Saya sangat setuju dengan hal yang dijelaskan di bawah mengenai safety procedure untuk 
menghadapi gempa, dan saya rasa gempa di manapun tetap mempunyai sifat yang sama 
sehingga tentunya prosedur untuk menghadapinya pun sama walaupun mungkin detailnya 
saja yang berbeda tergantung dari lokasi, serta situasi dan kondisi.
Saya mendapatkan info bahwa ada jaminan dari ahli gempa bahwa pada fisrt shock 
kerusakan yang terjadi tidak terlalu besar sehingga kita yang berada di gedung 
bertingkat lebih aman untuk tinggal di dalam gedung dan berlindung di bawah meja yang 
cukup kuat untuk menahan jatuhan benda dari atas.
Namun hal yang penting untuk kita ketahui adalah kapan waktu datang second dan next 
shock karena biasanya pada shock yang kedua dan selanjutnya ini walaupun gempanya 
lebih kecil tapi karena bangunannya sudah labil maka bangunan akan hancur.
Jadi untuk lebih baiknya bagi para karyawan yang berkantor di tempat tinggi dapat 
menunjuk salah seorang atau lebih untuk menjadi warden pada keadaan darurat baik gempa 
atau kebakaran, agar bisa mengkordinir tindakan apa yang harus dilakukan pada keadaan 
darurat.
Namun yang lebih penting lagi kita berdo'a mudah-mudahan semua bencana dijauhkan dari 
kita semua. Amin

Wassalam
Wahyu

> -----Original Message-----
> From: basuki rahmat [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: July/Thursday/2000 1:24 AM
> To:   [EMAIL PROTECTED]
> Subject:      [balita-anda] [Fwd: RE: [Bandung] Gempa lagi (fwd)]
> 
> 
> 
> -------- Original Message --------
> Subject: RE: [Bandung] Gempa lagi (fwd)
> Date: Wed, 12 Jul 2000 11:02:48 +0700 (JAVT)
> From: Dhiwan Renaldi H <[EMAIL PROTECTED]>
> To: meidy haka <[EMAIL PROTECTED]>
> CC: KBE-SE-ERDC -- Alhamdhi <[EMAIL PROTECTED]>,Amirudin Basary
> <[EMAIL PROTECTED]>,Bambang Supriyadi <[EMAIL PROTECTED]>,Basuki Rakhmat
> <[EMAIL PROTECTED]>,Dhiwan Renaldi Herawan <[EMAIL PROTECTED]>,Djoko Trisantoso
> <[EMAIL PROTECTED]>,Hadi Nugraha <[EMAIL PROTECTED]>, Heri Purwanto
> <[EMAIL PROTECTED]>,Maman Kasrianda <[EMAIL PROTECTED]>, Mulayana
> <[EMAIL PROTECTED]>,Mursid M <[EMAIL PROTECTED]>, Purwadi Endrobroto
> <[EMAIL PROTECTED]>,Rakhmat S <[EMAIL PROTECTED]>,Roy Sapta Putra Rasyid
> <[EMAIL PROTECTED]>,Setyadi Sembriatno <[EMAIL PROTECTED]>,Subagyo Indra Atmadji
> <[EMAIL PROTECTED]>,Sulistyo Nugroho <[EMAIL PROTECTED]>, Warsito
> <[EMAIL PROTECTED]>
> 
> 
> ---------- Forwarded message ----------
> Date: Tue, 11 Jul 2000 19:42:33 -0700
> From: m ridwan kamil <[EMAIL PROTECTED]>
> Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: RE: [Bandung] Gempa lagi
> 
> Salam,
> 
> Ada tips dari teman saya Reza Sasanto ttg menyikapi Gempa. Mudah2an bermanfaat
> 
> Emil
> --------------------
> 
> Reza Sasanto wrote:
> Dear all, 
> 
>      Saya ingin sedikit membahas  gempa, bangunan tinggi
>     dan perilaku masyarakat. 
> 
>     Sangat menarik jika mengamati perilaku masyarakat pada saat
>     gempa bumi terjadi di Jakarta.
> 
>     Masyarakat yg bekerja dan tinggal di bangunan
>     tinggi berlomba-lomba turun ke lantai dasar dan berusaha
>     sesegera mungkin keluar dari gedung/apartemen. 
> 
>     Pertanyaannya, apakah perilaku demikian tepat? 
> 
>     Saya yakin hampir semua arsitek, building constructor, dll
>     tidak ada yg pernah memberi pengetahuan praktis kepada
>     clientnya atas perilaku darurat yg harus dilakukan pada
>     saat terjadi bencana semacam gempa bumi. 
> 
>     Perilaku terstruktur yg sudah menjadi bagian dari budaya
>     bisa dilihat pada masyarakat Jepang.  Pada saat gempa bumi
>     terjadi beberapa bulan yg lalu (pd saat jam kantor), hampir
>     seluruh pekerja kantor lokal di sepanjang bangunan Sudirman
>     Thamrin turun dan keluar bangunan dan tidak berani masuk ke
>     gedung untuk beberapa saat. 
> 
>     Apa yg dilakukan oleh expatriat Jepang?  
> 
>     Pada saat gempa, mereka dengan cepat lari ke bawah meja.> 
>     Tidak ada satupun yg lari keluar bangunan.  Kalau persoalan
>     takut mati dan sebagainya saya pikir sama saja dengan orang
>     Indonesia.  Tapi perilaku terhadap gempa bumi sangat berbeda.
> 
>     Karena sering diguncang gempa bumi, di Jepang, sejak kecil
>     (dari sekolah dasar), masyarakat sudah dididik untuk
>     melakukan perilaku yg 'paling aman'.  Dan 'drill' di kelas
>     misalnya, dilakukan secara terus menerus secara rutin. 
> 
>     Berebut keluar bangunan dan berada di luar bangunan ternyata
>     mempunyai resiko yg paling tinggi dibanding berada di dalam
>     ruangan (bagaimana di Indonesia, kelihatannya belum ada
>     penelitian). 
> 
>     Berebutan keluar; mempunyai resiko terinjak-injak dan
>     membuat ketidakstabilan bangunan bertambah.  Keluar 
> bangunan
>     mempunyai resiko terkena jatuhan kaca/material bangunan lain
>     yg lepas, maupun robohan bangunan itu sendiri. 
> 
>     Berada di dalam bangunan pun sebenarnya tidak aman. 
> Kejatuhan
>     lemari, plafon yg lepas, maupun tertimpa elemen struktur 
> lainnya. 
> 
>     Kita bisa belajar dari 'safety procedure' perilaku orang
>     Jepang pada saat terjadinya gempa bumi : 
> 
>     Jika berada di dalam bangunan:  tetap berada di dalam
>     bangunan, masuk ke kolong meja (bukan meja gambar atau 
> meja
>     kaca).  Kalau tidak ada meja, lari ke bawah kusen pintu.  Di
>     bawah meja, jika meja bergerak, pegang kaki meja.  
> 
>     Jika berada di luar bangunan: berusaha mencari lapangan atau
>     menjauhi bangunan. 
> 
>     Saya tidak tahu apakah 'safety procedure' orang Jepang cocok
>     diterapkan di Indonesia (bila rekan-rekan ada
>     yg lebih tahu, mohon dishare disini).  Saya pikir ini bukan
>     sekedar persoalan 'sudah takdir' atau lainnya, tapi kesiapan atas
>     bencana/keadaan darurat demi keselematan dan keamanan
>     bersama. 
> 
>     Tampaknya pendidikan popular (yg mudah dimengerti) oleh
>     masyarakat mengenai keamanan bangunan dan perilaku yg 
> sesuai
>     dengan segala situasi darurat perlu segera dirumuskan dan
>     di-didik-kan ke publik oleh para profesional yg bekerja di
>     bidang perancangan dan konstruksi maupun masyarakat lain
>     pendidik dan profesional lainnya.
> 
>     Demikian juga pada level perusahaan.  Walaupun sudah banyak
>     perusahaan yg memiliki 'standard procedure' untuk 'emergency
>     plan', masih banyak juga yg belum punya dan tidak peduli.
>     
>     Tidak ada salahnya kita mulai mempopulerkan tindakan darurat
>     yg benar mulai dari lingkungan terdekat (keluarga, rekan
>     kerja, dst) karena bencana alam tak pernah bisa diduga.  
> 
> salam,
> Reza Sasanto
> 
> Homepage:
> http://members.xoom.com/ridwan_kamil
> 
> ------------------------------------------------------------------------
> LOW RATE, NO WAIT!
> Get a NextCard Visa, in 30 seconds!  Get rates
> as low as 2.9% Intro or 9.9% Fixed APR and no hidden fees.
> http://click.egroups.com/1/6632/7/_/625/_/963369997/
> ------------------------------------------------------------------------
> 
> >> www.jajak.com >> Pilih jawabannya dan rebut hadiahnya <<
> >> Belanja Info & Keperluan Balita? Klik, http://www.balitanet.or.id
> >> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
> Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
> Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
EOM 

NOTICE - This message contains information intended only for the use of the addressee 
named above.  It may also be confidential and/or privileged.  If you are not the 
intended recipient of this message you are hereby notified that you must not 
disseminate, copy or take any action in reliance on it.  If you have received this 
message in error please notify [EMAIL PROTECTED]

>> www.jajak.com >> Pilih jawabannya dan rebut hadiahnya <<
>> Kirim bunga ke-20 kota di Indonesia? Klik, http://www.indokado.com
>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]















Kirim email ke