Friday, October 26, 2007
Simply Sedap!: Kambing Oven dan Kepiting Cak Gundul 




Oleh-oleh dari Surabaya #2


Sepeti halnya Jakarta, Surabaya juga dikenal sebagai gudang makanan yang 
beraneka ragam. Ada beberapa resto yang menjadi favorit saya diantaranya 
adalah, kambing oven Madinah, dan Kepiting Cak Gundul. 


Bagi penggemar sate kambing, kambing oven adalah pilihan yang harus dicoba. 
Sajian kambing oven berbeda dengan sate, yaitu daging kambing yang dipotong 
kecil-kecil. Kambing oven disajikan dalam porsi yang cukup besar dalam satu 
potong. Lebih besar dari sajian iga bakar di restoran-restoran khusus iga. 
Sejatinya potongan sebesar kambing oven ini memang hidangan khas orang arab. 
Daging kambing oven sangat lunak, jauh lebih lunak dari sate. Kambing oven 
dipadukan dengan bumbu kacang atau kecap sesuai pilihan, serupa bumbu-bumbu 
sate kambing. 


Dari namanya, bayangan saya, lunaknya kambing oven itu karena dimasukan dan 
dibakar di dalam oven. Ternyata itu salah. Kambing oven dimasak menggunakan 
sistem pemanasan uap bertekanan tinggi. Mungkin proses pembuatannya mirip 
seperti bandeng presto. Setelah daging dipotong, daging kambing dimasukan ke 
dalam panci yang berisi air dan bumbu-bumbu. Panci tersebut bukan sembarang 
panci, karena panci harus tahan terhadap tekanan uap yang tinggi. Dengan 
dipanaskan di kompor selama waktu tertentu maka akan terbentuk uap bertekanan 
tinggi. Membuka panci kambing oven ini pun tidak boleh sembarang, terlebih 
dahulu uap panas harus dibuang, setelah itu baru tutup panci bisa dibuka. 
Apabila tidak demikian, maka "bisa mbledos!", begitu kata si pramusaji. Setelah 
di oven, untuk penyajian kepada pelanggan, kambing oven dibakar terlebih 
dahulu. Kambing oven sering disebut juga sebagai kambing uap, atau kambing 
bakar. 


Resto favorit saya yang menyajikan kambing oven adalah Rumah Makan Madinah yang 
terletak dibelakang Hotel Grand Kalimas, daerah Ampel Surabaya Utara. Daerah 
tersebut merupakan perkampungan orang Arab. Mungkin kalau di Jakarta seperti 
Kampung Melayu. Daerah Ampel sangat ramai karena di tempat tersebut terdapat 
situs masjid Sunan Ampel yang tak pernah sepi dari peziarah. Selain Madinah, 
masih banyak lagi rumah makan yang menyediakan kambing oven seperti Rumah Makan 
Yaman. Tapi, kata para jamaah/orang arab, Rumah Makan Madinah lebih ajib. Harga 
kambing oven berkisar antara Rp. 20.000,- sampai Rp. 25.000,-. Selain kambing 
oven, rumah makan juga menyediakan hidangan kambing dan khas arab lainnya 
seperti sate, gule, krengsengan, dan nasi kebuli. 


Di Jakarta, jarang sekali ada warung sate yang menyediakan kambing oven. Namun 
apabila anda ingin mencoba anda bisa mampir ke rumah makan arab yang banyak di 
daerah Cikini, Matraman, maupun Jl. Tambak Manggarai. Untuk menjamu tamu, saya 
sarankan rumah makan Aljazeera di dekat Rumah Sakit Cikini. Sip deh.


Favorit saya yang kedua adalah Kepiting Cak Gundul. Awalnya saya tidak antusias 
makan kepiting, karena selain sulit makannya juga menurut saya tidak istimewa. 
Tapi semuanya berubah ketika saya berkesempatan mampir di warung Kepiting Cak 
Gundul yang asli di daerah Pandaan, yaitu dalam perjalanan Malang Surabaya. 
Waktu itu saya sangat terkesan dengan kepiting telor yang digoreng asem manis. 
Wuenak tenan. Saya sangat gembira ketika Cak Gundul akhirnya mau membuka cabang 
di Surabaya tepatnya di dekat hotel Somerset daerah Kupang Indah. Mungkin salah 
satu alasannya karena sebagian pelanggan Cak Gundul di Pandaan orang Surabaya 
dan lagipula lumpur lapindo telah mengisolir Surabaya dari daerah selatan dan 
timur Surabaya sehingga pastilah omset Cak Gundul Pandaan turun drastis. Entah 
apa resepnya, kepiting Cak Gundul menjadi sangat istimewa. Tip saya, jangan 
makan nasi duluan, nikmati dulu kepitingnya, nasi hanya sebagai pelengkap. Itu 
diperlukan agar kapasitas perut anda tidak terbatas. Apalagi di warung Cak 
Gundul di Surabaya, sebelum menuju ke tempat duduk, kita bisa menyaksikan 
eksotisme memasak kepiting. Anda juga dipersilahkan memilih kepiting, apakah 
yang besar, kecil, jumbo, kepiting telor atau biasa. Favorit saya adalah 
kepiting telor dimasak asem manis. Satu orang kira-kira menghabiskan Rp 
20.000,- sampai Rp. 35.000,- untuk menikmati hidangan Cak Gundul. Hati-hati 
jangan terlalu banyak makan kepiting, ingat kolesterol anda dan bibir anda yang 
bisa dower. Oiya, kepiting adalah makanan halal, saya pernah memastikannya 
lewat publikasi yang dikeluarkan MUI. 


Salah satu hidangan terkenal Surabaya juga sudah ada di Jakarta yaitu Rawon 
Setan. Ha ha, dagingnya gede-gede kalau di Surabaya ramainya setelah jam 10 
malam. Di Surabaya di depat hotel Maryoto, eh Marriot, kalau di Jakarta ada di 
Jalan Casablanca dekat stasiun Tebet. But frankly speaking, saya tidak terlalu 
suka rawon.


Surabaya. sedaaaaap. Bagaimana anda menikmati Surabaya?


Diposting oleh Dikky Z di 1:48 PM    

Label: Kuliner 


0 komentar: 
Post a Comment 

Newer Post Older Post Home 
Subscribe to: Post Comments (Atom) 



http://dikkyz.blogspot.com/2007/10/simply-sedap-kambing-oven-dan-kepiting.html

<<Kepiting.jpg>>

<<Daging+kambing.jpg>>

<<icon18_edit_allbkg.gif>>

Kirim email ke