-------- Original Message --------
Subject: Sukses Mendidik Banyak Anak
Date: Wed, 17 Jan 2001 08:53:10 -0600
From: Mang Deden <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum
Alhamdulillah, washolatu wassalaamu'ala Rasulillah, wa 'ala alihi, wa
ashabihi wa mantabi'ahum bil ikhsan.
Sukses Mendidik Banyak Anak
Banyak anak? Merepotkan.
Padahal mengasyikkan, asal tahu kiatnya.
Anak delapan? Bukan main. Di
jaman yang serba sibuk, serba mahal, dan serba sulit seperti ini ada keluarga
yang mau memiliki delapan orang anak, sungguh membuat orang terheran-heran.
Tetangga baru di sebuah
komplek perumahan, keluarga Pak Ali, yang putranya berjumlah delapan,
benar-benar membuat orang terkesima. Mulai dari si sulung yang duduk di bangku
kuliah, hingga si bungsu yang berusia empat bulan, semuanya memiliki akhlaq yang
baik dan menarik.
Dalam waktu sebentar,
anak-anak itu menjadi bahan pembicaraan tetangga. Kesopanan mereka terhadap
tetangga, pergaulannya yang supel dengan teman-tema sebaya, dan kepatuhannya
kepada orang tua benar-benar membuat banyak orang menjadi iri.
Model seperti keluarga Pak Ali
ini tidaklah banyak. Jangankan mendidik delapan anak, satu atau dua anak saja
sudah kerepotan. Tapi, tahukah Anda bagaimana pendapat Bu Ali?
"Mendidik seorang anak lebih
sulit dari pada mendidik lima anak," begitu komentarnya. Ah, apa iya, Bu? "Itu
saya alami sendiri. Ketika putra saya baru satu hingga dua orang, sangat sulit
untuk membentuk kepribadioan yang baik kepada mereka. Tetapi kepada anak-anak
selanjutnya, ketiga, keempat hingga kedelapan, semuanya menjadi ringan dan
lancar-lancar saja."
Sebenarnya, Islam memang
menganjurkan ummatnya untuk memperbanyak anak, dengan catatan memenuhi beberapa
syarat khusus sehingga keluarga tersebut tetap bisa sejahtera, tanpa ada yang
terzalimi, baik ayah, ibu maupun anak-anak itu sendiri. Rasulullah bersabda,
"Kawinilah olehmu sekalian wanita yang banyak melahirkan anak dan penuh
kecintaan. Karena sesungguhnya aku ingin memiliki banyak ummat dengan kamu
sekalian." (HR Abu Daud, An Nasa'I & Al Hakim). Gambaran singkatnya adalah
seperti keluarga Pak Ali. Nah, Anda mau tahu apa rahasia Bu Ali ?
1. Sukses yang Pertama,
Sukses Berikutnya
Yang paling sulit adalah
mendidik anak pertama. Tetapi jika pekerjaan yang satu ini sukses, dapat
dipastikan akan mempermudah sukses mendidik anak berikutnya. Hal ini mudah
dipahami, karena seorang anak akan selalu belajar dari orang-orang terdekatnya.
Kakak, akan menjadi panutan setelah ibu dan ayah. Maka jika kakak berbuat
kebaikan, tanpa disuruh adik pun akan menirunya. Figur kakak, bahkan kerap
menjadi kebanggaan si adik. Apalagi jika keduanya kerap bermain bersama. Anak
yang telah memiliki adik, pasti akan mengembangkan pribadi superior dan
kepemimpinannya kepada adik. Dengan gayanya yang khas, sang kakak akan
mengembangkan naluri untuk mengatur dan memerintah adik. Sementara adik
cenderung mengikuti, karena mereka sedang melalui proses belajar dengan cara
imitasi.
2. Tumbuhkan Kebersamaan
Keluarga
Kebersamaan keluarga, adalah
sebuah kondisi dimana ikatan batin yang terjalin antar anggota keluarga,
sehingga timbul kepedulian antara satu dengan lainya. Kakak merasa turut
bersimpati ketika adiknya menangis. Adikpun turut peduli ketika kakaknya
kehilangan barang.
Jika rasa kebersamaan telah
tumbuh di hati kakak beradik, sangat mudah bagi ibu untuk mendelegasikan
beberapa tugas ringan kepada kakak. Tugas memandikan adik, misalnya. Biarkan
mereka menghabiskan banyak air dan sabun, tetapi satu tugas ibu telah bisa
terkurangi.
Atau tugas-tugas lain yang
menggembirakan keduanya, seperti menemani adik bermain, menemani adik membeli
permen di toko, mengajari adik naik sepeda roda tiganya, dan masih banyak lagi.
Libatkan kakak pada proses pengasuhan adik dalam hal-hal yang menggembirakannya.
Sebaliknya, latih dan biasakan
adik untuk memberikan penghargaan kepada kakaknya dalam berbagai hal. Ajar
mereka untuk selalu mengucap terima kasih untuk sekecil apapun perhatian yang
diberikan kakak kepadanya. Juga ketika kakak mengalah kepadanya.
Menumbuhkan rasa kebersamaan
antara kakak beradik memang bukan proses yang sebentar lagi mudah. Proses ini
memerlukan waktu cukup panjang, bisa jadi hingga satu atau dua tahun. Juga
memerlukan kesabaran dan bimbingan ekstra dari ibu selama itu pula. Dan tentu
saja, bimbingan yang ibu berikan harus benar, sesuai dengan kebutuhan
perkembangan anak-anak. Itu sebabnya upaya ini memerlukan pengetahuan dan
kesungguhan dari ibu. Tetapi jika upaya maksimal ibu sudah berhasil diterapkan
kepada putra pertama ini, sukses tinggal menunggu untuk mendidik putra-putri
berikutnya.
3. Jaga Jarak Kelahiran
Menjaga jarak kelahiran antara
kakak dengan adiknya, adalah satu faktor penting yang tak boleh diabaikan dalam
proses mendidik anak. Dalam al-Qur'an sendiri telah tersirat perintah untuk
menunda kehamilan dengan cara menyusui penuh selama dua tahun. Jika setelah
penyusuan baru ibu hamil kembali, berarti jarak kelahiran sekurang-kurangnya dua
tahun sembilan bulan, bukan? Ini adalah jarak minimum antara kakak beradik,
yang sesuai pula dengan tahapan perkembangan psikologis seorang anak.
Sebelum usia dua tahun,
umumnya egosentris seorang anak masih begitu besar. Mereka belum siap menerima
kehadiran adik yang mengharuskan mereka berbagi kasih-sayang ibu. Dalam usia
dua setengah tahun, barulah pengertian mulai tumbuh dan mereka mulai bisa
menerima kenyataan jika harus berbagi dengan adik baru.
Itu sebabnya jika seorang anak
sudah harus menerima kehadiran adik sebelum usia dua setengah tahun, maka proses
penerimaan menjadi lebih sulit dilakukan. Akibatnya akan lebih sulit untuk
menumbuhkan rasa kebersamaan. Setidaknya jika mereka tidak sering bertengkar,
itu sudah cukup baik.
4. Ikhlaskan Hati
Repot, itu sudah pasti.
Apalagi ketika masih memiliki satu atau dua putra. Perjuangan dan pengorbanan
ibu sangat dituntut di sini. Tetapi yang pasti, anak bisa merasakan dengan baik
suasana hati ibu. Ketika ibu sedang jengkel, sedih atau marah, kerap kali anak
justru menjadi susah diatur. Itu karena kepekaan hati mereka menangkap suasana
hati ibunya yang tak enak, dan bahkan terimbas kepada dirinya.
Sebaliknya, banyak masalah
bisa diselesaikan jika hati ibu ikhlas. Berbekal keikhlasan tersebut, ibu bisa
tetap tenang menghadapi seberapa pun berat kerewelan anak. Dengan keikhlasan
pula ibu bisa menjadi lebih sabar menghadapi mereka. Dan ketika datang
kebahagiaan, ibu bisa menerima dengan rasa syukur yang teramat dalam.
Hal ini pulalah yang menjadi
salah satu kunci utama keberhasilan generasi tua angkatan di atas kita, yang
rata-rata tak terlalu banyak mengalami masalah dengan jumlah putra-putrinya yang
banyak. Lain dengan keluarga di jaman sekarang, sulit untuk bisa ikhlas
memiliki anak banyak. Beratnya beban ekonomi, salah satu penyebabnya. Juga
kesibukan ibu yang semakin banyak memiliki kesibukan pribadi. Begitu juga
tanggapan negatif masyarakat terhadap keluarga yang berputra banyak, semuanya
menjadi tantangan tersendiri bagi ibu untuk bisa bersikap ikhlas.
Wassalammu 'alaikum
- -:*'``'*:-.,_,.-:*
Hadi Nugraha
Ph : 0812 239 4052
- -:*'``'*:-.,_,.-:*