Sosok dan Usaha

Oleh Lukas Adi Prasetya

"Kalau makan enggak ada sambalnya, saya enggak ada selera. Banyak lho yang 
seperti itu," begitu alasan Yoyok (34) saat ditanya asal muasal ia terjun 
jualan sambal dengan membuka Waroeng Spesial Sambal. Bisnisnya itu kini meluas 
hingga menjadi 28 warung.

Warung pertamanya di Jalan Kaliurang, tepatnya sebelah barat Grha Sabha Pramana 
Universitas Gadjah Mada. Untuk Yogyakarta, ada 13 warung. Warung lainnya 
tersebar dari Jakarta, Semarang, Bandung, Solo, Klaten, Malang, Karanganyar, 
hingga Pekanbaru.

Para penggemar sambal di Yogyakarta tentu pernah datang ke Spesial Sambal atau 
SS miliknya. Inilah "surga" bagi mereka yang mencari nuansa huah-huah lalu 
mulut kepanasan, tetapi tetap menantang untuk dijajal terus. Setidaknya ada 22 
jenis sambal bisa dipilih, dari sambal belut, sambal teri, sambal terasi segar, 
hingga sambal bawang.

Benar-benar menggoda bagi orang yang perutnya cukup kuat menahan sensasi pedas. 
Sambal, di tangan pemuda bernama lengkap Yoyok Hery Wahyono itu, menjelma 
menjadi teman nasi yang utama, sementara menu lauk lain hanya sebatas pelengkap.

Membuka 28 warung di usia yang sangat muda jelas prestasi yang membanggakan. 
Namun, lajang kelahiran Boyolali, 2 September 1973, itu merendah. "Saya bukan 
pengusaha, hanya wiraswastawan penjual sambal. Hanya jualan sambal karena hobi 
makan sambal," ucapnya, Senin (7/4).

Berawal dari hobi makan sambal sekaligus masak sambal itulah, tahun 2002 lalu 
ia membuka warung dengan dibantu enam karyawan. Awalnya hanya ada 11 sambal 
dalam daftar menu SS. Lambat laun variasi sambal tadi ditambah agar pelanggan 
tidak bosan.

Yoyok menggeluti dunia persambalan karena ia merasa jenuh kuliah di Jurusan 
Teknik Kimia UGM. Ia merasa lebih cocok kuliah di jurusan Sastra. Namun, semua 
sudah telanjur, dan kini ia sudah tidak berminat lagi kuliah di perguruan 
tinggi. Gagal di perguruan tinggi, Yoyok malah terdampar di kaki lima. Ia lebih 
memilih "kuliah" di kaki lima alias membuka usaha kecil-kecilan di trotoar 
jalanan.

Namun, sebenarnya di sisi lain Yoyok aktif berorganisasi dan pernah menjadi 
aktivis. Pernah pula ia jadi marketing di beberapa media cetak lokal. Sebelum 
membuka warung SS kaki lima, ia mendirikan event organizer InSEd Production. Di 
situ sebenarnya ia mengasah jiwa wirausahanya.

Jangan menyerah

Menyinggung usaha sambalnya yang berkembang, dia menyebut itu adalah imbas dari 
hobi dan ketelatenan. "Meramu cabai hingga jadi sambal butuh ketelatenan dan 
insting yang berangkat dari hobi. Selain itu jangan mudah menyerah," katanya.

Beranjak dari itulah, ia menahan diri tidak menerapkan cara-cara franchise 
dalam usaha. Sudah lebih 100 orang pernah melontarkan itu. Alasan Yoyok adalah 
ia tak mau ada orang yang telanjur keluar uang untuk bisnis sambal, tapi nanti 
kecewa karena tidak mendapat untung banyak.

"Saya berkata sungguh-sungguh. Keuntungan dari usaha sambal saya ini masih 
minim, lha wong warung saya itu, kecuali di sini (di kantor SS di Barek, Jalan 
Kaliurang), masih kontrak. Namun, saya cukup senang karena bisa memberi 
pekerjaan 250 orang," ujarnya.

Yoyok senang karena bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain. Di sisi lain, 
ke dalam, ia berusaha menjaga komunikasi dengan para karyawan. Tak heran karena 
banyak dari karyawannya adalah karyawan lama. Investasi usaha juga berarti 
nguwongke para tenaga kerja. Karena karyawan yang loyal dan bekerja keras, 
Yoyok yakin, usahanya akan terus hidup.



Kompas - Selasa, 8 April 2008 | 11:10 WIB 

http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.04.08.11105781&channel=2&mn=167&idx=167

Kirim email ke