Produk daerah & berbudaya Indonesia

Handito Hadi Joewono
Presiden Arrbey Indonesia

Beberapa hari lalu dalam kaitan dengan pekan Produk Budaya dan Sosialisasi 
Cetak Biru Ekonomi Kreatif Indonesia, saya mendapat tugas menjadi moderator 
dialog dengan sembilan duta besar Indonesia dari mancanegara. Acara yang 
digelar dalam dua sesi dari pagi hingga sore tersebut berupaya mengungkap 
potensi prosuk berbasis budaya Indonesia di setiap negara.

Mungkinkah seni pertunjukkan, kerajinan atau produk berbasis budaya Indonesia 
lainnya yang juga merupakan bagian dari ekonomi kreatif 'menyerbu' pasar dunia? 
Kita tentu ingin produk budaya dan bisnis kreatif lainnya bisa menjadi 
penyeimbang dari mobil, software computer atau televisi mancanegara yang 
mengalir deras dan terasa seperti ingin 'menjajah' Indonesia?

Tentunya kita ingin agar produk kerajinan atau furnitur berukir khas Indonesia 
bisa diterima di masyarakat dunia yang berbeda latar belakang dan budayanya 
dibandingkan dengan kita. Memang tidak mudah bagi masyarakat mancanegara yang 
mulai bisa menggunakan produk minimalis dan praktis untuk kemudian berubah 
menjadi konsumen yang cenderung tradisional.

Produk berbasis budaya sering dianggap rada ndeso. Bisa jadi yang jadi 'biang 
kerok' adalah persepsi bahwa produk yang berasosiasi dengan budaya dan lokal 
distempel rendahan. Padahal semestinya tidak begitu.

Unilever melalui produk Kecap Bango merupakan contoh bagaimana produk kecap 
yang berangkat dari daerah dan umumnya hidup di berbagai daerah, ternyata bisa 
tampil 'tidak ndeso' dan bahkan membawanya ke pasar ekspor internasional. Kecap 
Bango tidak malu-malu menyebut ke Indonesiaan dan bahkan kedaerahannya.

Asosiasi dengan isu kedaerahan dan nasional merupakan salah satu 'konsep' 
strategi brand positioning yang efektif. Tidak hanya bisa membangunkan sentimen 
emosional yang positif, tetapi juga langkah jitu untuk merebut pasar daerah. 
Tidak hanya konsumen dari daerah bersangkutan, tetapi juga daerah lainnya.

Dalam pengalaman saya sebagai provokator Gerakan Nasional Gemar Poduk Indonesia 
yang merupakan program bersama pemerintah, swasta dan masyarakat untuk lebih 
menyukai produk buatan dalam negeri; ternyata membangunkan kegemaran pada 
produk daerah relatif lebih mudah dibandingkan dengan kepada produk nasional.

Kalau konsumen disodori produk daerah biasanya ada rasa empati dan komunikasi 
emosional yang tersambung dengan daerah bersangkutan. Akan ada beda 'rasa' yang 
sangat besar ketika konsumen disodori "produk Aceh", "produk Jombang" atau 
"produk Papua" dibandingkan dengan ketika ditawari produk yang disebut "Ini 
buatan Indonesia".

Jangan-jangan malah ada yang berkomentar: "Lalu apa istimewanya?" Atau bisa 
jadi malah membandingkan dengan produk impor yang dianggap lebih keren. Lebih 
kacau lagi kalau sampai ada yang berkomentar "Yang lokal lebih murah ya?" 
Mestinya kita sebagai konsumen perlu lebih menghargai produk daerah atau 
nasional terutama yang menonjolkan aspek budaya.

Terdapat beberapa cara untuk mendorong penerimaan lebih besar pada produk 
budaya dan produk daerah, yaitu:

Sampaikan sebagai produk daerah.

Hampir semua orang Indonesia, kecuali yang lahir atau sudah lama tinggal di 
Jakarta, pada umumnya berasal dari daerah. Mengasosiasikan dengan produk daerah 
merupakan cara efektif masuk ke 'jantung hati' konsumen secara lebih personal.

Apa tidak takut konsumen dari daerah lain malah menghindar? 

Tentu tergantung cara mengomunikasikannya. Kecap Bango dari Tangerang bisa 
diterima konsumen di luar Tangerang dan luar negeri karena cara komunikasi yang 
efektif digunakan oleh unilever

Merajut keindonesiaan.

Citra kedaerahan bisa juga dirajut dengan daerah lainnya di Indonesia, sehingga 
menghasilkan makna sebagai untaian produk Indonesia yang berasal dari berbagai 
daerah.

Membangun citra daerah

Kerja sama antara Pokja Pemasaran Kadin Indonesia yang saya koordinasi dengan 
Indonesia Brand Entourage dan konsultan Branding Indonesia ternyata sangat 
bermanfaat dan diterima baik oleh berbagai pemerintah daerah untuk membangun 
branding produk daerah. Kalau Australia punya branding dan kampanye Australian 
Made, maka branding dan kampanye produk Aceh atau produk Banten diharapkan akan 
membangun citra positif produk daerah.

Memadukan dengan modernitas

Unilever berhasil membangun citra kecap Bango karena memadukan aspek 
tradisional dan budaya dengan modernitas komunikasi pemasaran above the line 
yang dilakukannya.

Memadukan event

Pemasaran produk daerah dan budaya sering membutuhkan penampilan fisik yang 
bisa dilihat, dipegang dan dirasakan. Kalau kecap Bango melakukannya dengan 
penyelenggaraan event atau lomba yang memungkinkan terjadinya interaksi dua 
arah antara perusahaan dan masyarakat, maka kampanye produk daerah dan budaya 
juga membutuhkan adanya interaksi yang biasanya dilakukan melalui pertunjukan 
budaya.


Bisnis Indonesia - Minggu, 22 Juni 2008

Kirim email ke