Oleh Mulyawan Karim

Tak semua orang sadar, belakangan ini kerupuk tapioka bundar yang biasa dijual 
di dalam kaleng di warung-warung pinggir jalan ukurannya lebih kecil dari 
sebelumnya. Memangkas ukuran kerupuk merupakan salah satu kiat untuk bertahan. 

Dengan cara itu, para pengusaha kerupuk murah meriah tersebut bisa bertahan 
hidup di tengah meroketnya harga bahan bakar dan bahan-bahan baku saat ini.

"Tidak bisa tidak, kami harus mengecilkan ukuran. Kalau tidak, kami bisa 
bangkrut," kata Ny Erlin, pengusaha kerupuk warung, di rumah yang sekaligus 
menjadi pabriknya di Kelurahan Menteng, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, 
Kamis (27/3). Sejak Januari lalu, saat minyak tanah mulai langka dan harganya 
makin menggila, perempuan berusia 45 tahun itu mengurangi bahan adonan dari 17 
gram menjadi 11-13 gram per kerupuk.

Langkah yang sama diambil Haji Kusnadi, pengusaha kerupuk warung lain di daerah 
Tugu, Cimanggis, Depok. "Ukuran diameter adonan kerupuk sekarang saya perkecil 
dari 6 sentimeter menjadi 5,6 sentimeter," kata lelaki berusia 54 tahun itu.

Menaikkan harga jual produk dianggap para pengusaha kerupuk warung sebagai hal 
yang tak mungkin dilakukan. "Kerupuk ini, kan, makanan rakyat kelas bawah. 
Harga Rp 500 sudah maksimal. Kalau lebih dari itu, tak ada yang mau beli?" 
kilah Syamsuddin (66), pemilik pabrik kerupuk lain di Menteng Atas.

Namun, gara-gara minyak tanah harganya kini sudah mencapai Rp 6.000 per liter 
serta naiknya tepung tapioka, terigu, dan bahan baku lain, industri kerupuk 
rakyat ini terdera. "Terigu yang awal tahun ini masih Rp 92.500 per kuintal 
sekarang sudah Rp 180.000," keluh Ny Erlin yang menggunakan juga tepung terigu 
sebagai bahan racikan adonan kerupuknya.

Kembali ke kayu bakar

Sadar minyak tanah bersubsidi akan sepenuhnya hilang dari pasaran Jakarta dan 
harganya bakal tak terjangkau lagi, sejak beberapa bulan lalu perempuan yang 
mewarisi pabrik kerupuk dari ayahnya ini sudah mulai mengombinasikan penggunaan 
minyak tanah dengan dua jenis bahan bakar lain, yakni gas dan batu bara.

"Kalau pasokan minyak tanah sedang tersendat, saya pakai batu bara. Tetapi, 
karena pasokan batu bara dari perusahaan penyalurnya juga belum stabil, saya 
juga memakai gas," katanya. Menurut Erlin, penggunaan elpiji masih jadi pilihan 
terakhir. "Para karyawan saya umumnya, kan, berpendidikan rendah. Mereka belum 
terlalu sadar besarnya bahaya jika mereka kurang hati-hati dan tabung elpiji 
sampai meledak," tuturnya.

Erlin yang pabriknya membutuhkan 100 liter mintak tanah menambahkan, jika 
masyarakat diminta mengganti bahan bakar untuk memasak dari minyak tanah ke 
bahan bakar lain, seharusnya bahan bakar baru itu tidak lebih mahal dari harga 
minyak tanah. Itu sebabnya, ibu dua anak ini mengeluhkan harga tabung elpiji 15 
kilogram yang melonjak sampai Rp 500.000 per tabung sejak pemerintah melakukan 
konversi minyak tanah ke elpiji. "Untuk beli enam tabung gas saja saya sudah 
menghabiskan uang Rp 3 juta," ujar bos pabrik kerupuk Puji Rasa itu.

Untuk menekan biaya produksi, Haji Kusnadi bahkan mengaku sudah kembali mencoba 
menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar untuk mengukus adonan dan menggoreng 
kerupuknya. "Kayu didapat dari penebangan pohon milik warga di sekitar rumah 
saya. Alhamdulillah, ada saja tetangga yang menawari pohon tua untuk ditebang," 
cerita Kusnadi yang mengaku sengaja membeli gergaji mesin untuk keperluan ini.

"Saya sekarang juga menggoreng kerupuk memakai serbuk kayu sisa penggergajian 
para pembuat kusen yang banyak terdapat di sekitar pabrik saya yang di 
Cimanggis," kata pengusaha kerupuk yang punya dua pabrik di Beji dan Cimanggis 
ini.

Kebijakan kembali ke kayu bakar juga dipilih Haji Syamsuddin. Di gudang pabrik 
kerupuknya terlihat tumpukan potongan kayu bekas, bukan drum minyak tanah atau 
tabung-tabung elpiji.
Sumber hidup banyak orang.

Erlin mengaku sebetulnya sudah lelah mengurusi pabrik kerupuknya yang sudah 
berdiri sejak tahun 1949. "Saya tetap berusaha bertahan hanya karena memikirkan 
nasib para karyawan. Kalau pabrik ditutup, mereka, kan, akan jadi penganggur," 
kata Erlin yang punya 40 karyawan.

Para pekerja pabrik kerupuk di Jakarta umumnya adalah orang desa miskin dari 
daerah Ciamis, Jawa Barat. Mereka adalah orang-orang desa yang tak lagi bisa 
menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Mereka merantau dan mengadu nasib 
di Ibu Kota bukan untuk diri sendiri, melainkan juga untuk kehidupan anak-istri 
di kampung halaman.

Kusnadi juga bilang, pabrik kerupuknya tidak hanya menghidupi dirinya sendiri, 
tetapi juga segenap karyawannya. "Di seluruh wilayah Jabodetabek ada lebih dari 
400 pengusaha kerupuk. Kalau tiap orang mempekerjakan 30 orang saja, artinya 
ada 12.000 orang yang hidupnya bergantung pada industri kecil ini," papar 
Kusnadi, yang juga pengurus Asosiasi Pengusaha Kerupuk Se-Jabodetabek.
Namun, menggilanya harga bahan bakar dan bahan baku produksi membuat para 
pengusaha kerupuk ini terancam gulung tikar dan terpaksa merumahkan para 
pekerjanya.

Kalau hal ini benar-benar menjadi kenyataan, bukan mustahil kerupuk warung, 
yang entah sejak kapan sudah jadi teman setia makan kita sehari-hari, akan 
segera jadi sejarah, punah digulung zaman.

Kompas - Jumat, 28 Maret 2008 | 01:04 WIB 

Kirim email ke