Oleh Th. D. Wulandari

'Tidak ada kecap nomor dua, semua nomor satu.' Itulah joke yang ada di 
masyarakat. Hanya saja, strategi bisnis yang tepatlah yang akan menjadikan 
sebuah merek kecap benar-benar menjadi nomor satu. 

Menyambut 100 tahun Kebangkitan Nasional tahun ini, banyak kegiatan dilakukan 
dengan mengangkat tema nasionalisme. Tema itu pula yang diangkat Kecap Bango 
milik PT Unilever Indonesia Tbk saat mengusung Festival Jajanan Bango (FJB) 
tahun ini yang bertujuan melestarikan makanan tradisional Indonesia.

Apalagi tahun ini juga bersamaan dengan perayaan 80 tahun Bango sebagai merek 
kecap asli Indonesia, sehingga tema yang diangkat adalah 80 Tahun Bango, 
Kualitas Sepanjang Masa.

"Digelarnya FJB menjadi dukungan program Visit Indonesia Year 2008 melalui 
wisata kuliner karena makanan adalah bagian yang penting dari budaya," ujar 
Okty Damayanti, Food Managing Director PT Unilever Indonesia Tbk. 

Sebagai produk asli Indonesia, Bango seakan menjadi merek dagang yang tidak 
lepas dari citra masakan Indonesia yang akrab dengan kecap sebagai bumbu 
pelengkap. Setelah diakuisisi Unilever dari perusahaan terdahulu PT Sakura 
Aneka Food, Bango menunjukkan kemajuan yang sangat pesat. 

Padahal, sebelumnya, kecap yang terakhir dimiliki generasi ketiga keluarga Eppy 
Kartadinata dan bermukim di kawasan Benteng Tangerang ini hanya dijual di 
sebuah sudut rumah. Pemasaran kemudian berlanjut hingga mencapai ke toko-toko 
di sekitar wilayah Tangerang.

Dari sistem penjualan dari mulut ke mulut (word of mouth), Bango dikenal di 
hampir seluruh penjuru Kota Tangerang, DKI Jakarta, dan sekitarnya. Kualitas 
dan rasa yang dijaga sejak diperjualbelikan pada 1928 ini menjadikan Bango 
menjadi salah satu merek kecap terbaik yang ada di Indonesia dan bermutu prima. 

Meski sempat mengalami krisis dan beberapa kali jatuh bangun dalammenjalankan 
bisnis kecap, Bango akhirnya dapat bertahan hingga dipinang Unilever pada 2001.

Lolos uji FDA

Kecap Bango berhasil lolos uji FDA (Food & Drug Agency), badan yang mengawasi 
obat dan makanan di Amerika Serikat. Bango pun mampu merambah pasar hingga ke 
mancanegara seperti Singapura, Kanada, Australia, dan Eropa serta Amerika 
Serikat.

Sebagai bahan dasar masakan tradisional, target pasar Bango adalah kalangan ibu 
rumah tangga dan pedagang masakan tradisional Indonesia. Dengan kekayaan 
tradisi dan budaya dari Sabang hingga Merauke, banyak sekali masakan Indonesia 
menggunakan kecap sebagai salah satu bahan bumbu, terutama kecap manis.

Kecap yang terbuat dari kedelai hitam, gula, garam, kelapa, dan air akan 
menambah kekayaan cita rasa masakan Indonesia. Sejak 1928 Bango tetap konsisten 
menggunakan kedelai hitam sebagai bahan baku utama dalam proses pembuatan 
kecap. Apalagi didukung dengan kemasan yang semakin higienis dari awal proses 
pembuatan hingga sampai ke tangan konsumen. "Produk, kemasan, dan bahan dipilih 
yang terbaik, dari hulu ke hilir semua dijaga kualitas," ujar Memoria Dwi 
Prasita, Brand Manager Bango.

FJB yang sudah digelar sejak 2005 seakan menjadi bagian yang tidak terpisahkan 
dari Bango yang secara khusus memopulerkan warisan kuliner Nusantara Indonesia. 
Tahun ini FJB akan hadir di Surabaya, Jakarta dan Bandung. Sesuai dengan tema 
pilihannya, FJB akan menghadirkan serba 80, sesuai dengan usia ulang tahun 
ke-80.

Sebagai contoh, Bango akan menghadirkan 80 masakan tradisional khas kota 
setempat, dari partisipasi dari delapan duta Bango dari luar kota, serta tidak 
ketinggalan adalah para penjaja makanan yang akan turut tampil mewakili 
kota-kota seperti Surabaya, Jakarta, Bandung, Malang, Yogyakarta, Makassar, 
Bogor, Solo dan Medan. Semua itu dilakukan pihak manajemen Unilever terutama 
pemegang merek Bango untuk semakin memperluas dan memperkuat merek dagang ini 
di tengah semakin ramainya pemain kecap baru di Indonesia.

Meski persaingan ketat, diakui Memoria, pasar Bango dari tahun ke tahun bisa 
tetap bertahan, bahkan terus meningkat."Pemain kecap nasional tidak banyak 
tetapi kecap daerah banyak sekali. Kompetitor sekelas ada, tetapi persaingan 
semakin menggembirakan dan Bango bisa menjadi salah satu yang terbaik," ujar 
Memoria. Selain melalui FJB, Bango juga didukung oleh paket Program acara Bango 
Citarasa Nusantara di salah satu stasiun televisi swasta.

Manajemen pun tidak hanya berpikir pada tataran bisnis semata. Bango juga 
memiliki visi dan misi untuk para petani kedelai hitam di Indonesia supaya 
tetap bisa berkontribusi dengan kualitas kedelai yang terbaik.
"Sejauh ini strategi marketing yang dilakukan membuat perkembangan brand image 
bagus, sesuai dengan ekspektasi pasar," ujar Memoria.

Semua itu sejalan dengan empat pesan yang selalu dicantumkan dalam setiap 
kemasan Bango yaitu mengutamakan kualitas, menggunakan bahan pilihan, peduli 
petani kedelai hitam Indonesia, dan melestarikan masakan tradisional Indonesia. 
([EMAIL PROTECTED])

Bisnis Indonesia - Minggu, 22 Juni 2008

Kirim email ke