Siapkan Petani Indonesia Berdaya Saing Global, Unilever Indonesia Gelar Lomba 
Petani Kedelai Hitam Unggul 


Sebagai upaya mempersiapkan petani Indonesia menjadi petani unggulan di mata 
dunia, Yayasan Unilever Peduli menyelenggarakan Lomba Petani Kedelai Hitam 
Unggul di wilayah binaan program pengembangan petani kedelai hitam di kawasan 
Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur

PT Unilever Indonesia Tbk, melalui Yayasan Unilever Peduli, untuk pertama 
kalinya menyelenggarakan Lomba Petani Kedelai Hitam Unggul 2008. Lomba ini 
bertujuan untuk mempersiapkan petani
Indonesia menjadi kuat, cerdas, trengginas, dan sejahtera. Ratusan petani, 
kelompok perempuan, dan anak-anak turut memeriahkan pelaksanaan lomba tersebut 
di SDN Kaligondang, Sumbermulyo, Bantul,
Yogyakarta, Minggu (6/7).

Seperti telah diketahui bersama bahwa PT Unilever Indonesia Tbk, memiliki 
program Pengembangan Petani Kedelai Hitam sebagai wujud dari misi sosial Kecap 
Bango yakni "Melestarikan warisan kuliner nusantara dan meningkatkan para 
petani yang terlibat dalam bisnis kecap Bango". Guna mewujudkan misi tersebut, 
Unilever Peduli menggandeng UGM untuk sama-sama mewujudkan peningkatan 
kesejahteraan bagi para petani. Dengan bermitra berbagai persoalan yang timbul 
di sisi petani seperti ketidakpastian harga,
ketidakpastian pasar, dan peningkatan kualitas dapat dipecahkan.

Dari pengalaman kemitraan tersebut, terbukti bahwa petani Indonesia mampu 
diajak maju. Mereka mau mengubah paradigma budidaya tanam hingga mampu 
mengorganisasi kelompok mereka. Unilever melihat, hal tersebut merupakan 
potensi yang patut diangkat. Bahwa petani Indonesia mampu bersaing di pasar
global, asalkan memiliki wawasan, mental, dan kualitas yang mumpuni. Buktinya, 
selama lebih dari 7 tahun mereka mampu bermitra dengan Unilever, sebuah 
perusahaan multinasional yang tidak kompromi terhadap kualitas.

Lomba Petani Kedelai Hitam Unggul merupakan salah satu bentuk apresiasi dan 
motivasi terhadap
keberpihakan Unilever pada para petani. Kami berharap melalui lomba ini, para 
petani akan lebih termotivasi menjadi lebih baik dan bangga menjadi petani 
Indonesia.

General Manager Yayasan Unilever Peduli, Sinta Kaniawati menjelaskan, setelah 
Bantul, lomba serupa juga akan dilaksanakan di wilayah binaan lain yakni, 
Kulonprogro, Pacitan, Trenggalek, Nganjuk, Madiun dan Ngawi. Ia menjelaskan, 
Lomba Petani Kedelai Hitam Unggul tersebut terdiri dari beberapa kategori,
yakni Lomba Cerdas Tani, Lomba Inovasi Pertanian, dan Lomba Budidaya Kedelai 
Hitam. "Kategori tersebut mewakili aspek pengetahuan, implementasi, dan 
motivasi. Kami percaya melalui kompetisi ini akan muncul petani-petani unggul 
Indonesia yang mampu menginspirasi petani di daerah lain," ujar dia.

Ia menjelaskan, Indonesia sebagai negara agraris memiliki potensi pertanian 
yang sangat besar. Sayangnya, hingga saat ini Indonesia masih mengimpor 
sebagian kebutuhan tanaman pangan. "Kedelai contohnya, bahan baku untuk tempe 
dan tahu yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia ini masih dipenuhi 
melalui dari pasokan luar negeri," ujarnya. Sinta yakin, petani Indonesia 
memiliki potensi menjadi petani unggul di mata dunia, asalkan memperoleh 
dukungan dari berbagai pihak. Ia mencontohkan, peningkatan kualitas hasil panen 
dapat ditingkatkan melalui komitmen pembinaan yang berkesinambungan, sementara 
profesionalitas petani dapat dilatih dengan melibatkan mereka langsung ke dalam 
rantai bisnis
perusahaan." Kelebihan petani Indonesia justru terletak pada kekuatan kelompok, 
karena masyarakat kita masih guyub dan kekeluargaan. Ini memungkinkan berbagai 
pengetahuan tersebar dengan cepat," tambah dia. Ia berharap lomba ini dapat 
menjadi langkah awal bagi timbulnya kebanggaan dan percaya diri bagi petani 
Indonesia.

Sementara itu, Manager Program Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah Yayasan 
Unilever
Peduli, Maya Tamimi mengatakan, melalui Lomba Cerdas Tani dan Budidaya Kedelai 
Hitam, para petani akan diuji pengetahuan dan pengalaman teknisnya seputar 
budidaya kedelai hitam, mulai dari masa pra tanam, tanam, panen, hingga pasca 
panen. Ia mengharapkan melalui Lomba Inovasi, akan banyak temuan-temuan di 
lapangan yang layak diberikan penghargaan. "Dari pengalaman kami, kreativitas 
petani di lapangan sangat beragam, mulai dari teknik budidaya hingga inovasi 
alat sortasi. Ini prestasi yang membanggakan, ternyata petani Indonesia tidak 
kalah dari petani Cina maupun Thailand" kata dia. 

Ia mengungkapkan para pemenang dari setiap kategori di tingkat kabupaten, akan 
diadu kemampuannya berhadapan dengan pemenang dari wilayah lain, hingga akan 
keluar pemenang utama. "Kami berharap lomba ini dapat memotivasi para petani 
kami untuk bersemangat membela wilayahnya," ujar dia. 

Sejak 2001, Yayasan Unilever Peduli mulai melaksanakan program pengembangan 
petani kedelai hitam. Bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada, Unilever 
mendampingi petani untuk membudidayakan kedelai hitam guna mencapai kualitas 
kedelai hitam yang optimal. Unilever menyediakan akses pasar, jaminan harga, 
serta akses finansial. Dalam proses paska panen, Unilever memberdayakan 
kelompok perempuan dalam proses sortasi. Kegiatan ini bermanfaat bagi para ibu 
untuk menambah pendapatan dan mempererat komunitas perempuan di lingkungan 
mereka. Hingga 2007, program ini telah melibatkan 6,600 petani di 1,100 hektar 
lahan.

--selesai-

Kirim email ke