FJB 2008 - Surabaya
Sate Buntel ; Empuknya Daging Kambing, Tanpa Ngotot. Foto: An.Kusnanto
Cacahan daging kambing yang super gede, dijamin bikin perut kenyang meski cuma
setusuk.
Di Festival Jajajan Bango yang berlangsung di Stadion Brawijaya Surabaya, 10
Mei lalu. Saya menemukan menu nyentrik ini. Namanya sate buntel. Ya, bentuknya
seperti buntelan karung, tapi yang ini adalah cacahan daging kambing yang
dibuntel dengan lembaran lemak daging kambing.
Stand Sate Buntel Karmen ini ramai sekali dipadati pengunjung. Saya pun harus
ndhusel sana-sini agar bisa ikutan menikmati. Ah, beruntung banget saya bisa
deket sama yang bakar. Yah, lumayan adem kena kipasan Mas yang bakar sate. :)
Satenya gedeeeee
..banget. Kata Mas-nya, satu tusuk sate ini kalau ditimbang
beratnya satu ons lebih.
Daging kambing yang dicacah ini kemudian dipadukan dengan rempah-rempah, lalu
dibalut dengan lemak daging kambing yang tipis. Dibakar di atas arang, sambil
beberapa kali dicelup dalam bumbu kecap.
Di tengah-tengah acara manggang ini, si Mas ini mengiris-ngiris cacahan daging
ini. Tentu maksudnya biar daging, dan bumbu celupnya makin merasuk. Tapi,
sekilas saya melihat teknik khusus untuk mengirisnya. *gaya a la detektif Conan.
Sebab daging cacahan ini tidak hancur, padahal selaput lemak yang menutupinya
sudah terbakar. Ternyata benar dugaan saya. Ah, mbak ini kok, yo ngerti aee
!
kata si Mas-nya tersipu malu, dipuji sama wong lemu kayak saya ini.
Kata si Mas, yang mengenakan kaos Kecap Bango ini, cara mengirisnya tidak
sembarangnya. Timingnya harus pas, keadaan dagingnya harus dalam kondisi
setengah matang. Inilah kunci dagingnya tidak berantakan.
Wah, pesanan saya sudah matang. Baunya sedep banget. Agar lebih maksimal
menikmati, saya sengaja nggak nambah nasi. Sate ini saya sikat bersama bumbu
kecap dan sedikit sambal. Hmm
enak bangett.
Soal sejarah sate nyentrik ini, Bu Husnul si empunya sate karmen, berbagi
cerita kepada saya. Katanya, aslinya makanan ini berasal dari Jawa Tengah,
tepatnya kota Solo. Pusatnya di jalan Baja, katanya. Sedangkan di Surabaya,
tepatnya di jalan KARang MENjangan sudah ada sejak tahun 1987.
Spesial untuk FJB ini Bu Husnul menyiapkan 500 tusuk sate. Dan harganya sama
dengan kalau kita menyantap di restonya yaitu Rp 10 ribu. Memang yang nge-TOP
itu sate buntelnya, tapi tongseng sama gulenya juga enak, lho. Mau nyoba ?
tawar Bu Husnul. Hah !! Aku disuruh nyobain ! Please deh, *Ngacirrrr dulu
sebelum menuruti hawa nafsu
Posted by Si Jagoan Makan at 12:00 AM 18 comments
Labels: Festival Jajanan Bango 2008
Salam,
http://sijagomakan.com