Fachriza wrote:
> Dear Rekan-rekan netter ...
>
> Barangkali ada rekan-rekan netter yang dapat menginformasikan kepada saya
> mengenai Autisme,
> Dokter-dokter atau rumah sakit yang menangani anak penderita autisme dan
> info lainnya ...
>
> terimakasih
> Fachriza
>
> Name: winmail.dat
> winmail.dat Type: unspecified type (application/octet-stream)
> Encoding: x-uuencode
>
> Kunjungi: http://www.balita-anda.indoglobal.com
> "Untuk mereka yang mendambakan anak balitanya tumbuh sehat & cerdas"
>
> -=== FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3 ===-
> Etika berinternet, kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
> Berhenti berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
> EMERGENCY ONLY! Jika kesulitan unsubscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>From MAILER-DAEMON Tue Nov 30 16:21:57 1999
Date: Tue, 30 Nov 1999 16:21:57 +0700 (JAVT)
From: Mail System Internal Data <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: DON'T DELETE THIS MESSAGE -- FOLDER INTERNAL DATA
X-IMAP: 0943953717 0000000000
Status: RO
This text is part of the internal format of your mail folder, and is not
a real message. It is created automatically by the mail system software.
If deleted, important folder data will be lost, and it will be re-created
with the data reset to initial values.
>From [EMAIL PROTECTED] Mon Nov 29 15:21:12 1999 +0700
Status:
X-Status:
X-Keywords:
Received: from arjuna.iptn.co.id (IDENT:0@arjuna [167.205.206.3])
by semar.iptn.co.id (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id PAA26458
for <basuki_r@[10.1.0.5]>; Mon, 29 Nov 1999 15:21:11 +0700
Received: from fluke.client.org (h-209-202-46-062.fast.escape.ca [209.202.46.62])
by arjuna.iptn.co.id (8.9.1a/8.9.3) with ESMTP id QAA05396
for <[EMAIL PROTECTED]>; Mon, 29 Nov 1999 16:12:28 +0700
Received: from server1.client.org (unknown [216.151.200.73])
by fluke.client.org (Postfix) with SMTP id 4190727E8D
for <[EMAIL PROTECTED]>; Mon, 29 Nov 1999 03:12:14 -0600 (CST)
Received: (qmail 25285 invoked by uid 616); 29 Nov 1999 08:42:35 -0000
Mailing-List: hubungi/contact [EMAIL PROTECTED]
Precedence: bulk
Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
X-Provider: http://www.indoglobal.com
X-Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
Delivered-To: mailing list [EMAIL PROTECTED]
Received: (qmail 25270 invoked from network); 29 Nov 1999 08:42:34 -0000
Message-ID: <[EMAIL PROTECTED]>
From: Khoerul Anwar <[EMAIL PROTECTED]>
To: "'[EMAIL PROTECTED]'" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Mon, 29 Nov 1999 15:38:00 +0700
MIME-Version: 1.0
X-Mailer: Internet Mail Service (5.0.1460.8)
Content-Type: text/plain
Subject: [balita-anda] PENGALAMAN ORANGTUA MEMENANGKAN ANAK AUTIS ( 3 )
Sender: [EMAIL PROTECTED]
Sumber : Kompas (22/11 1999)
PENGALAMAN ORANGTUA MEMENANGKAN ANAK AUTIS
MENGHADAPI situasi yang menimpa anak kesayangan kurang sempurna, tidak
jarang membuat orangtua terutama seorang ibu tidak tahu harus berbuat apa.
Apalagi, jika pengetahuan dan informasi mengenai hal itu tidak dimiliki.
Begitu pula yang terjadi pada orangtua yang memiliki anak autis seperti yang
akhir-akhir ini banyak ditemui. Tidak jarang, anak penderita tak terdeteksi
dini sehingga penanggulangan tidak bisa sedini mungkin.
Walau demikian, kasih sayang dan upaya menanggulangi dengan baik untuk
mengurangi beban penderitaan seorang anak harus dilakukan. Tidak cukup hanya
dengan meratapi dan berlarut-larut dalam kesedihan.
Perjuangan dan pengorbanan orangtua, harus diberikan. Bagi anak penderita
autisme setidaknya tersedia terapi yang bisa memberi kemajuan untuk bisa
hidup normal. Penyembuhan total memang masih perlu waktu panjang, karena
penelitian ahli belum menemukan cara yang tepat menuntaskan penyakit
autisme.
Perjuangan dan pengorbanan orangtua seperti yang diharapkan, bisa disimak
dari upaya Ny Debbie R Sianturi, SE Ak yang tekun berupaya memulihkan
kondisi anaknya yang menyandang autisme. Setidaknya, Joshua anak keduanya
yang kini berusia tiga tahun dua bulan, mengalami banyak kemajuan.
Hasil yang dicapai hingga kini, memang belum menunjukkan Joshua bebas dari
autis yang disandang. Tetapi, kemajuan yang dialami ternyata membuat kedua
orangtuanya percaya bahwa anak kesayangannya itu akan berhasil dalam
hidupnya.
PENDERITAAN Joshua dan kedua orangtuanya sama sekali tidak diketahui ketika
ia lahir di rumah sakit bersalin St. Margaret's Private Hospital, Sydney,
Australia. Bahkan, dengan usia kandungan yang cukup umur dan berat 4,1 kg,
membahagiakan kedua orangtua-nya yang mengalami masalah kekurangsuburan
sebagai suami istri.
Joshua Ephraim lahir sebagai anak kedua lima tahun kemudian setelah kakaknya
Naomi. Kekurangsuburan pasangan suami istri itu menyebabkan mereka harus
berobat ke beberapa dokter ahli di Jakarta maupun di Sydney untuk memperoleh
keturunan, terutama mendapatkan anak pertama dan kedua.
Riwayat kehamilan kedua Ny Debbie Sianturi, berjalan sehat dan baik,
walaupun ada sedikit masalah keluarga yang membuatnya stres saat kandungan
berusia 7-8 bulan. Dalam proses kelahiran, karena posisi bayi yang sulit,
Joshua lahir melalui proses vakum yang cukup berat mengakibatkan kepalanya
memanjang sesudah kelahiran. Bentuk kepala baru dapat kembali agak normal
tiga jam sesudah kelahiran.
Akibatnya, Joshua sering sekali menangis selama dua tahun pertama sesudah
kelahiran. Dia menangis terus menerus kalau dilepas dari gendongan atau
pelukan. Ia juga tidak mau tidur tanpa dipeluk erat dalam satu bulan pertama
sesudah kelahirannya.
Menurut dokter anak di St. Margaret's Hospital, hal ini sangat mungkin
terjadi akibat post-trauma kelahiran dengan vakum yang cukup berat, yang
mengakibatkan dia merasa sakit di bagian kepalanya. Namun tidak ada dokter
yang memberi jawaban pasti hubungan antara proses vakum yang berat dengan
kelainan autism yang disandang Joshua.
Baru pada usia satu tahun sembilan bulan, Joshua dibawa ke psikiater anak,
Dr Melly Budhiman, Sp. KJ, karena keterlambatan dan kemunduran kemampuannya
berbicara dan tingkat keacuhan pada lingkungan yang, serta kontak mata yang
kurang bila diajak berkomunikasi.
Kunjungi: http://www.balita-anda.indoglobal.com
"Untuk mereka yang mendambakan anak balitanya tumbuh sehat & cerdas"
-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Etika berinternet, kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Berhenti berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
EMERGENCY ONLY! Jika kesulitan unsubscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
Panduan Menulis Email yang Efektif http://hhh.indoglobal.com/email/
http://pencarian-informasi.or.id/ - Solusi Pencarian Informasi di Internet
>From [EMAIL PROTECTED] Mon Nov 29 15:07:08 1999 +0700
Status:
X-Status:
X-Keywords:
Received: from arjuna.iptn.co.id (IDENT:0@arjuna [167.205.206.3])
by semar.iptn.co.id (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id PAA44084
for <basuki_r@[10.1.0.5]>; Mon, 29 Nov 1999 15:07:07 +0700
Received: from fluke.client.org (h-209-202-46-062.fast.escape.ca [209.202.46.62])
by arjuna.iptn.co.id (8.9.1a/8.9.3) with ESMTP id PAA03872
for <[EMAIL PROTECTED]>; Mon, 29 Nov 1999 15:58:48 +0700
Received: from server1.client.org (unknown [216.151.200.73])
by fluke.client.org (Postfix) with SMTP id 2BB8527E3D
for <[EMAIL PROTECTED]>; Mon, 29 Nov 1999 02:58:09 -0600 (CST)
Received: (qmail 23838 invoked by uid 616); 29 Nov 1999 08:38:46 -0000
Mailing-List: hubungi/contact [EMAIL PROTECTED]
Precedence: bulk
Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
X-Provider: http://www.indoglobal.com
X-Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
Delivered-To: mailing list [EMAIL PROTECTED]
Received: (qmail 23819 invoked from network); 29 Nov 1999 08:38:44 -0000
Message-ID: <[EMAIL PROTECTED]>
From: Khoerul Anwar <[EMAIL PROTECTED]>
To: "'[EMAIL PROTECTED]'" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Mon, 29 Nov 1999 15:34:07 +0700
MIME-Version: 1.0
X-Mailer: Internet Mail Service (5.0.1460.8)
Content-Type: text/plain;
charset="iso-8859-1"
Subject: [balita-anda] AUTISME ( 1 )
Sender: [EMAIL PROTECTED]
Sumber : SWARA (5/8 1999)
CIRI-CIRI & PENANGANAN AUTISME
KETIKA putranya, Ikhsan (8) lahir pada tahun 1991, tak ada kelainan
menyertainya. Baru pada perkembangan selanjutnya, bayi itu memerlukan
pengawasan ketat karena ia alergi terhadap makanan, cuaca dan obat, sehingga
harus menjalani terapi dan diet ketat. Ketika Ikhsan berusia sekitar 18
bulan, ibunya, Dyah Puspita, merasa ada sesuatu yang berbeda dengan
putranya. Perkembangan bicara dan bahasanya tidak menunjukkan kemajuan
berarti, dan ia tampak asyik dengan dirinya sendiri.
Saya merasa ada tameng yang membatasi Ikhsan dengan dunia kami. Saat ia
berusia sekitar 18-24 bulan, meski tidak rewel tetapi ia cenderung sulit
dipegang baik secara fisik maupun psikis. Ia juga tak mau dipeluk, kontak
matanya terbatas, pandangannya kerap menerawang, sering memasukkan benda ke
dalam mulut dan ia tampak tertekan di tengah keramaian," cerita Dyah pada
Seminar Autisme dan Penanganannya di Jakarta, Sabtu (31/7).
Mengetahui anak laki-lakinya berbeda dengan anak-anak pada umumnya, Dyah pun
berusaha mencari tahu apa penyebab dan bagaimana mengatasinya. "Saya sampai
berhenti bekerja, karena saya ingin dia tahu bahwa saya adalah ibunya. Saya
ingin ia sadar bahwa dunia luar sangat menarik, bahwa dunianya amat sepi dan
tak bermakna. Saya sampai memberhentikan semua orang yang bekerja di rumah,
agar ia hanya pergi kepada saya bila memerlukan sesuatu," kata Dyah yang
juga psikolog itu.
Ikhsan tak sendirian, penyandang autisme infantil dalam 10 tahun terakhir
ini, menurut perkiraan dr Melly Budhiman, psikiater anak dan Ketua Yayasan
Autisme Indonesia, meningkat luar biasa. "Bila 10 tahun yang lalu jumlah
penyandang autisme diperkirakan satu per 5.000 anak, sekarang meningkat
menjadi satu per 500 anak. Sayangnya, jumlah profesional yang mendalami
bidang autisme tak sebanding dengan peningkatan jumlah penyandangnya. Ini
menyebabkan sering terjadi kerancuan dalam menegakkan diagnosis."
Di sisi lain, bila seorang anak sejak dini sudah diketahui menyandang
autisme, penanganan dan terapinya bisa lebih terarah, sehingga kemungkinan
si anak untuk bisa hidup "normal" pun jauh lebih besar. Berdasarkan
pengalaman pribadinya, Dyah mengatakan," Intervensi dini amat penting,
bahkan dapat menjadi penentu masa depan anak. Meski literatur menjelaskan
bahwa autis adalah masalah seumur hidup, tetapi dengan tata laksana dan
intervensi dini yang berkelanjutan, tanpa terputus, dapat membuat si anak
tak tampak lagi perilaku dan ciri autisnya."
Pembicara lainnya, dr Rudy Sutadi, Direktur Program Klinik Intervensi Dini
Autisme - Jakarta Medical Center, mengutip hasil penelitian yang dilakukan
Lovaas tahun 1987 di AS yang menggunakan metode modifikasi perilaku 40 jam
seminggu selama dua tahun terhadap 19 anak autis berusia di bawah empat
tahun dengan IQ rata-rata 60, ternyata 47 persen berhasil mencapai fungsi
kognitif normal.
"Saat ini anak-anak tersebut sudah berusia belasan tahun, 47 persen tampak
normal. Penampilan mereka tidak dapat dibedakan dengan sebayanya, baik dari
sudut keterampilan sosial maupun akademik. Sementara 42 persen memperoleh
kemajuan pada berbagai bidang, tetapi tidak cukup untuk mengikuti secara
penuh di kelas reguler, dan hanya 11 persen yang ditempatkan di kelas untuk
anak retardasi mental."
Gangguan perkembangan
MENURUT Melly, austisme adalah gangguan perkembangan yang mencakup bidang
komunikasi, interaksi dan perilaku yang luas dan berat. Gejala autis mulai
tampak pada anak sebelum mencapai usia tiga tahun. Penyebabnya adalah
gangguan pada perkembangan susunan saraf pusat yang mengakibatkan
terganggunya fungsi otak. "Autisme bisa terjadi pada siapa saja, tak ada
perbedaan status sosial-ekonomi, pendidikan, golongan etnik maupun bangsa.
Perbandingan antara pria dan perempuan penyandang autisme diperkirakan 3-4
banding satu," ujarnya.
Gejala penyandang autisme antara lain bayi cenderung menghindari kontak
mata, dengan ibunya sekalipun; senang melihat mainan yang berputar dan
digantung di atas tempat tidur; terlambat bicara dan bahasanya tak
dimengerti orang lain; tak mau menengok bila dipanggil namanya; cenderung
tak mempunyai rasa empati; suka tertawa-menangis-marah tanpa sebab yang
nyata; dan merasa tidak nyaman bila memakai pakaian dari bahan yang kasar.
Gangguan perilaku pada anak autis bisa berlebihan dan kekurangan. Perilaku
berlebihan misalnya hiperaktif, melompat-lompat, lari ke sana-sini tak
terarah, berputar-putar atau mengulang-ulang gerakan tertentu. Sedang
perilaku kekurangan seperti bengong, tatapan matanya kosong, bermain dengan
monoton, kurang variatif dan biasanya dilakukan secara berulang-ulang.
Gejala-gejala tersebut tidak harus ada pada setiap anak autis. Pada anak
autis yang berat mungkin semua gejala itu ada padanya, tetapi pada
penyandang autisme ringan biasanya hanya terdapat sebagian saja dari
gejala-gejala tersebut.
Mengenai faktor penyebabnya, lebih lanjut Melly menyatakan, ini disebabkan
adanya kelainan pada struktur sel otak, yaitu gangguan pertumbuhan sel otak
pada saat kehamilan trimester pertama. "Pada saat pembentukan sel-sel otak
tersebut berbagai hal bisa terjadi sehingga menghambat pertumbuhan sel otak,
misalnya karena virus (rubella, tokso, herpes), jamur (candida), oksigenasi
(perdarahan), dan keracunan dari makanan."
Akibatnya, fungsi otak jadi terganggu, terutama fungsi yang mengendalikan
pemikiran, pemahaman, komunikasi dan interaksi. Oleh karena itulah,
penyandang autisme biasanya sulit berinteraksi dan berkomunikasi dengan
orang lain. "Secara medis kelainan yang terdapat di otak penyandang autis
itu tidak bisa disembuhkan," kata Melly.
Harapan bagi anak autis
BERBICARA mengenai Tatalaksana Perilaku atau Applied Behavior Analysis (ABA)
atau metode Lovaas, Rudy mengatakan, terapi yang di Indonesia mulai
dipraktikkan sejak tahun 1997 ini, memberi harapan bagi anak autis, karena
dapat menyebabkan anak autis mampu mencapai tingkatan yang sebelumnya
merupakan hal mustahil. "Mereka dapat mengikuti sekolah reguler, berkembang
dan hidup mandiri di masyarakat, tanpa menampakkan gejala sisa autis," kata
Rudy yang juga Wakil Ketua Yayasan Autisme Indonesia.
ABA atau Tatalaksana Perilaku adalah ilmu yang menggunakan perubahan
perilaku untuk membantu individu membangun kemampuan dengan ukuran
nilai-nilai yang ada di masyarakat. "Terapi ini menggunakan prinsip
belajar-mengajar untuk mengajarkan sesuatu yang kurang atau tidak dimiliki
anak autis. Misalnya anak diajar berperhatian, meniru suara, menggunakan
kata-kata, bagaimana bermain. Hal yang secara alami bisa dilakukan anak-anak
biasa, tetapi tidak dimiliki anak penyandang autisme," tutur Rudy.
Semua keterampilan yang ingin diajarkan kepada penyandang autis diberikan
secara berulang-ulang dengan memberi imbalan bila anak memberi respons yang
baik. Pada awalnya imbalan bisa berbentuk konkret seperti mainan, makanan
atau minuman. Tetapi sedikit demi sedikit imbalan atas keberhasilan anak itu
diganti dengan imbalan sosial, misalnya pujian, pelukan dan senyuman.
Dalam terapi ini terdapat lebih dari 500 tugas individual yang perlu
diajarkan kepada anak autis. Pengajarannya berlangsung sekitar dua tahun,
secara intensif selama 40 jam per minggu. "Anak-anak yang maju pesat,
umumnya dapat masuk kelas prasekolah dalam 6-12 bulan setelah diterapi.
Tetapi hasil terbaik umumnya pada mereka yang terapinya sudah dimulai
sebelum usia tiga tahun."
Untuk keberhasilan yang optimal, Rudy menyarankan agar selain tenaga terapis
yang berpengalaman dan sabar, orangtua serta anggota keluarga lainnya
diharapkan juga terlibat dalam proses ini. "Mereka bisa menggunakan waktu
luang di luar terapi untuk mengembangkan kemampuan anak, misalnya dengan
mengajaknya ke taman, pergi ke mal, mengunjungi keluarga dan sebagainya.
Hal-hal yang biasanya dianggap kecil ini, bisa mambantu anak autis untuk
mengembangkan kemampuan sosialnya. Selain itu, dengan cara ini seluruh hari
anak menjadi bagian dari proses terapi, dan orangtua pun menjadi bagian
integral dari terapi itu."
Selain terapi Tatalaksana Perilaku, menurut Melly, ada beberapa terapi lain
yang umumnya diterapkan pada penyandang autisme. Namun apa pun terapi yang
dipilih orangtua, keberhasilannya antara lain tergantung dari berat
ringannya gejala, umur si anak (umur yang paling baik untuk terapi antara
dua sampai lima tahun, di mana sel otak masih bisa dirangsang membentuk
cabang-cabang baru), kecerdasan anak, kemampuan bicara dan berbahasanya.
Salah satu terapi bagi anak autis adalah terapi medikamentosa, misalnya
dengan memberi beberapa vitamin terutama dari jenis vitamin B (B6, B15)
dalam dosis tinggi. Terapi megavitamin ini pada sebagian anak berefek baik.
Ditambahkannya, meski belum ada obat yang bisa menyembuhkan autisme
infantil, tetapi dapat dipakai obat untuk menghilangkan gejala yang tak
diinginkan seperti hiperaktif, agresif, menyakiti diri sendiri dan epilepsi.
"Obat memang tidak menyembuhkan, tetapi hanya mengurangi gejala autismenya
dan menimbulkan perilaku yang lebih terarah," tutur Melly.
Namun diingatkannya, bahwa penyandang autisme itu biasanya unik, artinya
setiap individu mempunyai gejala dan memerlukan penanganan masing-masing.
"Vitamin atau obat yang bagus untuk penyandang autisme yang satu, belum
tentu bagus pula hasilnya bagi penyandang autisme lainnya," Melly
menambahkan. cp
Kunjungi: http://www.balita-anda.indoglobal.com
"Untuk mereka yang mendambakan anak balitanya tumbuh sehat & cerdas"
-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Etika berinternet, kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Berhenti berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
EMERGENCY ONLY! Jika kesulitan unsubscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
Panduan Menulis Email yang Efektif http://hhh.indoglobal.com/email/
http://pencarian-informasi.or.id/ - Solusi Pencarian Informasi di Internet
>From [EMAIL PROTECTED] Mon Nov 29 15:16:52 1999 +0700
Status:
X-Status:
X-Keywords:
Received: from arjuna.iptn.co.id (IDENT:0@arjuna [167.205.206.3])
by semar.iptn.co.id (8.9.3/8.9.3) with ESMTP id PAA49068
for <basuki_r@[10.1.0.5]>; Mon, 29 Nov 1999 15:16:50 +0700
Received: from fluke.client.org (h-209-202-46-062.fast.escape.ca [209.202.46.62])
by arjuna.iptn.co.id (8.9.1a/8.9.3) with ESMTP id QAA04888
for <[EMAIL PROTECTED]>; Mon, 29 Nov 1999 16:08:24 +0700
Received: from server1.client.org (unknown [216.151.200.73])
by fluke.client.org (Postfix) with SMTP id EDFEC27E7B
for <[EMAIL PROTECTED]>; Mon, 29 Nov 1999 03:07:16 -0600 (CST)
Received: (qmail 24801 invoked by uid 616); 29 Nov 1999 08:41:21 -0000
Mailing-List: hubungi/contact [EMAIL PROTECTED]
Precedence: bulk
Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
X-Provider: http://www.indoglobal.com
X-Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
Delivered-To: mailing list [EMAIL PROTECTED]
Received: (qmail 24780 invoked from network); 29 Nov 1999 08:41:19 -0000
Message-ID: <[EMAIL PROTECTED]>
From: Khoerul Anwar <[EMAIL PROTECTED]>
To: "'[EMAIL PROTECTED]'" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Mon, 29 Nov 1999 15:36:46 +0700
MIME-Version: 1.0
X-Mailer: Internet Mail Service (5.0.1460.8)
Content-Type: text/plain;
charset="iso-8859-1"
Subject: [balita-anda] Harapan "Sembuh" bagi Penyandang Autis ( 2 )
Sender: [EMAIL PROTECTED]
Sumber : Kompas (18/7 1999)
AUTISME : Harapan "Sembuh" bagi Penyandang Autis
AUTISME tergolong sebagai penyakit yang kompleks dan berat, dan karena itu
dianggap tak bisa disembuhkan. Kondisi autis pada seseorang akan menetap.
Perkembangan otaknya dalam berperilaku (behaviour) akan terhenti pada saat
gejala itu pertama kali muncul. Bila tidak mendapat penanganan yang benar,
baik melalui terapi perilaku maupun pengobatan, jangan harap ia akan
"sembuh" dengan sendirinya.
"Saya sulit melukiskan perasaan saya ketika saya dan istri saya menyadari
ada kelainan pada putri kami, Patricia," tutur Harry Sugianto (37), warga
Solo. "Ketika itu dia baru berumur 18 bulan. Ia mulai menunjukkan gejala
tidak mau merespons panggilan mamanya. Tatapan matanya selalu menghindar,
dan seterusnya. Setelah membaca berbagai informasi, wah, ketahuan anak saya
termasuk autis."
Ia lalu berusaha memeriksakan ke dokter anak, ke psikiater, dan sebagainya.
Tetapi tak ada perkembangan yang berarti. Upaya lewat paranormal pun
dilakukan, namun hasilnya nol. Ia mendengar tentang klinik terapi autisme di
Semarang, cabang dari Surabaya.
Harry kemudian mengirim anaknya untuk mengikuti terapi pelatihan di klinik
Yayasan Agca Cabang Semarang. Ia harus melajo (ulang-alik) Solo-Semarang
setiap hari. "Yah, demi anak, apa pun kami lakukan. Tetapi lama-kelamaan
terasa capek, begitu pula bagi anak kami," tuturnya.
Dalam waktu 1,5 bulan, Patricia mengalami perkembangan cukup berarti.
Setelah berhenti mengikuti terapi di Semarang, Harry tergugah untuk
mengumpulkan orangtua yang senasib di sekitar Kota Solo. Ia berhasil
merangkul sebanyak 12 orangtua yang anaknya autis. Lalu mereka bersama-sama
mendirikan klinik autis Nathanisa yang merupakan cabang Yayasan Agca Centre.
Metode Lovaas
Dr Handoyo MPH, pendiri Yayasan Agca Centre, menjelaskan terapi perilaku
yang diterapkan di kliniknya menggunakan metode Lovaas (O Ivar Lovaas PhD).
Handoyo yang putra bungsunya, Agil (kini 5 tahun) mengidap autisme, terpacu
untuk melakukan berbagai upaya penyembuhan bagi anaknya. Agil sempat
diupayakan di Yayasan Autisma Asa Jakarta, lalu di Laboratorium
Tumbuh-Kembang RS Kandang Menjuangan Jakarta.
Setelah membaca berbagai literatur dan metode mengenai autisme, ia
memutuskan melatih sendiri putranya dengan metode Lovaas, karena terbukti
efektif. Metode ini menuntut ketelatenan dan kesabaran terapis (pelatih).
Sistemnya one on one, bahkan untuk terapi pertama dibutuhkan tiga pelatih
untuk satu pasien. Selain itu diperlukan alat-alat peraga khusus yang harus
diciptakan dan dibuat sendiri.
Tahapan pertama pelatihan meliputi latihan kepatuhan serta kontak mata.
Kemudian disusul melatih inisiatif, kemampuan bahasa (kognitif) atau
berbicara. Lalu latihan kemampuan ekpresif, latihan kemampuan yang disebut
preakademik seperti menyangkut konsep warna, bentuk, angka, waktu. Dan
terakhir melatih kemampuan bercerita (memory recalling).
Tidak ada ukuran, berapa lama seorang anak autis harus menjalani terapi
perilaku, mengingat perbedaan kondisi masing-masing. "Terapi terhadap
penyandang autisme bisa dikatakan seumur hidup," tuturnya.
Seorang anak autis yang mengikuti terapi itu di Surabaya sekarang bisa
bersekolah di Taman Kanak-kanak (TK) untuk anak biasa. Tetapi ia harus tetap
didampingi oleh orangtuanya, atau sistem shadowing. Begitupun di waktu
senggang, ia harus menjalani terapi termasuk oleh orangtuanya.
Istilah "sembuh" bagi seorang autis adalah bila ia sudah mandiri, bisa
melakukan sesuatu (pekerjaan) sendiri. Pada kondisi autisme tertentu, bila
"tembok" (gangguan) di otak berhasil digempur, ia akan berlaku seperti orang
normal. Silakan heran, bila ada seorang penyandang autis berhasil meraih
gelar doktor (PhD) di UCLA, Amerika Serikat!
Obat secretin
Dr Rudy Sutadi DSA menginformasikan, dewasa ini tengah diteliti oleh para
ahli di AS tentang pengobatan secretin bagi pengidap autisme. Percobaan pada
seorang anak autis, Parker Beck (3,5) tahun 1997 menunjukkan, suntikan
secretin membuahkan hasil yang amat mengesankan.
Secretin adalah hormon yang dikeluarkan oleh usus halus sebagai respons
terhadap makanan. Reseptor secretin juga terdapat pada hipokampus yaitu
bagian otak yang berhubungan dengan memori dan belajar. Namun belum ada
kesimpulan tentang peran secretin di otak; apakah berperan pada fungsi
belajar, bicara, atau kognitif.
Sejauh ini belum ada kepastian tentang efektivitas pemberian secretin
terhadap penyandang autisme. Dalam beberapa kasus, pemberian secretin punya
efek langsung pada sistem saraf pusat. Namun 30 persen penderita autis yang
mendapat secretin memberikan respons negatif. Mereka menjadi hiperaktif dan
agresif. Padahal harga obat secretin mencapai 200 - 300 dollar AS per sekali
suntik. (asa)
Albert Einstein pun "Autis"
SIAPA yang menyangka, banyak tokoh-tokoh besar yang masa kecilnya
diidentifikasi mengidap autisme. Sebut saja nama fisikawan besar Albert
Einstein, juga perupa jenius dan akbar Leonardo da Vinci serta Michelangelo.
Tetapi gejala autisme pada tokoh-tokoh dunia itu tak lagi terlihat pada masa
dewasa. Mereka bahkan menjelma menjadi orang-orang istimewa pada zamannya.
Jangan keliru persepsi, "autisme" bukanlah kondisi membanggakan, tetapi
justru sebaliknya. Seorang autis berarti abnormal, karena ia mengalami
gangguan perkembangan pervasif pada aspek bahasa, kognitif, sosial, dan
fungsi adaptif.
Bila anak yang normal pada usia 18 bulan sudah bisa mengucapkan sepatah-dua
patah kata dan merangkainya, anak autis tidak mampu. Oleh karena itu
orangtua harus waspada, bila anaknya sampai usia 2,5 tahun belum bisa
bicara. Maklum, usia di bawah tiga tahun merupakan "usia emas" bagi seorang
anak untuk menandai apakah ia autis atau tidak.
Umumnya, penyandang autis memperlihatkan perilaku yang tidak wajar dibanding
anak-anak lain. Anak autis terkesan tidak acuh, menyendiri, individual,
pendiam. Mereka umumnya tak mampu bereaksi terhadap sesuatu dalam
lingkungannya. Bahkan mereka tak bisa berkomunikasi secara paling sederhana
sekalipun, seperti "kontak mata" dengan orangtuanya, orang yang paling dekat
secara emosional.
Sebagian mereka bahkan tak punya memori, tak bisa mengingat apa yang telah
terjadi, atau yang dia lakukan sebelumnya. Anak-anak autis hidup dalam
dunianya sendiri. Mereka umumnya melakukan gerakan yang sama diulang-ulang,
hingga berjam-jam. Atau memperlakukan suatu barang-misalnya mainan
mobil-mobilan-tidak pada fungsi yang lazim.
***
AUTISME mendapat bahasan secara mendalam dalam Simposium Autisme Masa Anak
di Kota Solo, pekan lalu (12/7), yang diadakan dalam pertemuan ilmiah Ikatan
Dokter Ahli Jiwa Indonesia (IDAJI). Tiga pembicara adalah dr Ika Widyawati
SpKJA dari Bagian Psikiatri FK-UI Jakarta, dr Rudy Sutadi DSA Wakil Ketua
Yayasan Autisma Indonesia, dan Dra Dyah Puspita SPsi, psikolog yang anak
lelakinya mengidap autisme.
Menurut dr Ika, fenomena autisme relatif baru bagi masyarakat kita.
Sayangnya, masih sedikit informasi yang tersebar di masyarakat, padahal
populasi penderita autisme diperkirakan amat banyak.
Tak ada angka populasi jumlah penderita autisme di Indonesia, mengingat
lemahnya sistem pendataan di sini. Tetapi prevalensi autisme di dunia
terakhir mencapai 15 sampai 20 per 10.000 kelahiran, atau 0,15 - 0,2 persen.
Ini meningkat tajam dibanding 10 tahun lalu yang hanya dua sampai empat per
10.000 kelahiran. Bila merujuk data di atas, di Indonesia akan lahir 6.900
anak penyandang autisme per tahun.
Itu mungkin bisa jadi gambaran serius kondisi autisme di masyarakat, bila
orangtua tidak waspada. Harus diingat, secara empiris terbukti autisme tidak
pandang bulu. Kaya atau miskin, terpelajar atau tidak, semuanya bisa saja
terkena autisme. Dan bila tidak secara dini diatasi, kondisi autis itu akan
menetap.
Dr Handoyo MPH, mantan Direktur RSU Pare (Kediri) yang kini mendirikan
Yayasan Agca di Surabaya-yang bergerak dalam klinik pelatihan autisme-bahkan
menyebutkan bahwa penyandang autisme yang tidak mendapat penanganan secara
dini akan menjadi permanen.
"Banyak orangtua tidak tahu anaknya mengidap autisme. Dan bila dibiarkan
berlarut akan makin parah, atau menjadi gila autis seperti yang acap kita
lihat di jalanan. Itu karena kondisi perkembangan otaknya terhenti, stagnan.
Bahkan banyak di antara orangtua yang terpaksa memasung anaknya sendiri
karena disangka gila, padahal mengidap autisme," papar Handoyo yang anak
bungsunya juga autis.
***
DOKTER Ika menjelaskan, autisme adalah kondisi otak yang secara struktural
tidak lengkap, atau sebagian sel otaknya tidak berkembang sempurna, ataupun
sel-sel otak mengalami kerusakan pada masa perkembangannya. Melalui
pemeriksaan dengan MRI (Magnetic Resonance Imaging) pada penyandang autisme,
sekitar 30-50 persen mempunyai kelainan pada serebelum (otak kecil).
Penelitian dalam bidang neurologis dan genetika menemukan kerusakan yang
khas pada sistem limbik (pusat emosi) yaitu bagian otak yang disebut
hipokampus yang berhubungan dengan fungsi belajar dan daya ingat, serta
amigdala yang mengendalikan fungsi emosi dan agresi. "Penyandang autis
umumnya tak bisa mengendalikan emosinya. Mereka acap kali agresif, atau
sebaliknya pasif seolah tak punya emosi," katanya.
Dr Rudy Sutadi menyebutkan, kelainan neurobiologis pada otak disebabkan oleh
banyak faktor. Beberapa teori menyebutkan tentang pengaruh obat-obatan
tertentu, atau karena benturan pada kandungan. Saat ini belum bisa
dipastikan gen mana yang berhubungan dengan autisme. Kemungkinan hal ini
melibatkan beberapa gen secara kompleks. "Autisme terbukti bukan kelainan
mental. Autisme bukan karena buruknya pengasuhan orangtua, atau faktor
psikologis pada masa perkembangan anak," tambah Rudy.
Orang sering salah mengira bahwa autisme identik dengan retardasi mental
atau idiot. Memang pengidap autisme kadang menunjukkan retardasi mental
(75-80 persen), atau kelemahan pada fungsi saraf motorik yang ditunjukkan
pada kelemahan otot-otot tertentu. Oleh karena itu, prognosa tentang
kelainan tersebut amat penting untuk menentukan langkah-langkah
penanganannya.
Dr Ika menyebutkan, selain banyak orangtua yang tidak memahami gejala
autisme pada anaknya sendiri, kalangan profesional-yakni para dokter, dokter
anak, bahkan psikiater-pun banyak yang belum mengerti tentang autisme.
Mereka biasanya memberikan prognosa bahwa anak (yang autis) itu hanya
mengalami kelambatan dalam perkembangan bicara. Kadang kala mereka, bahkan,
disamakan dengan penyandang retardasi mental. Anak autis pun lantas
dimasukkan di sekolah luar biasa (SLB) yang khusus melatih bicara (speech
therapy). Tentu saja tidak pas. (asa)
Kunjungi: http://www.balita-anda.indoglobal.com
"Untuk mereka yang mendambakan anak balitanya tumbuh sehat & cerdas"
-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Etika berinternet, kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Berhenti berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
EMERGENCY ONLY! Jika kesulitan unsubscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
Panduan Menulis Email yang Efektif http://hhh.indoglobal.com/email/
http://pencarian-informasi.or.id/ - Solusi Pencarian Informasi di Internet
Kunjungi: http://www.balita-anda.indoglobal.com
"Untuk mereka yang mendambakan anak balitanya tumbuh sehat & cerdas"
-=== FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3 ===-
Etika berinternet, kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Berhenti berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
EMERGENCY ONLY! Jika kesulitan unsubscribe, email: [EMAIL PROTECTED]