Nana Podungge, Semarang

SATE AYAM merupakan salah satu menu yang selalu kucari tatkala menghadiri suatu 
acara yang melibatkan makan-makan. Namun herannya, tatkala orang bertanya 
kepadaku, “What’s your favorite food, Ma’am?” aku hampir tidak pernah menyebut, 
“Chicken satay.” Biasanya yang selalu kusebutkan pertama kali adalah nasi 
goreng, kemudian berturut-turut pecel, gado-gado (dua jenis makanan yang 
memiliki bumbu yang mirip sambal kacang), petis kangkung, rujak, bakmi—baik 
bakmi Jowo maupun bakmi Suroboyo—baru ke cap cay dan kwetiau. (For kwetiau, I 
owe my ex very pretty private student who once cooked kwetiau for me when I 
arrived to her house, to give her private class, saying that it was her 
favorite food to cook. Sebelum itu, aku belum pernah makan kwetiau. LOL. Better 
late than never, eh? LOL.)
Seandainya aku menemukan sate ayam di antara banyak jenis makanan lain di dalam 
sebuah resepsi, aku pasti akan bercerita ke orang rumah, “Makanannya enak, 
karena ada sate ayam!” LOL. Kalau tidak ada, aku akan bilang, “Lumayan sih, 
sayangnya ga ada sate ayam.” 


Beberapa tahun lalu, aku mendapatkan undangan resepsi pernikahan dimana menu 
makanannya kebanyakan masakan oriental (sayangnya cap cay dan kwetiau yang bisa 
dimasukkan Chinese food tidak ada), dan tak ada sate ayam, aku mengeluh, “I 
don’t need this foreign kind of food. Ga usahlah nyediain makanan yang 
mahal-mahal gini, cukup dengan sate ayam aja, I will love it a lot.” 


*****


Ada sebuah restoran yang khusus menjual berbagai jenis sate, tidak jauh dari 
lokasi sekolah Angie. Aku pun telah bilang kepadanya untuk kapan-kapan mampir 
ke situ. Namun, berhubung Angie tidak begitu suka sate, sampai sekarang kita 
belum pernah mampir kesana. Malah kita berdua sudah ke rumah makan yang 
berjualan bakso, yang terletak di samping restoran sate itu, meskipun rumah 
makan ini baru buka beberapa bulan yang lalu (Aku selalu mengalah kepada selera 
Angie tatkala memilih satu tempat makan ketika kita berdua sedang eating out.) 


Satu peristiwa terjadi kurang lebih dua minggu yang lalu yang membuatku harus 
mengubur keinginanku mengajak Angie mampir ke restoran sate itu. Dua rekan 
kerjaku yang pernah ke sana, bercerita, “It is too damn expensive!!! Masak satu 
porsi sate yang berisi tiga tusuk sate, baik ayam maupun kambing, harganya Rp. 
18.000,00” Uh .. oh ... goodbye deh ... Jelas bukan kelas kantongku deh rumah 
makan ini. LOL. Maklum, kalau makan sate ayam, satu porsi bagiku minimal 10 
tusuk lah. LOL. Tiga tusuk doang mana cukup?


*****


Selasa malam 5 Februari 2008, sepulang dari kantor, sekitar pukul 21.15 tatkala 
memasuki halaman rumah tempat tinggalku, ada seorang penjual sate ayam sedang 
nongkrong di tembok dekat pintu pagar. Hal ini sebenarnya merupakan pemandangan 
yang sangat jamak bagiku, karena si Bapak penjual sate ayam itu memang sering 
nongkrong di situ, menunggu pembeli. Satu alasan utama yang membuatku tidak 
pernah membeli sate ayam jualannya adalah karena malam telah lumayan larut. 
Kalau jam segitu aku baru memesan sate, jam berapa aku akan selesai memakannya? 
Jam berapa aku akan berangkat ke peraduan? Masalahnya, kalau mataku telah 
ngantuk berat, sehingga aku terpaksa tidur dalam kondisi perut terisi penuh, 
keesokan harinya, plus beberapa hari sesudahnya, aku akan stress karena lemak 
di perutku akan semakin menebal. Dengan perut berlemak berlebihan, aku akan 
kesulitan kalau duduk di atas lantai, di hadapan monitor komputer. Kalau 
berjalan rasanya juga bakal terganjal lemak di perut ini. Baju pun bakal sangat 
ngepas di badan, bahkan sesak. Wis to, pokoke rak enak poll. LOL.


Namun hari Selasa 5 Februari kemarin beda. Perutku lapar. Plus ada satu kerjaan 
yang mau tak mau harus kulakukan sebelum tidur  mencuci seragam sekolah Angie. 
Dan agar bisa kukeringkan menggunakan mesin pengering, aku harus mencuci 
pakaian dalam jumlah yang cukup banyak. (FYI, mesin cuci di rumah suka ‘ngamuk’ 
kalau ‘dipaksa’ mengeringkan cucian dalam jumlah yang sedikit. LOL. 
Berguncang-guncang kesana kemari plus suara gedebag gedebug ga karuan.) Dalam 
keadaan lapar, aku harus mencuci pakaian dalam jumlah yang lumayan banyak, aku 
bakal pingsan kali ya? LOL. Dan, mencuci akan ‘memaksaku’ untuk tetap melek, 
bahkan mengeluarkan energi, sampai kurang lebih 2 jam setelah makan. 2 jam 
merupakan waktu yang cukup untuk ‘membuat makanan turun ke bawah’ sehingga 
tidak akan terlalu membuat perutku (tambah) gembul. LOL.


So, sebelum memasukkan motor ke dalam garasi, aku menghampiri si Bapak penjual 
sate, “Pak, sejinah pinten, nggih?”


“Biasa to mbak, petung ewu.”


“Nggih pun Pak, kulo pesen sejinah nggih? Sa’niki kulo mlebet rumiyin, ajeng 
mendet piring.”
“Nggih mbak.” 


Aku sengaja tidak menutup pintu garasi, bahkan membiarkannya terbuka lebar. 
Namun, adikku yang datang tak lama kemudian, menutup pintu garasi, sembari 
terheran-heran, “What the hell has happened? Why was the garage door widely 
open?” aku yakin dia bertanya-tanya pada diri sendiri.


Tatkala aku keluar sembari membawa piring, sebelum adikku bertanya, aku 
langsung bilang, “Aku beli sate.”


“Oh ...” sahutnya pendek.


Setelah aku keluar, si Bapak bertanya, “Itu tadi adik ya mbak?” (FYI, 
perbincanganku dengannya menggunakan boso Jowo kromo madyo.)


Aku mengiyakan. Setelah itu, ternyata si Bapak termasuk orang yang cukup 
talkative dan hobby bergosip ria. LOL. Dia menyebut nama-nama orang penghuni 
kawasan Pusponjolo yang telah pindah, juga termasuk salah satu criminal yang 
‘hobby’nya mencuri barang-barang milik tetangga sendiri. 


Waktu aku bilang, “Bapak tahu banyak sejarah orang-orang yang tinggal di sini 
ya?” dia mengaku pindah ke Pusponjolo tahun 1978, tiga tahun sebelum keluargaku 
menempati rumah yang beralamatkan di PT56. Setelah itu aku baru nyadar, bahwa 
pertanyaan, “Itu tadi adik ya mbak?” hanya merupakan basa basi belaka. I 
believe he must have known about my family. 


Malam itu aku jadinya memesan “rong jinah” alias dua puluh tusuk sate karena 
Mami plus kedua adikku masih melek, dan bersuka cita untuk membantuku 
menghabiskan sate. Angie telah tidur nyenyak, tentu kecapekan karena 
mengerjakan tugas sekolah, seusai jam sekolah. 


Waktu makan rame-rame itu, aku baru nyadar bahwa aku selalu “melupakan” sate 
ayam sebagai salah satu makanan terfavorit. Untuk itu pulalah aku merasa 
‘perlu’ menulisnya untuk blog so kalau pembaga blog ada yang akan mengundangku 
makan, jangan lupa sediakan sate ayam sebanyak-banyaknya buatku yah? LOL. 


PT56 16.25 07012008

Diposting oleh A Feminist Blog di 19:54:00 1 komentar Link ke posting ini  

Label: daily 

http://serbaserbikehidupan.blogspot.com/

<<icon18_edit_allbkg.gif>>

Kirim email ke