-------- Original Message --------
Subject: RE: [Bandung] Gempa lagi (fwd)
Date: Wed, 12 Jul 2000 11:02:48 +0700 (JAVT)
From: Dhiwan Renaldi H <[EMAIL PROTECTED]>
To: meidy haka <[EMAIL PROTECTED]>
CC: KBE-SE-ERDC -- Alhamdhi <[EMAIL PROTECTED]>,Amirudin Basary
<[EMAIL PROTECTED]>,Bambang Supriyadi <[EMAIL PROTECTED]>,Basuki Rakhmat
<[EMAIL PROTECTED]>,Dhiwan Renaldi Herawan <[EMAIL PROTECTED]>,Djoko Trisantoso
<[EMAIL PROTECTED]>,Hadi Nugraha <[EMAIL PROTECTED]>, Heri Purwanto
<[EMAIL PROTECTED]>,Maman Kasrianda <[EMAIL PROTECTED]>, Mulayana
<[EMAIL PROTECTED]>,Mursid M <[EMAIL PROTECTED]>, Purwadi Endrobroto
<[EMAIL PROTECTED]>,Rakhmat S <[EMAIL PROTECTED]>,Roy Sapta Putra Rasyid
<[EMAIL PROTECTED]>,Setyadi Sembriatno <[EMAIL PROTECTED]>,Subagyo Indra Atmadji
<[EMAIL PROTECTED]>,Sulistyo Nugroho <[EMAIL PROTECTED]>, Warsito
<[EMAIL PROTECTED]>


---------- Forwarded message ----------
Date: Tue, 11 Jul 2000 19:42:33 -0700
From: m ridwan kamil <[EMAIL PROTECTED]>
Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [Bandung] Gempa lagi

Salam,

Ada tips dari teman saya Reza Sasanto ttg menyikapi Gempa. Mudah2an bermanfaat

Emil
--------------------

Reza Sasanto wrote:
Dear all, 

     Saya ingin sedikit membahas  gempa, bangunan tinggi
    dan perilaku masyarakat. 

    Sangat menarik jika mengamati perilaku masyarakat pada saat
    gempa bumi terjadi di Jakarta.

    Masyarakat yg bekerja dan tinggal di bangunan
    tinggi berlomba-lomba turun ke lantai dasar dan berusaha
    sesegera mungkin keluar dari gedung/apartemen. 

    Pertanyaannya, apakah perilaku demikian tepat? 

    Saya yakin hampir semua arsitek, building constructor, dll
    tidak ada yg pernah memberi pengetahuan praktis kepada
    clientnya atas perilaku darurat yg harus dilakukan pada
    saat terjadi bencana semacam gempa bumi. 

    Perilaku terstruktur yg sudah menjadi bagian dari budaya
    bisa dilihat pada masyarakat Jepang.  Pada saat gempa bumi
    terjadi beberapa bulan yg lalu (pd saat jam kantor), hampir
    seluruh pekerja kantor lokal di sepanjang bangunan Sudirman
    Thamrin turun dan keluar bangunan dan tidak berani masuk ke
    gedung untuk beberapa saat. 

    Apa yg dilakukan oleh expatriat Jepang?  

    Pada saat gempa, mereka dengan cepat lari ke bawah meja.
    Tidak ada satupun yg lari keluar bangunan.  Kalau persoalan
    takut mati dan sebagainya saya pikir sama saja dengan orang
    Indonesia.  Tapi perilaku terhadap gempa bumi sangat berbeda.

    Karena sering diguncang gempa bumi, di Jepang, sejak kecil
    (dari sekolah dasar), masyarakat sudah dididik untuk
    melakukan perilaku yg 'paling aman'.  Dan 'drill' di kelas
    misalnya, dilakukan secara terus menerus secara rutin. 

    Berebut keluar bangunan dan berada di luar bangunan ternyata
    mempunyai resiko yg paling tinggi dibanding berada di dalam
    ruangan (bagaimana di Indonesia, kelihatannya belum ada
    penelitian). 

    Berebutan keluar; mempunyai resiko terinjak-injak dan
    membuat ketidakstabilan bangunan bertambah.  Keluar 
bangunan
    mempunyai resiko terkena jatuhan kaca/material bangunan lain
    yg lepas, maupun robohan bangunan itu sendiri. 

    Berada di dalam bangunan pun sebenarnya tidak aman. 
Kejatuhan
    lemari, plafon yg lepas, maupun tertimpa elemen struktur 
lainnya. 

    Kita bisa belajar dari 'safety procedure' perilaku orang
    Jepang pada saat terjadinya gempa bumi : 

    Jika berada di dalam bangunan:  tetap berada di dalam
    bangunan, masuk ke kolong meja (bukan meja gambar atau 
meja
    kaca).  Kalau tidak ada meja, lari ke bawah kusen pintu.  Di
    bawah meja, jika meja bergerak, pegang kaki meja.  

    Jika berada di luar bangunan: berusaha mencari lapangan atau
    menjauhi bangunan. 

    Saya tidak tahu apakah 'safety procedure' orang Jepang cocok
    diterapkan di Indonesia (bila rekan-rekan ada
    yg lebih tahu, mohon dishare disini).  Saya pikir ini bukan
    sekedar persoalan 'sudah takdir' atau lainnya, tapi kesiapan atas
    bencana/keadaan darurat demi keselematan dan keamanan
    bersama. 

    Tampaknya pendidikan popular (yg mudah dimengerti) oleh
    masyarakat mengenai keamanan bangunan dan perilaku yg 
sesuai
    dengan segala situasi darurat perlu segera dirumuskan dan
    di-didik-kan ke publik oleh para profesional yg bekerja di
    bidang perancangan dan konstruksi maupun masyarakat lain
    pendidik dan profesional lainnya.

    Demikian juga pada level perusahaan.  Walaupun sudah banyak
    perusahaan yg memiliki 'standard procedure' untuk 'emergency
    plan', masih banyak juga yg belum punya dan tidak peduli.
    
    Tidak ada salahnya kita mulai mempopulerkan tindakan darurat
    yg benar mulai dari lingkungan terdekat (keluarga, rekan
    kerja, dst) karena bencana alam tak pernah bisa diduga.  

salam,
Reza Sasanto

Homepage:
http://members.xoom.com/ridwan_kamil

------------------------------------------------------------------------
LOW RATE, NO WAIT!
Get a NextCard Visa, in 30 seconds!  Get rates
as low as 2.9% Intro or 9.9% Fixed APR and no hidden fees.
http://click.egroups.com/1/6632/7/_/625/_/963369997/
------------------------------------------------------------------------

>> www.jajak.com >> Pilih jawabannya dan rebut hadiahnya <<
>> Belanja Info & Keperluan Balita? Klik, http://www.balitanet.or.id
>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]













Kirim email ke