Urusan perut? Jangan khawatir. Lidah anda akan dimanjakan dengan masakan khas Banyumas tempo dulu seperti buntil, soto sokaraja, dan sebagainya. Semuanya disajikan dengan piring dan gelas dari tanah liat.
Kawasan wisata ini dibangun menyerupai kampung pada 1960-an. Serba alami dan asri. Menghirup hawa segar di kawasan hutan belantara mungkin pernah Anda lakukan. Begitu pun menikmati deburan air terjun yang sejuk, atau menyambangi suatu tempat yang sarat tantangan. Tapi, pernahkah Anda tinggal beberapa malam di satu kawasan yang mengkombinasikan ketiga hal tadi? Itulah eksotika yang ditawarkan Kampoeng Panginyongan. Berada di Banyumas, Jawa Tengah (Jateng), Kampoeng Panginyongan merupakan objek wisata pertama milik Perum Perhutani Unit I Jateng yang menghadirkan cita rasa kehidupan tempo dulu. Suasananya begitu damai, syahdu sekaligus menantang. ''Tempat ini cocok menjadi obat penghilang stres, karena suasananya begitu kampung,'' kata Rusharto, pengelola objek wisata Kampoeng Panginyongan yang diresmikan akhir Februari lalu. Kampoeng Panginyongan (dalam bahasa Banyumas berarti kampung saya) berada di dalam kawasan objek wisata Curug Cipendok, Kecamatan Cilongok, sekitar 25 km arah barat Purwokerto. Luas kampung itu sekitar 47 hektare. Untuk menuju kampung ini, Anda mesti ekstra hati-hati. Paling tidak, kendaraan yang Anda tumpangi, benar-benar sehat. Ini karena jalan menuju ke sana serba menanjak dengan kemiringan sekitar 40-50 derajat. Jalan yang ada juga tak cukup lebar -- hanya cukup untuk berpapasan dua kendaraan. Begitu sampai di Kampoeng Panginyongan, Anda akan ditantang untuk mendaki jalan setapak sejauh 3 km menembus hutan yang masih perawan. Perjalanan ini memang menguji stamina kita. Sepanjang perjalanan, indera penglihatan Anda akan dihibur oleh rindangnya pohon-pohon besar berusia ratusan tahun dengan akar sebesar paha orang dewasa mengular ke mana-mana. Sementara pada batang-batang pohon, tumbuh anggrek hutan warna-warni. Tanaman unik seperti kantong semar, juga aneka kupu-kupu, ikut menyegarkan mata. Dalam perjalanan menuju ketinggian 750 meter dari permukaan air laut, Anda juga akan dihibur oleh gemericik air yang mengucur dari sela-sela akar pohon. Air yang keluar itu kemudian menyatu menjadi semacam sungai kecil yang jernih. Di salah satu sudut jalan yang dilalui, Anda juga akan menyaksikan pemanfaatan air tadi untuk menggerakkan turbin kecil. Listrik yang dihasilkan turbin tadi lalu dipakai untuk menerangi kawasan hutan perawan tersebut pada malam hari. Jika beruntung, Anda bisa bertemu dengan kera berdada abu-abu yang bergelantungan di pohon. Suara kera yang saling bersahutan seolah simfoni merdu yang mengiringi perjalanan Anda. Hutan yang ditumbuhi beberapa jenis pohon seperti jati, beringin, dan plalar ini juga menjadi rumah bagi beberapa jenis satwa yang dilindungi pemerintah. Sebut saja misalnya, elang jawa dan harimau. ''Di hutan ini memang ada harimau namun berapa populasinya masih kita hitung. Semua binatang itu bisa kita undang melalui jasa pawang. Istilah di sini kalau mau melihat harimau harus 'mancing' macan dulu,'' tambah Rusharto. Jungle house Setelah bercucuran keringat, Anda akan sampai di sebuah tempat yang eksotik. Itulah Kampoeng Panginyongan, sebuah kawasan yang ditata menyerupai suasana kampung pada sekitar tahun 1960, yang alami dan asri. Di tengah kampung tersebut, terhampar sebuah telaga besar bernama Telaga Pucung. Luasnya sekitar 1 hektare. Air di telaga tersebut cukup tenang namun jernih. Jika siang hari, telaga tersebut berubah menjadi sebuah cermin besar untuk menonton atap langit. Berbagai macam ikan kecil hingga seukuran telapak tangan berseliweran ke sana ke mari. Di sekeliling Telaga Pucung tadi, berdiri beberapa rumah atau jungle house yang bisa disewa wisatawan. Namanya, jungle house atau lebih mirip disebut cottage. Di sekeliling telaga, tersedia lima jungle house. Dua bangunan berjejeran, sedang tiga lainnya menyebar, mengapit beberapa pohon besar. Satu jungle house mampu menampung 3 - 4 orang. Bergaya klasik, bangunan penginapan ini dibuat dari campuran kayu, bambu, dan beberapa bahan lain. ''Fasilitas yang ada hanya itu, tidak ada telepon dan televisi. Listrik yang ada hanya dipakai untuk penerangan saja,'' tutur Rusharto. Di kampung ini, tersedia pula panggung budaya, tempat penjualan cenderamata, dan restoran. Pada malam hari, suasana di kampung tersebut sangat tenang dan romantis. Jangan berpikir, Anda bakal kesepian selama tinggal di sana. Sebab, pengelola sudah menyiapkan seabrek acara menawan dan serba tradisional. Ada suguhan dalang jemblung, rampak lesung, begalan, dan sebagainya. Semua itu merupakan kesenian tradisional khas Banyumas. Anda yang suka tantangan boleh mengikuti beberapa aktivitas menarik seperti melukis, membuat gula kelapa, menari tradisional, dan berlatih gamelan. Urusan perut? Jangan khawatir. Lidah anda akan dimanjakan dengan masakan khas Banyumas tempo dulu seperti buntil, soto sokaraja, dan sebagainya. Semuanya disajikan dengan piring dan gelas dari tanah liat. Untuk minuman, Anda bisa menikmati minuman dari nira kelapa yang sungguh nikmat. Minuman tersebut dipercaya mampu mengembalikan stamina yang terkuras selama perjalanan menuju Kampoeng Panginyongan. ''Kalau malam, suasananya sangat menyenangkan karena kita dapat mendengar suara binatang mulai dari raungan harimau hingga jeritan kera hingga pagi hari.'' Pagi harinya, Anda bisa jalan-jalan pagi mengunjungi bumi perkemahan, kawasan outbond, jungle tracking, Curug Cipendok, dan kebun stroberi yang dalam waktu dekat akan dibangun. Anda tertarik? Siapkan saja agenda untuk segera menyambangi kampung ini. Pihak Perhutani sudah menawarkan paket wisata untuk 20 orang dengan biaya hanya Rp 6 juta. Silakan pilih paket wisata yang Anda sukai, Paket Waru Doyong atau Rujak Siwur. (n wab) Republika, 6 April 2008 mediacare http://www.mediacare.biz
