www.mediacare.biz
--- On Sun, 7/6/08, Evie Dian <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Evie Dian <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [jurnalisme] KULINER - Tumpeng, Tetap prestise namun ekonomis
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Sunday, July 6, 2008, 8:40 PM
Biasanya, yang namanya prestise, selalu bersanding mesra dengan harga yang
selangit. Tumpeng, dalam prakteknya, malah memberikan alternatif pemikiran
yang berbeda. Tarohlah sekarang ini jamannya "syukuran" kenaikan pangkat
yang dirayakan dengan traktiran makan-makan di café atau di suatu restoran
cepat saji. Demi sebuah prestise tentunya, hidangan yang dipilihkan untuk
para *traktiren* (maksudnya yang ditraktir) pastinya bukan yang kelas
ekonomis (kecuali kalau memang tidak tahu malu), yang umumnya kalau belum
ditambah pajak saja nominalnya bisa mencapai 5 digit per porsi. . Otomatis,
dana yang keluar juga membengkak, apalagi yang ditraktir sekompi. Tapi
okelah, ucapan selamat dari rekan2 kerja, pasti akan berhamburan
menghampiri. Lalu ada apa dengan tumpeng? Cuma nasi yang digunungkan, lalu
di sekitarnya disebarkan lauk pauknya. *Lhadalah*, apa ya bisa ya, dijadikan
alternatif untuk syukuran. Nah, justru itu, tumpeng memang menempati peran
sebagai mediator untuk pengucapan rasa syukur. Kehadiran tumpeng, menjadikan
sebuah upacara seremonial menjadi sarat makna. Kalau dari segi harga,
mungkin sama2 lima digit, tapi sudah bebas pajak. Soal prestise, wuah,
buktikan saja sendiri, tatkala tumpeng masuk ke ruang kerja. Apa nggak semua
mata memandang dan memberikan sedikit pertanyaan, siapa yang punya tumpeng
ini. Sangat sakral malah, mengomentari kehadiran tumpeng.
*Issey Food and catering*
*ifc.blogsome. com*
[Non-text portions of this message have been removed]