[Bersyukur lah terhadap nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada mu, > jauhkan keluh kesah] > Semoga cerita dibawah ini bisa lebih mengetuk pintu hati kita semua > > Harian Republika, Rabu, 21 Nopember 2001 > > "Manusia Gerobak" > ================= > > Hari masih gelap. > Matahari belum keluar. > Satu dua kendaraan melintas. > Namun derunya tak mengganggu dua bocah kecil. > Mereka lelap dalam gerobak .... di kawasan Menteng, Jakarta. > > Seorang gadis mungil menggeliat. Matanya terpejam rapat. > Di sebelahnya, bocah lelaki meringkuk dengan mata setengah terbuka. > > Sayup terdengar panggilan ibunda tersayang. > "Ayo bangun, sudah siang." > Si ibu menyingkap atap plastik yang menyelubungi mereka di dalam gerobak. > Digoyangnya tubuh gadis dan bujang kecilnya, sehingga keduanya terbangun > enggan. > > Atap plastik digulung. > Keduanya, Lala dan Slamet, turun lewat bawah gerobak yang rupanya dibuka > dengan sistem knock down. > > Tanpa banyak kata, keduanya pindah ke tepi jalan di sebelah gerobak. > Keduanya jongkok terbengong. > Tatap mereka kosong, meski terarah pada arus lalu lintas yang mulai ramai. > > Mereka menunggu si ibu yang melipat plastik dan tumpukan pakaian yang > telah > digunakan sebagai bantal. > Si ayah tak terlihat. > > Si ibu memasukkan seluruh pakaian itu ke dalam plastik "kresek" hitam. > Lalu ia sampirkan pada pegangan gerobak. > Dengan rambut semrawut, perempuan itu memutar arah gerobaknya. > Ia memanggil kedua permata hatinya untuk mengikutinya. > Dengan rasa enggan, keduanya tetap bangkit. > > Bertiga mereka menuju Kali Gresik di Jl Sutan Sjahrir. > Si ibu turun ke dasar kali membuka pakaian dan menyiram tubuhnya dengan > air > yang mengalir dari gorong-gorong yang mengalirkan limbah air perumahan > elite > Menteng. Separuh kakinya terbenam dalam lumpur. > Ia memanggil kedua anaknya dan memandikannya dengan air yang sama. Ia > cuci > juga pakaian anaknya dan menjemurnya di pepohonan di pinggir kali. > > "Sebetulnya air itu bersih," kata perempuan itu. > Nun jauh di dalam gorong-gorong, menurut dia, ada pipa PAM pecah. > Air itu mengalir terus ke kali. Dan ia menggunakannya untuk mandi dan > mencuci pakaian. > > Hari mulai terang. Deru mobil hiruk-pikuk. > Perempatan Jl Teuku Umar mulai ramai. > Namun perempuan yang setengah telanjang itu tak terusik. > Ia tampaknya juga tak terganggu mata-mata risih yang memandangnya dari > balik > jendela kendaraan. > Badannya yang tanpa busana memunggungi pandangan orang. > > Setelah berganti pakaian, mereka kembali ke gerobak yang diparkir di tepi > jalan. > Kali ini sang ayah, dengan rokok di mulutnya, menanti dan siap mengajak > mereka berkeliling. > > Dedeh. Sebutlah begitu namanya. > Sudah hampir setahun, ia tinggal di tepi Jalan Jawa bersama suami dan dua > anak bocahnya. > Mereka hidup layaknya kaum Gipsy yang berpindah tempat. Namun > idealismenya > berbeda. > Gipsy berpindah dengan karavan karena memang kebiasaan hidup. > Dedeh melakoninya karena keterpaksaan. > > Sebuah rumah dan pekerjaan bagi penduduk Jakarta amatlah mahal. > Jangankan untuk memiliki, untuk mengontrak pun terlalu sulit. > Jangankan pula untuk mengontrak rumah, untuk makan pun tak cukup. > Pendapatan mereka hanya untuk sekali makan dalam sehari. > > Dedeh dan suaminya hanya memiliki sebuah gerobak butut untuk tempat > tinggal. > > Di situ, ia beserta suami dan anaknya tidur. > Di situ juga ia menyimpan sedikit pakaian. > Dengan alat itu juga mereka hidup. > > Siang hari, gerobak adalah media kerja. > Dengan benda roda dua yang dibeli seharga Rp 125 ribu itu, Dedeh dan > suaminya Ripto (bukan nama sebenarnya), mengais rezeki. Mereka memunguti > koran, bungkus rokok, kertas, botol kemasan air, dan tentu saja kardus > bekas. > > "Untuk makan saja kami keteteran," kata Ripto. > Ia mengaku malu telah gagal sebagai suami dan orang tua seraya menunjuk > dua > anaknya yang badannya makin kurus. Penghasilannya dari mengumpulkan > barang > bekas tak mencapai Rp 10 ribu. > Padahal keluarganya terdiri dari empat orang. Dengan uang itu, ia kadang > hanya makan sekali atau paling banyak dua kali sehari. > > Lala dan Slamet sebetulnya dua dari empat anak mereka. > Keduanya dalam kondisi sakit dan sulit sembuh. > Batuk dan suhu badan mereka tinggi, sulit turun lantaran tidur pun > dilakukan > di udara terbuka. > Dari hidung mereka meleleh cairan kental kehijauan. > > Ripto tak punya pilihan. Ia tetap membawa kedua anaknya bekerja, atau > kadang meninggalkan mereka bermain di tepi kali, hingga ia pulang membawa > makanan. > > Seorang anaknya meninggal sesaat setelah dilahirkan. > Satu lagi yang lebih besar telah mencari uang sendiri > --menjadi pengamen. > > Ripto biasa membawa anak-anaknya bekerja. > Ia mendorong gerobaknya dari rumah ke rumah. > Mereka mengorek isi tempat sampah untuk mencari benda yang masih bisa > ditukar dengan sebungkus makanan. Pagi, saat orang membersihkan rumah dan > membuang benda yang dianggap tak berguna, adalah waktu bekerja bagi Ripto > dan keluarganya. > > Ripto bukan satu-satunya yang melakukan pekerjaan itu. > Di Jl Jawa sedikitnya terdapat 25 gerobak. Anak balita kerap tampak > berkeliaran di tepi jalan. > Berpakaian lusuh. Kulit kotor dan berkoreng. > > Di Jl Tanjung, Jl Sutan Sjahrir, Stasiun Cikini dan Gondangdia, serta > jalan-jalan lain di sekitar Menteng, gerobak dan anak-anak menjadi > pemandangan rutin. Dan barangkali orang pun akan memandangnya sebagai > manusia biasa ... yang tak kekurangan apa pun. > > "Kami semua senasib. Makanya seperti saudara," kata Ripto yang berasal > dari > Jawa Tengah. Mereka berasal dari daerah berbeda. Dedeh dari Lampung. > Keluarga Jiran dari Surabaya, Ramly dari Tangerang, dan banyak lagi yang > seolah hidup menyatu dengan alam. > > Sepanjang siang mereka berkeliaran. Baru menjelang sore, kelompok gerobak > ini membawa temuan mereka ke sebuah agen di dekat Stasiun Gondangdia. > Kertas dan aneka barang bekas lainnya ditukar dengan uang yang tak > seberapa. > Biasanya satu kilogram kertas bekas dihargai Rp 150 hingga Rp 250. > Setelah > memperoleh uang mereka pulang kembali ke Jl Jawa. > > Lala dan Slamet, serta bocah-bocah lain kawan mereka, terbiasa dengan > kehidupan itu. Mereka duduk dalam gerobak, menjadi satu dengan kardus dan > botol bekas, selagi ayah dan ibu mereka berkeliling. Kadang yang terlihat > hanya kepala mereka, menyembul di antara tumpukan kardus. > > Seperti layaknya pekerja, mereka juga punya jam istirahat. Siang sekitar > pukul 13.00 adalah saat mereka mengaso. Lihat saja tepi Kali Gresik. Di > bawah pepohonan, mereka menggelar alas dan merebahkan badan > --lalu terlelap sesaat. > > Momen ini kadang dimanfaatkan Lala dan Slamet, dua anak berusia tujuh dan > empat tahun, mengemis di perempatan jalan. > "Lumayan juga hasilnya. > Kadang bisa untuk beli nasi," kata Dedeh. > > Ia bercerita, anaknya, Slamet sudah memasuki usia sekolah. > Namun sekolah bukan perkara sederhana. > Butuh seragam, baju sekolah, dan tentu saja biaya. > Bagi dia yang rumah dan kadang untuk makan pun tiada, jalan dan alam raya > adalah pilihan satu-satunya. > > Kapasitas gerobak yang sangat terbatas tak memungkinkan Dedeh leluasa > bergerak. > Tak seperti keluarga lain yang hidup normal, Dedeh bahkan tak pernah > memasak. > Ia tak punya kompor dan panci atau alat memasak lainnya. "Di mana kami > bisa > masak?" > > Alasannya bukan sekadar lantaran ia hidup berpindah, tetapi juga karena > tak > ada tempat menyimpan. > Belum lagi jika ada penertiban. > Memasak di taman tentu terlarang. > Dan ia tak mau mengambil risiko alat-alatnya diangkut saat ia sedang > menanak > nasi. > Bisa mengaso di depan pagar rumah mewah tanpa diusir saja, menurut dia, > sudah merupakan anugerah. > > Sebungkus nasi dengan lauk tempe goreng kini mencapai Rp 2.000. > Dengan penghasilan suaminya yang hanya Rp 6.000 hingga Rp 10 ribu, ia > hanya > bisa membeli tiga bungkus. Untuk mengisi waktu, suaminya masih merasa > perlu > merokok dan anaknya kadang meminta jajan. > > Menjelang malam baru Dedeh dan anaknya kembali ke Jl Jawa. > Setelah memesan dua bungkus nasi yang dimakan berempat, mereka bersiap > tidur. > Ny Dedeh menggelar kardusnya di tepi jalan. > Sementara suaminya menyulut sebatang rokok. > > Di tepi jalan depan rumah mewah, Dedeh menidurkan dua bocahnya yang segera > terlelap. > Malam itu, cuaca cukup cerah. > Ia bergegas menutup gerobak dengan plastik yang biasanya hanya dipasang > saat > hujan. > Suaminya memberi isyarat untuk berada di dalam gerobak, berdua saja, tanpa > anak-anak. > Dedeh cukup mengerti.
*********** Dari Milis tetangga Dede Maulana Distributor Forever Young Indonesia I-614832 Anda ingin mempunyai Bisnis Sampingan yang secure dan Transfaran ? Bergabunglah bersama kami dan dapatkan ebooknya secara gratis dengan mengirimkan email kosong ke : [EMAIL PROTECTED] dengan subject : ebook Gratis atau Silahkan lihat di http://www.swausaha.com/members/maulana.html >> Kirim bunga ke kota2 di Indonesia dan mancanegara? Klik, http://www.indokado.com/ >> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
