Wah ternyata ini EMPING ya, kirain Ampyang (gula jawa plus kacang). Mungkin 
harus ada 
kamus makanan yang menjelaskan perbedaan antara Emping, Ampiang dan Ampyang.... 
Emping juga enak, tapi lebih dasyat lagi ya AMPYANG...heehehe.....


--- In [email protected], "mediacare" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ke Minang menikmati Ampiang Dadiah
> 
> Bisa disajikan dalam dua variasi, makanan ini cocok dinikmati sebagai 
> hidangan 
penutup.
> 
> Ada rasa gurih yang renyah di langit-langit mulut saat mengulumnya. 
> Ditingkahi rasa 
asam yang datang sekilas, makanan ini menimbulkan imajinasi yang luar biasa. 
Ada 
kelezatan tiada tara. Paduan gurih dan sekilas asam menjadikan makanan ini tak 
menimbulkan rasa enek. Itulah Dadiah.
> 
> Warnanya putih. Seperti krim, namun lebih padat. Dadiah sejenis yogurt. 
> Terbuat dari 
susu kerbau yang dibiarkan mengendap dan kemudian 'mengeras'. Ada proses 
fermentasi. 
"Pagi kita memerah susu, sore sudah jadi," kata Asril, pedagang Ampinag Dadiah 
di 
Bukittinggi, Sumatera Barat. Namun, biasanya yang paling pas adalah setelah dua 
hari. Jika 
disimpan di lemari es, bisa tahan 2-3 hari. Lebih dari itu, rasanya akan 
semakin masam.
> 
> Kekhasan lain dari Dadiah ini adalah karena berwadahkan bumbung bambu yang 
> masih 
segar. Tentu saja aroma bumbung itu menjadi bagian dari eksotisme Dadiah. 
Tabung 
bambu setinggi sekitar 30 cm itu hanya ditutup plastik yang diikat karet 
gelang. "Dalam 
sehari bisa habis 25 tabung bambu," ujar Asril. 
> 
> Ampiang Dadiah merupakan paduan Dadiah dan Ampiang. Untuk menambah kelezatan 
maka dicampurkan pula kinca, gula aren yang direbus. Juga ada sedikit campuran 
santan. 
Makanan ini bisa disajikan dalam dua variasi: hangat atau dingin. Sangat cocok 
disantap 
sebagai makanan penutup atau di siang hari.
> 
> Lalu apa itu Ampiang? Inilah satu dari dua eksotisme santapan ini. Ampiang 
> terbuat dari 
beras ketan. Setelah dikukus, biji-biji beras ketan ditumbuk, bukan dihaluskan. 
Ampiang 
atau bisa juga disebut sebagai Emping. Jadi, biji-biji ketan itu hanya 
ditipiskan belaka, 
seperti Emping. Tidak dihancurkan. Beras ketan yang telah pipih itu kemudian 
dikeringkan. Saat akan disajikan siram saja Emping Ketan itu dengan air 
mendidih. 
Beberapa detik kemudian, buang airnya. Lalu campurkan bahan-bahan lain: santan, 
kinca, 
serutan es, dan Dadiah. Satu porsi Rp 7.500.
> 
> Obat kangen
> 
> Bagi orang Minang, makanan ini tak asing. Namun, sudah tak sesemarak di masa 
> lalu. 
Di pasar di dekat Jam Gadang, Bukittinggi, hanya bersisa di kedai milik Asril. 
Kedai itu 
warisan orangtuanya. Menurut Asril, semula di sekitar pasar itu ada banyak 
kedai 
Ampiang Dadiah. Namun satu per satu tutup karena anak-anaknya tak 
meneruskannya. 
Kedai milik Asril pun terletak di belakang pasar.
> 
> Di saat musim liburan, para pemudik banyak yang memburu santapan ini. 
> "Penghilang 
rasa kangen. Sudah taragak (ngiler)," tuturnya. Itulah masa panennya. Ia bisa 
menghabiskan Dadah hingga dua kali lipat dari biasanya dalam sehari.
> 
> Jika melancong ke Sumatra Barat, carilah Ampiang Dadiah. Tak gampang memang. 
Namun, setelah menikmati Lembah Anai di perjalanan dari Padang ke Bukittinggi. 
Sudah 
pula menikmati Satai Padang di Padang Panjang. Juga telah menikmati Ngarai 
Sianok, 
maka setelah berfoto di depan Jam Gadang, nikmatilah Ampiang Dadiah Uda Asril. 
Udara 
sejuk kota bukit ini makin memesonakan jiwa.  
> 
> nasihin masha
> 
> Republika - Minggu, 20 Juli 2008
>



Kirim email ke