
satu hal yang memang ikut mendukung kemampuan anak untuk lebih bisa bertingkah laku
baik, yaitu faktor kecerdasan interpersonalnya. Yang dimaksud dengan kecerdasan
interpersonal disini adalah kemampuan untuk mengerti orang lain (tujuan, motivasi dan
niat orang lain), serta mampu untuk bekerja sama dengan orang lain. Kecerdasan
interpersonal ini memungkinkan kita untuk lebih peka terhadap orang lain, dan dengan
kepekaan itu akhirnya akan membantu kita untuk bisa berbuat baik terhadap orang lain.
Jadi, anak yang kecerdasan interpersonalnya lebih tinggi akan mampu untuk memahami
orang lain disekelilingnya dan mampu untuk bertingkah laku baik di depan orang lain.
----- Original Message -----
From: "Hasbullah Hariyanto" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, October 13, 2004 10:24 AM
Subject: RE: [balita-anda] terima kasih atas info Vaksin Flu dan saran dari pak ADMIN
> Mom's and Dad's,
>
> Kelihatannya di mailist ini kebanyakan ngebahas masalah penyakit yg
> menyerang Tubuh anak kita, Bagaimana kah dengan penyakit2 yg merusak
> moral anak kita, apakah ada di antara mom's and dad's yg punya kiat2 yg
> cukup efective utk menangkal penyakit2 moral dan krisis iman tsb. Yg
> dapat di terapkan sejak dari bayi,
>
> Thanks,