Ke Minang menikmati Ampiang Dadiah

Bisa disajikan dalam dua variasi, makanan ini cocok dinikmati sebagai hidangan 
penutup.

Ada rasa gurih yang renyah di langit-langit mulut saat mengulumnya. Ditingkahi 
rasa asam yang datang sekilas, makanan ini menimbulkan imajinasi yang luar 
biasa. Ada kelezatan tiada tara. Paduan gurih dan sekilas asam menjadikan 
makanan ini tak menimbulkan rasa enek. Itulah Dadiah.

Warnanya putih. Seperti krim, namun lebih padat. Dadiah sejenis yogurt. Terbuat 
dari susu kerbau yang dibiarkan mengendap dan kemudian 'mengeras'. Ada proses 
fermentasi. "Pagi kita memerah susu, sore sudah jadi," kata Asril, pedagang 
Ampinag Dadiah di Bukittinggi, Sumatera Barat. Namun, biasanya yang paling pas 
adalah setelah dua hari. Jika disimpan di lemari es, bisa tahan 2-3 hari. Lebih 
dari itu, rasanya akan semakin masam.

Kekhasan lain dari Dadiah ini adalah karena berwadahkan bumbung bambu yang 
masih segar. Tentu saja aroma bumbung itu menjadi bagian dari eksotisme Dadiah. 
Tabung bambu setinggi sekitar 30 cm itu hanya ditutup plastik yang diikat karet 
gelang. "Dalam sehari bisa habis 25 tabung bambu," ujar Asril. 

Ampiang Dadiah merupakan paduan Dadiah dan Ampiang. Untuk menambah kelezatan 
maka dicampurkan pula kinca, gula aren yang direbus. Juga ada sedikit campuran 
santan. Makanan ini bisa disajikan dalam dua variasi: hangat atau dingin. 
Sangat cocok disantap sebagai makanan penutup atau di siang hari.

Lalu apa itu Ampiang? Inilah satu dari dua eksotisme santapan ini. Ampiang 
terbuat dari beras ketan. Setelah dikukus, biji-biji beras ketan ditumbuk, 
bukan dihaluskan. Ampiang atau bisa juga disebut sebagai Emping. Jadi, 
biji-biji ketan itu hanya ditipiskan belaka, seperti Emping. Tidak dihancurkan. 
Beras ketan yang telah pipih itu kemudian dikeringkan. Saat akan disajikan 
siram saja Emping Ketan itu dengan air mendidih. Beberapa detik kemudian, buang 
airnya. Lalu campurkan bahan-bahan lain: santan, kinca, serutan es, dan Dadiah. 
Satu porsi Rp 7.500.

Obat kangen

Bagi orang Minang, makanan ini tak asing. Namun, sudah tak sesemarak di masa 
lalu. Di pasar di dekat Jam Gadang, Bukittinggi, hanya bersisa di kedai milik 
Asril. Kedai itu warisan orangtuanya. Menurut Asril, semula di sekitar pasar 
itu ada banyak kedai Ampiang Dadiah. Namun satu per satu tutup karena 
anak-anaknya tak meneruskannya. Kedai milik Asril pun terletak di belakang 
pasar.

Di saat musim liburan, para pemudik banyak yang memburu santapan ini. 
"Penghilang rasa kangen. Sudah taragak (ngiler)," tuturnya. Itulah masa 
panennya. Ia bisa menghabiskan Dadah hingga dua kali lipat dari biasanya dalam 
sehari.

Jika melancong ke Sumatra Barat, carilah Ampiang Dadiah. Tak gampang memang. 
Namun, setelah menikmati Lembah Anai di perjalanan dari Padang ke Bukittinggi. 
Sudah pula menikmati Satai Padang di Padang Panjang. Juga telah menikmati 
Ngarai Sianok, maka setelah berfoto di depan Jam Gadang, nikmatilah Ampiang 
Dadiah Uda Asril. Udara sejuk kota bukit ini makin memesonakan jiwa.  

nasihin masha

Republika - Minggu, 20 Juli 2008

Kirim email ke