Wah mamanya Dafi kalau kasih penjelasan detail sekali deh. Terima kasih
loh..
Dan memang dari pengalaman dan baca buku, saya pikir memang paling utama
dalam ngajarin anak ya repetisi dan konsistensi.
Kayak anak saya (19 bulan), waktu lagi seneng-senengnya masuk-in segala
benda kecil ke
mulutnya, saya selalu bilang 'nggak, benda ini tidak boleh dimakan'.
berulang kali, setiap kali dia masukkin koin, atau tutup botol atau apa aja,
selalu saya bilang hal yang sama. Sampai akhirnya dia tau, bahwa koin, tutup
botol atau apapun yang kecil-kecil, tidak untuk dimakan. Dan sampai sekarang
kalau dia nemu koin, dia akan langsung kasih ke saya. Tapi kadang kalau dia
lagi usil, dengan sengaja dia masukkin koin ke mulutnya kayak bilang "ini
loh, koinnya ta' masukkin mulut" didepan mata saya, dan nunggu saya ngambil
koin itu dari mulutnya. Dan sekarang ini, untuk hal-hal yang dari dulu
dilarang dia udah ngerti, kayak matiin TV, manjat ke atas tangan kursi atau
yang bener-bener berbahaya buat dia, saya cukup geleng-geleng kepala, karena
biasanya dia cuma mau ngetest saya dan mo liat reaksi kita. Dan kalau udah
liat saya geleng, ya dia nggak jadi...
Dan saya punya contoh akibat ke-tidak konsisten-an saya terhadap Kay. Dari
entah umur berapa dia udah seneng matiin komputer, tapi karena saya kurang
telaten ngasih tau dia, sampai sekarang ini dia nggak mempan deh di kasih
tau untuk jangan matiin komputer. Jadi selalu kalau dia liat tombol
komputer, dia main asal pencet, berulang kali, sampai rasanya komputer di
rumah ini jebol.
Dan rasanya kita gak harus jadi galak deh ke anak, yang jelas harus tegas.
Kalau memang udah mendekati bahaya, apapun harus dipisahkan. Mainan gunting,
guntingnya harus diambil, walaupun nangis juga gak akan lama, kasih
pengertian dan alihkan perhatian. Kalau dia inget lagi, khan guntingnya udah
disingkirin.
Dan kadang-kadang anak suka frustrasi sendiri khan, kayak anak saya, sukanya
main puzzle, tapi kalau lama puzzlenya gak jadi-jadi, suka marah sendiri.
Biasanya sebelum dia ngamuk beneran, ya saya deketin dan saya tanya,
"kenapa marah? Kay mau apa? mau main puzzle yach? sini mama bantu, ini
disini, itu disitu ..."dst. Sampai puzzlenya selesai dan ngamuknya ilang.
Dan ini saya terapin di segala hal, misalnya dia kesel mau buka pintu atau
apa, ya sebelum dia ngamuk saya bantu. Malah sekarang dia tau, kalau dia
nggak bisa sesuatu, dia akan datang ke kita dan minta kita melakukan
sesuatu, misalnya ngambilin mainan di kolong atau apa deh yang dia gak bisa
kerjain sendiri. Tapi kalau memang maunya dia yang aneh-aneh, ya saya nggak
kasih, tapi disertai pengertian kenapa nggak boleh.
Jadi kalau menurut saya, usahain minimize faktor yang bisa bikin dia ngamuk,
salah satunya caranya ya selain yang disebutin mamanya dafi, ya be there for
him/her. Kalau misalnya mama-papanya kerja, ya kasih pengertian ke pengasuh
atau orang yang mendampingi anak sehari-hari. Sebab rasanya anak pemarah itu
terbentuk dan bukan terlahir deh...betul gak sich?
Salam,
Mia - mamanya Kay
----- Original Message -----
From: mamanya Dafi <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Freitag, 20. Oktober 2000 04:33
Subject: Re: [balita-anda] BUANDEL...
> Pak Basuki,
> Kalau bapak baru mulai saya masih nih dalam masa ujian
> kesabaran, kadang gagal, kadang berhasil. Dafi (28
> bulan) sudah memulainya sejak lama dan belum kelihatan
> kapan berakhirnya. Kalau dari artikel katanya masa
> yang terberat antara 20-30 bulan, semoga saja benar
> (The terriible Two's).Dalam mengatasi tingkah laku
> yang demikian tidak ada 1 cara ampuh, tetap harus
> dicoba bermacam-macam dan kalau perlu pengulangan
> action. Tapi ada beberapa garis besar yang saya
> rasakan bisa berhasil :
> 1. Beritahukan apa yang tidak boleh. Jangan
> banyak-banyak karena anak tidak bisa menampung
> informasi banyak dalam sekejap, jadi perlu prioritas.
> Kalau saya paling cuma "Dilarang main di dapur, di
> tangga, kamar mandi dan main colokan listrik".
> 2. Ulangi lagi saat dia melanggar. Pengulangan ini
> bisa 10-50 kali sebelum akhirnya dia tahu bahwa itu
> memang dilarang, jadi jangan pernah bosan.
> 3. Singkirkan semua benda yang kita tidak ingin dia
> mainkan, jadi sebangsa, gunting, jarum, botol kaca,
> hiasan meja dll, jangan sampai terlihat. Ini
> mengurangi energi kita untuk selalu berkata 'nggak
> boleh atau 'jangan' juga menghindari si anak
> menganggap remeh larangan kita karena terlalu sering
> didengar. Jangan malu kalau rumah kita dibilang 'nggak
> ada isinya/barangnya' ini demi kebaikan si anak, masih
> ada waktu buat menghias rumah saat mereka besar nanti.
> 4. Kalau sudah begitu yang terakhir dan yang terberat
> adalah Konsisten dengan larangan tersebut. Siapa saja,
> kapan saja dan dimana saja, sesuatu yang dilarang
> harus tetap dilarang, jangan sampai pas ortu nggak
> ada, neneknya ngasi, atau pas ayah nggak lihat, ibunya
> ngasi kalau sudah begitu akan sulit mengembalikan anak
> ke track yang benar. Perlu perjanjian antara
> ibu-ayah-pengasuh hal-hal apa yang akan dilarang dan
> bagaimana penangannya jika terjadi pelanggaran.
> Kalau saya, misalnya papa Dafi yang melarang dan
> menasehati, saya diam atau mendukung, meskipun kadang
> di balik layarnya kita debat juga, begitu juga kalau
> saya yang sedang 'bernyanyi' papanya Dafi harus
> menunggu sampai Dafi nggak lihat sebelum kita diskusi
> lagi.
> Untuk menghentikan perbuatan yang tidak sesuai
> biasanya saya :
> 1. Mengalihkan dengan barang atau kegiatan lain yang
> biasanya Dafi sukai.
> 2. Mengambil/menghilangkan sumbernya, kalau sudah
> begini pasti deh dia ngamuk atau nangis, tapi saya
> bilang "Biarpun Dafi nangis mama nggak akan kasih,
> karena mama sayang sama Dafi dan nggak mau Dafi luka"
> Tapi ya kuping harus tahan dengan tangisan yang
> mengiba. Saya beri waktu 2 menit untuk Dafi nangis
> sepuas hati, biasanya setelah itu dia sudah menerima
> kenyataan bahwa keinginannya tidak akan terpenuhi, dan
> bisa main lagi seperti biasa.
> 3. Kalau dia sudah normal lagi, jangan lupa memuji
> keberhasilannya.
> 4. Lihat kondisi anak saat itu, apakah dia sedang
> lapar/haus, capek, ngantuk, karena tingkah laku yang
> tidak terkontrol bisa disebabkan keadaan ini, jadi
> berikan apa yang dia butuhkan. Kalau Dafi marah-marah
> atau heboh sekitar jam 1 siang maka saya tahu sudah
> waktunya dia tidur, jadi langsung ritual menjelang
> tidur dilakukan.
> 5. Kalau rasanya kita akan marah atau mau melakukan
> sesuatu terhadap anak (memukul, mencubit, dll) maka
> kita harus ambil 'time out' untuk mengembalikan emosi
> yang sudah tinggi (kadang orang tua terlambat
> mengambil langkah ini jadi anaknya sudah keburu
> dibentak/dicubit), padahal kekerasan terhadap anak
> tidak pernah akan membuahkan hasil yang baik. Kalau
> saya merasa sudah akan marah sama Dafi saya pergi dulu
> ke kamar mandi atau ke tempat lain sementara yang lain
> menggantikan sampai saya merasa siap lagi untuk
> menghadapi tingkahnya.
> Memang berat ya jadi orang tua.......
>
> Mamanya Dafi
>
>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
>> Kirim bunga ke-20 kota di Indonesia? Klik, http://www.indokado.com
>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]