Apa Itu Spina Bifida?
Pernahkah Anda melihat bayi yang lahir dengan sumsum tulang belakang dan
pembungkusnya nampak menonjol? Cacat pada bayi seperti ini disebut spina bifida.
Spina bifida adalah suatu keadaan tidak terbentuknya tulang belakang dan pembungkusnya
(meningen) terpapar. Ini merupakan cacat yang diakibatkan oleh gabungan faktor-faktor
turunan dan lingkungan.
Ada dua jenis spina bifida, yaitu spina bifida okulta dan spina bifida kistika.
Anak-anak yang menderita spina bifida okulta memiliki celah kecil di dalam tulang
belakang mereka, kebanyakan pada punggung bawah. Cacat ini jarang menimbulkan masalah.
Beberapa anak mungkin memiliki seonggok rambut, bercak berpigmen atau benjolan lemak
pada kulit yang menutupi cacat tulang belakang tersebut.
Operasi kecil biasanya dapat membuat kulit kelihatan normal. Dalam sejumlah kecil
kasus, sumsum tulang belakang (medulla spinalis) yang terletak di sebelah dalam
memiliki struktur abnormal yang dapat menimbulkan masalah dalam pengendalian tungkai
dan kandung kemih si anak.
Anak yang menderita spina bifida kistika memiliki celah (cacat) yang lebih luas di
dalam tulang belangnya, dan sumsum tulang belakang terlibat. Angka anak yang menderita
spina bifida jenis kedua ini jauh lebih sedikit, kira-kira hanya 1 di antara 200 bayi
yang dilahirkan dengan spina bifida. Namun bila seorang wanita mempunyai satu anak
demikian, kemungkinan mendapatkan lainnya naik menjadi 1 di dalam 20 anak.
Bila hanya selaput sumsum tulang belakang yang menonjol melalui celah, selaput ini
membentuk kantung yang berisi cairan disebut meningokel. Dalam hal ini, celah biasanya
ditutupi kulit, sumsum tulang belakang berada dalam kedudukan teratur dan saraf-saraf
di dalamnya bekerja normal.
Bila sumsum tulang menonjol sendiri ini membentuk mielomeningokel. Kadang-kadang
sumsum yang menonjol dapat ditutupi gabungan kulit dan selaput sumsum (meningen),
untuk memberikan perlindungan. Dalam bentuk yang sangat parah, kulit hilang sebagian
dan jaringan saraf sumsum tulang belakang terpapar. Pada kasus ini, daerah tersebut
bisa mengeluarkan cairan dan infeksi dapat terjadi, dengan akibat meningitis (radang
selaput otak). Baik terbuka maupun tertutup, struktur abnormal tulang belakang
mengakibatkan kesulitan kendali anggota gerak bawah, kandung kemih dan usus.
Bayi dengan spina bifida kistika dapat mengalami kelumpuhan tungkai tanpa rasa atau
refleks. Ia mungkin mendapat atau mengalami cacat bentuk (deformitas) tungkai seperti
dislokasi pinggul atau kaki pekok. Kandung kemihnya mungkin tidak berkontraksi secara
semestinya sehingga ia cenderung meneteskan air keih, dan tekanan air kemih ke
belakang (back pressure) di dalam kandung kemih yang mengembang dapat merusak
ginjalnya dan mengakibatkan infeksi saluran kencing atau ginjal. Usus besarnya mungkin
tidak berkontraksi secara semestinya, sehingga menyebabkan sembelit kronik atau buang
air besar tak terkendali.
Pada spina bifida kistika jenis meningokel, operasi dapat memperbaiki cacat punggung
untuk menghindari setiap risiko perobekan kantung yang berisi cairan. Setelah operasi,
barulah orangtua dapat menangani bayi mereka dengan yakin.
Untuk bayi yang lahir dengan mielomeningokel, langkah pertama adalah pemindahan bayi
segera ke unit rawat khusus. Tim medis dan bedah akan memeriksa bayi itu dengan
seksama. Bayi yang mempunyai kemungkinan besar membaik akan dianjurkan untuk
dioperasi. Pengalaman sejak tahun 1960-an memperlihatkan bahwa bayi dengan kelumpuhan
tungkai yang parah, punggung yang cacat berat atau bengkok, kepala yang sangat besar
akibat hidrosefalus, atau masalah lain seperti cacat jantung atau asfiksia lahir tidak
akan membaik dengan satu atau bahkan beberapa operasi., Bayi-bayi ini memang dapat
dirawat di rumah sakit dan dibebaskan dari rasa nyeri atau penderitaan, namun
kenyataannya sebagian besar meninggal dalam umur 3 bulan karena cacat yang berat.
Operasi pada anak memang keputusan yang sulit bagi setiap orangtua. Namun
dokter akan membantu orangtua menilai setiap faktor buruk yang mempengaruhi bayi,
menjelaskan hasil yang mungkin dicapai oleh pembedahan, dan keterbatasan-keterbatasan,
serta menyimpulkan masa depan yang mungkin. Yang terpenting adalah perasaan orangtua,
dan karena pilihan terletak di antara dua keadaan yang sangat sulit, tidak ada pilihan
yang merupakan jalan keluar yang sempurna.
Pada kasus spina bifida, tujuan utama pembedahan adalah memperbaiki kulit,
selaput sumsum tulang belakang dan tulang punggung sebisa mungkin. Meski demikian,
operasi ini tidak memperbaiki fungsi saraf, jadi kelumpuhan tetap ada. Dokter kemudian
akan mengawasi dengan seksama setiap tanda meningitis, yang segera diobati dengan
antibiotika atau tanda hidrosefalus.
Setelah bayi pulang ke rumah, orangtua sebaiknya tetap melanjutkan kunjungan
secara berkala ke rumah sakit untuk merawat spina bifida. Perawatan yang dimaksud
akan melibatkan tenaga ahli seperti ahli bedah, ahli anak, dan ahli fisioterapi guna
membantu orangtua menangani anak mereka.
Dukungan dan kasih sayang dari orangtua sangatlah dibutuhkan karena terbukti
bahwa hingga 70 persen anak penderita spina bifida yang bertahan hidup sampai usia
sekolah ternyata memiliki kecerdasan di dalam cakupan normal dan banyak pula yang
masuk sekolah normal. Sementara sebagian anak, yang mengalami cacat fisik lebih parah,
dapat juga meningkatkan kemampuan mereka melalui sekolah-sekolah luar biasa untuk
penyandang cacat fisik.
Copyright � 2000 Kak-Seto.com
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
kLaRA
Content Div.
www.indoexchange.com
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~