Sabtu sore tgl. 10 Mei yang lalu kami berada di Jogjakarta. Acara 
wajib setiap kami ke Jogja adalah makan tongseng kepala  dan Sate 
Klathak di Sate Pak Nano, Jl. Ringoad Selatan. Saya baru tahu kalau 
ternyata nama Desanya adalah Menayu Kulon, setelah membaca artikel 
Butet Kartaredjasa di Kompas Minggu keesokan harinya. Ternyata mas 
Butet juga pelanggan tongseng Pak Nano. 

Pak Nano adalah andalan kami untuk  Tongseng dan Sate Klathak (sate 
kambing yang dibakar tanpa kecap, hanya dibumbui bawang putih, garam 
dan lada). Kami sudah menjadi  langganan  beliau sejak 11 tahun 
lalu, sejak  jualannya masih nunut di emperan rumah orang di daerah 
Wirobrajan. 

Tongseng kepala bikinan Pak Nano sampai saat ini, bagi kami, belum 
ada yang mengalahkan. Rasanya sulit dijabarkan  dengan kata-kata, 
selain satu: Juara! Kuahnya nyemek khas tongseng Jogja, beda dengan 
tongseng gaya Solo yang kuahnya cenderung banjir  (mungkin 
terinspirasi oleh sungai bengawan Solo). Pak Nano selalu menambahkan 
irisan cabe rawit secara generous pada semua masakannya, tak peduli 
dengan berfluktuasinya harga cabe rawit. Disini cabe rawit selalu 
diberikan dengan senang hati sebanyak apapun kita minta. Pak Nano 
sering nakal, jika kita minta cabe 5, maka yang diberikan seringkali 
8 atau bahkan 10, alhasil kami semua megap-megap kepedesan! 
Bayangkan saja, piring tongseng kecil ukuan 7 inchi kuahnya cuma ½ 
irus kecil tapi cabe rawitnya 10, wah rasanya pengin memanggil 
pemadam kebakaran. 2 gelas teh panas tawar kadang belum cukup untuk 
meredakan kebakaran di lidah kami. 

Pada awalnya saya curiga,jangan-jangan rasa enaknya adalah karena 
kepedesan itu, sehingga menutup rasa yang lainnya. Namanya 
juga "kapok Lombok", pada waktu makan lombok/cabe kita kapok karena 
kepedesan, namun toh makan lagi, karena kenikmatan yang didapat 
tenyata sebanding. Seiring dengan waktu ternyata anggapan saya 
salah. Saat ini Pak Nano sudah bisa berkompromi dengan para 
pelanggannya. Yang kurang suka pedas menyengat (istilah Pak Nano 
adalah pelanggan Balita) akan dilayani dengan senang hati, tidak 
dinakali lagi seperti dulu-dulu. Jadi saya bisa memesan tongseng 
dengan rasa pedas yang sesuai selera, sehingga rasanya secara 
keseluruhan lebih dapat dinikmati. Setelah bisa merasakan 
tongsengnya dengan tenang tanpa gangguan ketakutan 
akan "kebakaran" , maka saya bisa menemukan kekayaan rasa yang 
lainnya, yang diramu dengan hati-hati oleh Pak Nano. Bawang merah, 
bawang putih, kemiri, lada putih, lada hitam, jintan bahkan juga 
daun jeruk yang dirajang sampai hancur hampir menyerupai bubuk. 
  
Pak Nano selalu menyediakan porsi sejumlah tertentu setiap hari, 
tidak lebih. Jika habis ya tutup. Padahal kalau mau bisa saja beliau 
berjualan sepanjang hari, karena setiap hari selalu ada pelanggan 
yang "kecele". Meskipun demikian beliau tidak mau menambah porsi. 
Rejekinya ya sudah segitu, begitu falsafah beliau. Omsetnya boleh 
dibilang lumayan untuk warung makan di pinggiran, meskipun demikian 
Pak Nano sangat bersahaja. Sandal Theklek (bakiak), kaos oblong dan 
celana pendek  ala bakul dawet adalah seragamnya sehari-hari. 
Singgasananya adalah sebuah dingklik (bangku kayu pendek) yang 
berada di depan anglo yang akan dipakainya untuk memasak. Di kanan 
kirinya terletak angkring. Angkring sebelah kanan berisi kuali 
tempat kaldu kambing (untuk kuah  tongseng). Di atas  kuali ini 
diletakkan tampah yang isinya kepala-kepala kambing, balungan dan 
otak  yang sudah dimasak  sebelumnya. Kuali sebelah kiri dipakai 
untuk tempat bumbu-bumbu andalan.

Selain sebagai pedagang tongseng, pekerjaan Pak Nano yang utama 
adalah sebagai abdi dalem keraton Yogyakarta. Profesi ini secara 
tidak sengaja saya ketahui ketika pada satu acara sekaten 7 tahun 
lalu saya menemukan Pak Nano berbaris di bawah naungan Pasukan 
Lombok Abang, lengkap dengan seragam luriknya. Pengabdian kepada 
Sultan adalah wajib, karena Sultan adalah wakil Tuhan YME, pelindung 
umat di Jogjakarta. Duh, pas ya dengan suasana 100th kebangkitan 
nasional, sangat patriotic. 

Berbincang dengan Pak Nano selalu mengasyikkan. Lidahnya "cukup 
cerdas" ( istilah ini sekarang sedang naik daun ya?), mungkin karena 
terbiasa makan enak yang bermula dari masakan sendiri. Dari hasil 
pertukaran perbendaharaan dengan beliau, kami menemukan beberapa 
tempat makan "baru"  yang setelah kami coba ternyata memang 
mengharukan enaknya. Brongkos warung ijo, Bebek Bacem Pasar Ngino, 
Bakmi Bu Slamet di Tamansari adalah beberapa tempat yang kami 
datangi atas rekomendasi beliau dan kami setuju bahwa memang tempat-
tempat tersebut "patoet dipoedjikan".

Salam//MaYa - Cinere

SATE  Pak Nano
Desa  Menayu Kulon -  Ringroad Selatan - Bantul - DIY. 
Telp. 0274-7484197 
           


Kirim email ke