Cacingan Menurunkan Kecerdasan
FYI!!!
Selasa, 04 Jul 2000 17:24:22 WIB
pdpersi, Jakarta - Bila anak Anda sering menderita demam, muntah, lekas lelah,
kurang darah dan pucat --patut dicurigai-- mungkin anak Anda menderita cacingan. Jika
dugaan itu benar, hasil pemeriksaan tinja anak Anda ternyata positif telur cacing, tak
ada alasan lain, kecuali segera mengatasinya dengan pemberian obat cacing. Pasalnya,
cacingan dapat mengganggu pertumbuhan anak dan menurunkan kecerdasan.
Guru besar Parasitologi UI, Prof. Dr. S. Alisah N. Abidin mengungkapkan hal itu
pada seminar Pendidikan dan Kesehatan yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Kualitas
Jasmani Departemen Pendikdikan Nasional (Depdiknas) bekerjasama dengan Kantor Wilayah
Depdiknas DKI Jakarta, Selasa (4/7), di Jakarta.
Cacingan, memang seringkali diderita anak-anak, terutama balita. Tak heran,
arena bermain anak adalah tanah, yang nota bene menjadi "sarang" cacing. Menurut Prof
Dr S. Alisah N. Abidin dari bagian Parasitologi FKUI, cacingan disebabkan oleh
sekelompok cacing usus yang ditularkan melalui tanah.
Cacing-cacing yang ditularkan melalui tanah itu, kata Sang Guru Besar
Parasitologi itu, tidak hanya terdiri dari satu jenis saja. Yang paling banyak
diderita anak-anak adalah cacingan yang disebabkan oleh Cacing Gelang (Ascaris
Lumbricoides), Cacing Cambuk (Trichuris trchiura), Cacing Tambang (Necator americanus
dan Ancylostoma duodenale).
"Di dalam tubuh anak, cacing-cacing itu tumbuh dari zat-zat yang dicerna di
dalam usus hospes, sehingga menimbulkan gangguan gizi. Nah, gizi yang terganggu, tentu
saja menurunkan kecerdasan. Karena perkembangan otak terutama dibentuk oleh gizi yang
baik," papar Alisah.
Waspadai Gejalanya
Mengingat dampak yang ditimbulkan cacingan cukup "meresahkan", para orang tua,
termasuk guru di sekolah, sebaiknya mewaspadai gejala cacingan. Alisah menuturkan,
gejala klinik yang paling sering diderita anak yang cacingan, antara lain mual dan
mulas, diare, demam, muntah, perut kembung, anemia, Hb menurun, lekas lelah,
berkunang-kunang, sesak napas, rasa berdebar, sembab dan kulit pucat.
Gejala klinik tersebut, dibuktikan oleh hasil penelitian di bagian bedah RSCM.
Menurut Alisah, berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap 40 penderita Askariasis
anak yang dirawat di bagian bedah RSCM, rata-rata penderita menunjukkan gejala klinik
demam (25 penderita), muntah (40), perut kembung (38), perioritas lokal (2),
perioritas umum (3), obstipasi (37), masa di abdomen (35) dan pendarahan per anum (1).
Kendati cacingan dapat menunrunkan kecerdasan anak, sayangnya, sebagian besar
anak di Jakarta menderita cacingan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Jakarta,
pada anak balita di daerah kumuh (penelitian tahun 1986) diketahui prevalensi
penderita Ascaris sebesar 73,9 persen, Trichuris 69,6 persen, dan Cacing Tambang nol
persen.
Di daerah pinggiran (1986) ditemukan prevalensi penderita Ascaris 73,2 persen,
Trichuris 60,9 persen, dan Cacing Tambang 17,4 persen. Sedangkan pada daerah perkotaan
(1996), prevalensi penderita Ascaris 66,67 persen, Tricuris 61,12 persen dan nol
persen untuk prevalensi penderita Cacing Tambang.
Penelitian yang dilakukan Yayasan Kusuma Buana pada anak Sekolah Dasar di
Jakarta, juga menemukan, di Jakarta Pusat (penelitian tahun 1979) prevalensi penderita
Ascaris 73,9 persen, Trichuris 63,4 persen, dan Cacing Tambang 4,0 persen. Di wilayah
penelitian Jakarta Timur (1996) prevalensi penderita Ascaris 60,1 persen, Trichuris
21,5 persen, dan Cacing Tambang 0,6 persen. Di Jakarta Utara (1996), prevalensi
penderita Ascaris 59,96 persen, Trichuris 79,64 persen. Sedangkan di Jakarta Pusat
(pada penelitian tahun 1999) prevalensi penderita Ascaris 17,6 persen dan Trichuris
12,3 persen.
Lisda Yulianti H dan Ratna Yuniawati