> -----Original Message-----
> From: afi ratnasari [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Friday, April 20, 2001 17:35
> To:   AGUS_MATTEL (E-mail); BEDJO (E-mail); Fauzi (E-mail); IVAN_MARUBENI
> (E-mail); NIA_OGEL (E-mail); NINONG (E-mail); RATIH (E-mail); YUDI_KLINGON
> (E-mail)
> Subject:      FW: Polisi Gadungan di depan Lendmark - BNI 46
> 
> 
> 
> -----Original Message-----
> From: ferra kusumawati 
> Sent: Jumat, April 20, 2001 5:18
> To: afi ratnasari; agatha wiranata; ella petronella; erry werdiarti;
> ferry; ietjien; lingling; lucy; nelly sidabutar; nondang siti chadjar;
> priska novie d; tian prasetjia
> Subject: FW: Polisi Gadungan di depan Lendmark - BNI 46
> 
> 
> 
> 
> -----Original Message-----
> From: Lidya [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: 20 April 2001 14:04
> To: 'STU-Setyo'; 'SHARP-Irma'; 'Newtimes-Ferra'; 'OTTO-Lie Ie'
> Subject: FW: Polisi Gadungan di depan Lendmark - BNI 46
> 
> 
> 
> Rabu malam, pukul 22.05. Halaman Arthaloka Building terasa lengang.
> Aku keluar gerbang depan, mengemudi  bersama Elwin Ardririanto -PT.
> Invisia-, hendak pulang dengan mengambil U-turn terowongan Dukuh Atas
> kearah
> Sudirman-Semanggi.
> Jalanan lancar, satu-dua mobil melaju dengan kecepatan sedang.
> Persis sampai di dalam terowongan, lampu merah menyala.
> Kami berhenti dibelakang satu mobil yang pas dibawah lampu merah.
> Lampu hijau menyala, perlahan mobil jalan mulai membelok kanan (menuju
> depan
> Landmark); saat itulah terlihat 3-4 "polisi" sedang memberhentikan
> beberapa
> mobil. Mereka pakai sepatu panjang, celana coklat dan jaket. Belum
> sempurna
> belok, satu diantaranya menunjuk dengan kasar kearah kami, sambil menyuruh
> menepi.
> 
> Dengan sedikit terintimidasi karena telunjuk jarinya seolah mengatakan
> "bersalah keterlaluan", sementara tidak tahu apa yang salah, kami pun
> menepi, diantara dua mobil yang sudah di-stop.
> 
> Kubuka jendela depan, kulihat sang polisi datang, dan formalitas kuucapkan
> salam "Selamat malam, Pak!" ...
> "Kalau lampu merah itu jangan dilanggar" hardik sang "polisi" dengan
> kasar.
> "Pak, tadi lampu masih hijau, pak...." jawabku jujur.
> "Nggak mungkin, dari arah sana hijau ....dst..... pasti lampu udah merah!"
> debat sang "polisi"
> .... Begitulah... terjadi perdebatan, keluar sumpah spontan.... SIM dan
> STNK
> diminta ...
> kemudian si "polisi" berjalan kearah belakang mobil (meninggalkan kami di
> bangku kemudi)
> Saat itulah Elwin bilang "kayaknya polisi gadungan ..deh ..."
> Elwin keluar mobil ...
> Khawatir terjadi sesuatu, akupun segera menyusul ...
> "Bapak dari kesatuan mana Pak ..." tanya Elwin kepada polisi tinggi-besar
> yang memegang SIM & STNK tersebut
> "Selatan ...." pura-pura tak acuh sambil memegang-megang buku resi
> tilang(?)
> Temaram lampu jalan membuatku dapat melihat di bawah leher polisi tersebut
> menyembul kerah kaos, rasanya dia tidak pakai seragam polisi.
> 
> Keyakinan bahwa dia polisi gadungan membesar, hingga kami makin berani
> bersikap tegas ...
> "Selatan mana pak??? .... Atasan Bapak siapa pak?" ....desak Elwin
> "Emangnya kenapa???" ...dst ...dst ..., hingga kemudian
> Suara si "polisi" berubah jadi pelan dan dalam ....
> "Kalau Bapak sopan, kami pun sopan,,, tak ada masalah tak dapat
> diselesaikan
> ....", kayaknya bendera putih mulai dikibarkan.
> 
> Akhirnya kami dibebaskan ....
> Begiatu kembali kedalam mobil, aku tanya Elwin, bagaimana tahu dia
> "polisi"
> gadungan.
> Katanya, terlihat sepatunya nampak berbeda.
> Berbeda dengan Elwin, aku tak punya saudara polisi, jadi tak dapat lah
> membedakan sepatunya ...
> Sementara aku sendiri lebih percaya bahwa keyakinan itu lebih di-drive
> oleh
> feeling.
> Tapi sesaat kemudian, kami sama-sama sadar bahwa di lokasi tersebut tidak
> terdapat motor atau kendaraan bak terbuka dinas polisi.
> 
> Didera penasaran, kami pun tak jadi masuk jalan Sudirman, melainkan
> berbalik
> di "putaran" pojokan Landmark.
> Terlihat beberapa mobil terus diberhentikan oleh para "polisi" itu ...
> Memang, ... tidak ada motor atau mobil polisi ...
> Yang ada hanyalah Suzuki Jimny, hijau metalik, B 2893 DW terpakir diam ...
> Didepan terowongan belok kanan ke arah pasar rumput, sambil terpikir,
> apakah
> sebaiknya kami laporkan ???
> Tapi, tak punya kami nomor polisi yang "handy".
> Jadi akhirnya kami hanya memutari Landmark dan kembali masuk Sudirman
> Di belakang terlihat, mobil-mobil masih terus diberhentikan ... dan
> mungkin
> jadi korban ...
> Yah, semoga saja mereka memiliki keberanian untuk berlaku tegas ...
> Tentu bagi yang merasa tidak bersalah ....
> 
> 

>> kirim bunga ke negara2 di Asia? klik, http://www.indokado.com  
>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]


Kirim email ke