JIKA BAYI TERLAMBAT TUMBUH GIGI
Waktu tumbuh gigi pada setiap bayi berbeda-beda. Anda tidak perlu kuatir jika gigi
bayi Anda tidak kunjung tumbuh, sepanjang anak tidak mengalami gangguan perkembangan
lainnya. Gigi yang terlambat tumbuh tidak akan mempengaruhi kesehatan atau menyebabkan
giginya akan berkurang kualitasnya.
Satu-satunya masalah bagi bayi yang terlambat tumbuh gigi adalah kemungkinan gigi pada
bayi akan tumbuh beberapa buah sekaligus (dua atau tiga sekali tumbuh), sehingga bayi
akan merasakan rasa sakit yang lebih dari biasanya. Selain itu, karena tumbuh gigi
meningkatkan pengeluaran air liur, Anda mungkin menemukan merah-merah di sekitar kulit
bayi Anda akibat kulitnya yang sensitif bergesekan dengan pakaian yang basah dengan
air ludah. Efek samping lain yang cukup lazim adalah batuk-batuk, akibat air liur yang
berlebih menyebabkan iritasi di tenggorokan bayi. Diare juga dapat terjadi akibat air
ludah yang berlebih mengotori organ pencernaan. Terakhir, demam ringan (38.3� C) juga
dapat terjadi di samping rasa nyeri akibat gigi yang keras berusaha menembus gusi bayi
yang lembut.
Untuk meringankan penderitaan bayi yang sedang tumbuh gigi, berikan padanya satu tetes
(0.8 ml) Asetaminofen (misalnya Tylenol) sebelum tidur atau setiap enam jam tergantung
kebutuhan. Tawarkan juga padanya sesuatu yang dingin untuk digigitinya, seperti pisang
beku, gelang gigitan bayi yang sudah didinginkan, atau sendok yang dingin. Boleh juga
memberinya es lilin, atau biskuit yang sudah dimasukkan kulkas.
Sebenarnya, bayi Anda sudah memiliki satu set gigi yang lengkap. Hanya saja gigi-gigi
itu masih terkubur di dalam gusinya, menunggu saatnya untuk tumbuh ke atas. Kapan
tepatnya gigi anak tumbuh, ditentukan juga oleh faktor keturunan. Jadi, jika bayi Anda
terlambat tumbuh gigi, hampir dapat dipastikan bahwa pernah ada juga anggota keluarga
Anda yang bernasib serupa
Apakah Itu Kebiasaan Buruk ?
"Aduh Jeng, balita saya si Vita itu kok sampai sekarang masih saja suka mengisap
jempol. Heran, kebiasaan buruk begitu kok susah ya dihilangkan ?"
Mungkin ucapan seperti ini sering kita dengar atau bahkan kita ucapkan. Namun
benarkah itu kebiasaan buruk ? Nanti dulu, perlu kita simak apa yang dikatakan para
ahli. Kita mungkin saja menyebut sesuatu sebagai kebiasaan buruk, karena tak sadar
bahwa balita memang punya banyak kebiasaan yang tak disukai orang dewasa.
Banyak macamnya, mungkin seperti Hani yang tak mau pergi menginap ke rumah nenek
tanpa selimut kesayangannya, atau Gina yang mengigiti kuku jika sedang cemas.
Balita-balita ini tak peduli bagaimana jeleknya kebiasaan mereka itu di mata orang
dewasa. Yang mereka tahu hanyalah dengan melakukan itu, mereka bisa merasa nyaman dan
tenang.
Katrina Hughes, dari Pusat Pengajaran Ryerson Polytechnic University mengatakan,
"Bagi saya sulit untuk menyebut perilaku-perilaku itu sebagai kebiasaan buruk. Karena
banyak yang sebenarnya adalah mekanisme positif dalam menghadapi masalah."
Namun dapat dimengerti jika orangtua khawatir akan efek negatif dari kebiasaan
mengisap jempol dan mengempeng. Seperti giginya akan tonggos atau tumbuh menonjol
keluar. Meskipun ini masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut.
"Kita harus mengetahui alasan yang mendasari perilaku balita." Hughes
menjelaskan,"Karena hal itu sering disebabkan oleh stress atau kebutuhan akan rasa
nyaman. Jika kita berusaha menghilangkan kebiasaan tersebut, tanpa memperhatikan
penyebab sesungguhnya, malah bisa memperburuk keadaan."
Salah satu contohnya, ada seorang balita perempuan berusia tiga tahun yang suka
sekali mengisap jempol. Sang orangtua merasa hal itu tak pantas dilakukan balita
seusianya, maka mereka berusaha menghentikan dengan memasang sarung tangan. Apa yang
terjadi ? Beberapa hari kemudian mereka menemukan ia malah mengisap tangannya. Bahkan
hingga menyebabkan beberapa luka di tangannya. Akhirnya atas saran dokter, mereka
melepas sarung tangan itu lalu membiarkan ia mengisap jempolnya lagi.
Menurut Hughes terkadang balita usia tiga atau empat tahun yang baru masuk di
kelompok bermain masih mengempeng. "Orangtua banyak yang khawatir dan melepas
empengnya, tetapi saya nasihati bahwa tak baik menghilangkan rasa aman dan nyaman dari
balita. Apalagi saat ia tengah menjalani masa transisi dari lingkungan rumah ke
kelompok bermain. Saat ia sudah lebih merasa nyaman, maka lambat laun kebiasaan itu
akan hilang."
Keterikatan balita pada suatu benda seperti selimut atau boneka kesayangan adalah
suatu yang patut dihargai dan tak perlu terlalu dikhawatirkan. Hal itu tak berbahaya,
dan bukanlah suatu masalah. Keterikatan pada benda seperti ini seperti mungkin nampak
sebagai sesuatu yang cengeng, namun hal ini dapat membantu balita dalam menghadapi
tekanan (stress) dalam kesehariannya. Banyak ahli pengasuhan berpendapat, bahwa benda
ini membantu balita beralih dari situasi ketergantungan kepada tahap kemandirian.
Jika balita telah nampak mapan dan bisa beradaptasi. Hughes menyarankan pendekatan
bertahap untuk menghentikan kebiasaan mengisap jempol atau keterikatan pada benda.
Bisa dengan memberikan empeng atau benda itu hanya pada saat tertentu saja, misalnya
sebelum tidur siang, saat tidur siang atau di malam hari. Aturan ini harus diterapkan
secara konsisten.
Namun, perlu diperhatikan bagaimana keadaan emosinya pada saat itu. Karena tak
mungkin melepas empeng dari balita yang sedang rewel atau sangat lelah. Kita perlu
peka terhadap emosi balita.
Hughes menambahkan, bahwa tekanan dari kelompok pergaulan (peer-group) dapat
membantu. Misalnya dalam kelompok bermainnya tak ada balita yang menghisap jempol,
maka balita biasanya akan menghentikan kebiasaannya. Namun ia tetap tak mau diejek
sebagai pengisap jempol. Jika hal ini terjadi, malah akan memperburuk karena emosinya
akan meninggi.
Ada cara lain yang bisa dicoba. Misalnya dengan memotong pendek rambut balita yang
suka memilin-milin rambutnya. Dengan begitu rambutnya tak bisa dipilin-pilin lagi.
Atau memoleskan pewarna kuku jika balita sering menggigiti kukunya, untuk balita
laki-laki bisa dipakai pewarna kuku bening. Setiap kali ia melihat kukunya yang
berwarna, balita mungkin tak jadi menggigiti kukunya. Untuk balita yang mengisap
jempolnya saat akan tidur, bisa coba diatasi dengan menemaninya sampai ia benar-benar
tertidur lelap.
Hughes mengingatkan sekali lagi, bahwa kebiasaan seperti itu tak akan bertahan
selamanya. Tak mungkin ada balita yang masih mengisap jempolnya di bangku sekolah
menengah. Jika Anda terlalu mempermasalahkan hal itu, malah bisa menambah buruk.
Cobalah bersikap rileks dan pahami manfaat dari kebiasaan ini bagi kehidupan balita
Anda.
Maka jika anak punya kebiasaan semacam itu, jangan kesal. Pakai jurus 'positive
thinking' dan kreatiflah mengantisipasinya. Selamat mencoba !
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
kLaRA
Content Div.
www.indoexchange.com
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~