Mbak Eny,

Maksudnya tuh tes widal utk tes apakah kena tifus atau gak ya mbak ? Hmmm
kayaknya hampir gak mungkin deh mbak. Kan masih umur 5 bulan dan
kemungkinan terpapar salmonella typhosa minim. Biasanya sih akan kena ke
anak / org dewasa yg udah jajan sana sini :)

Buat informasi juga bahwa tes widal ini sebetulnya gak akurat loh utk
mengetahui apakah seseorg kena tifus atau gak. Tes utk deteksi tifus yg
tepat adalah Gal Culture (darah yg dibiakan dalam media empedu). Saya drop
artikel dari Prof Iwan Darmansjah utk bahan pemikiran kit abersama.

Maaf kalo gak berkenan.

Lulu
------------------
Widal Positif Belum Tentu Tifus

Wed Apr 25, 2001


Prof.Dr. Iwan Darmansjah, SpFK

Bila musim sedang berganti di Indonesia, terutama di kota-kota besar,
sering ditemukan penyakit tifus yang merupakan penyakit usus halus.
Penyebabnya beberapa tipe kuman Salmonella typhi.

Kuman tifus terutama dibawa oleh air dan makanan yang tercemar, karena
sumber air minum di Jakarta, umpamanya, kurang memenuhi syarat. Sayuran
dapat saja dicuci dengan air kali yang juga dipakai untuk penampungan
limbah. Kakus pun berakhir di got atau kali. Padahal kuman tifus berasal
dari kotoran manusia yang sedang sakit tifus. Karena kota-kota besar
merupakan kakus terbuka raksasa, maka kuman tifus pun berada dalam banyak
minuman dan makanan yang lolos oleh proses memasak.

Keadaan itu menyebabkan kenyataan : mungkin tidak ada orang di Jakarta
yang tidak pernah menelan kuman tifus ! Bila hanya sedikit kuman yang
terminum, biasanya orang tidak terkena tifus. Namun, kuman yang sedikit
demi sedikit masuk ke tubuh menimbulkan suatu reaksi imun yang dapat
dipantau dari darah; dikenal dengan reaksi Widal yang positif.

Seseorang di Indonesia yang mempunyai reaksi Widal positif, belum berarti
sakit tifus. Tapi bila reaksi Widal positif ini terjadi seumpama di Swiss,
dan orang itu tidak pernah makan di pinggir jalan Jakarta serta tidak
pernah diberi vaksin tifus, maka kemungkinan ia benar menderita tifus. Di
negara maju sistem pembuangan limbah disalurkan melalui pipa-pipa tertutup
sehingga tidak bercampur dengan kotoran manusia.

Dewasa ini pemeriksaan Widal di laboratorium umum dilakukan begitu
terdapat demam 1-3 hari. Bila reaksi Widal ditemukan positif, orang
menjadi gelisah. Kadang-kadang ia makan obat antibiotik sendiri atau
memperlihatkan hasil laboratorium itu kepada dokter. Sering terjadi,
dokter langsung memberikan obat tifus kepadanya.

Widal, seperti semua hasil laboratorium, harus diinterpretasikan dengan
bijak. Tanda-tanda klinis penderita harus lebih diutamakan daripada reaksi
Widal yang positif. Mengapa ? Karena hampir semua orang di Indonesia
mempunyai reaksi Widal positif tanpa sakit tifus.
Penderita tifus mulai demam rendah (subfebril) malam hari, hilang esoknya,
terulang lagi malamnya, menjadi makin hari makin tinggi. Mulainya malam
saja, kemudian siang juga. Tifus tidak pernah mulai dengan demam tinggi
pada hari pertama sampai ketiga. Bila demam terus berlanjut dan pada hari
ke 5 - 6 menjadi lebih tinggi, maka barulah tiba waktunya untuk memeriksa
Widal dan melakukan pembiakan kuman dari darah. Hasil pembiakan kuman
tifus yang positif merupakan bukti pasti adanya tifus. Sayangnya, hasil
kultur kuman ini baru diketahui sesudah satu minggu (diluar negeri dalam 2
- 3 hari, dan ini merupakan tantangan untuk laboratorium kita).

Angka reaksi Widal sendiri tidak ada artinya, karena naiknya suhu yang
khas, perlahan, sampai tercapai suhu tinggi sesudah 5 - 6 hari merupakan
simtom yang lebih penting untuk menduga adanya tifus. Demam tinggi yang
terjadi sampai 4 - 5 hari, tanpa tanda-tanda infeksi kuman yang jelas,
lebih dari 90% kemungkinannya ialah infeksi oleh virus, yang tidak perlu
diberi antibiotika.

Berbeda dengan diet zaman dulu, kini tifus tidak memerlukan diet bubur
yang ketat; nasi agak lembek sudah cukup. Daging, telur, ikan, ayam, tahu,
tempe, sedikit sayur, dan buah boleh saja. Namun, yang pedas dan keras
seperti kacang sebaiknya dihindarkan. Yang lebih penting ialah istirahat
(tidur terlentang) sepanjang hari, sampai panas turun selama beberapa
hari.

Bila dirawat di rumah ia masih diperbolehkan berdiri dan jalan perlahan
hanya satu kali sehari untuk buang hajat. Kencing dilakukan di tempat
tidur saja. Suhu perlu dicatat empat kali sehari untuk ditunjukkan pada
dokter yang merawat. Namun, penderita dilarang pergi ke tempat praktek
dokter. Banyak pergerakan menyebabkan suhu naik lagi, karena kuman
terlepas dari tempat perkembangannya di usus masuk ke dalam darah.
Pergerakan banyak juga menimbulkan risiko usus pecah pada minggu ke 3 - 4.
Dengan perawatan ini dan obat antitifus yang khusus, demam baru akan turun
dalam 4 - 8 hari. Bila panas sudah turun dalam 1 - 2 hari setelah
pengobatan, kemungkinan bukan tifus yang diderita.

INTISARI, Mei 2000


---------------------------------------------------------------------

DUKUNG situs Balita-Anda.Com sebagai Situs Terbaik Wanita & Anak 2004-2005 versi 
Majalah Komputer Aktif, dengan ketik: POLL ST WAN 2
ke nomor 8811, selama 16 Okt sd. 30 Nov. 2004.
Raih sebuah ponsel SonyEricsson K500i, dua buah ponsel Nokia 3100 dan 10 paket 
merchandise komputerakt!f bagi para peserta polling yang beruntung. Satu nomor ponsel 
hanya berhak memberikan satu suara dukungan untuk tiap kategorinya. Polling ini 
berlaku untuk pelanggan Telkomsel, Indosat maupun Excelcom dengan tarif Rp 1.500. 

---------------------------------------------------------------------
>> Kirim bunga, buket balon atau cake, klik,http://www.indokado.com/
>> Info balita, http://www.balita-anda.com
>> Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke