Seingat saya mengenai Vetsin/ Ajinomoto ini pernah  ibu-ibu rumah tangga di 
Jepang berdemonstrasi, karena antara lain  ada dikatakan bahwa penyedap makanan 
ini mempunyai efek kurang baik bagi anak di bawah umur 5 tahun. Jadi 
konklusinya jangan berikan makan bervetsin kepada anak kecil.

Berikut ini ada artikel dari The Telegraph, UK :

      Can monosodium glutamate harm your eyesight? 

      Last Updated: 12:01am GMT /10/2002

     
      Last week, a study published in the New Scientist found that the 
consumption of monosodium glutamate (MSG), the flavour enhancer best known for 
its use in Chinese cooking, could damage your eyesight.

      Scientists at Hirosaki University in Japan fed rats high levels of MSG, 
and concluded that it was responsible for destroying retinal cells, which, in 
turn, delayed nerve signals. It might, they said, explain why people in eastern 
Asia have a high rate of normal tension glaucoma - an eye disease that leads to 
blindness.

      It sounds plausible, until you take a closer look at the facts. A type of 
amino acid, glutamate gives food what the Japanese describe as umami. Roughly 
translated, this means "tastiness", and while in Britain we have just four 
tastes - bitter, sour, salty and sweet - umami is so important in Japanese 
cuisine that it constitutes a fifth taste.

      Glutamate is found naturally in foods such as sun-dried tomatoes, 
Parmesan cheese, Shiitake mushrooms, certain types of seaweed and various meats 
and fish. It has been proved many times that the body treats the glutamate 
found naturally in foods the same way that it does monosodium glutamate - the 
white powdery form used in cooking.

      It's also worth examining the amount of MSG used in the recent study. The 
researchers added 20g of MSG to every 100g of feed they gave to the rats. 
Compare this with the 0.1g of MSG used to season 100g of oriental food for 
humans, and you do not need to be Stephen Hawking to do the mathematics.

      The rats were fed colossally high amounts, equivalent to a 60kg woman 
eating about 540g of the seasoning every day. The fact is that you simply would 
never consume such quantities.

      If you have visions of over-enthusiastic Chinese and Japanese chefs and 
recipe developers for oriental ready meals flinging huge pinches of MSG into 
cauldrons of traditional dishes and cook-in sauces, on the basis that more MSG 
means more flavour, think again.

      Monosodium glutamate is actually a self-limiting ingredient. Once enough 
has been added to a dish, mixing in greater quantities leads to a loss of 
flavour, rather than a further improvement. If the levels used in the recent 
Japanese experiments were extrapolated for human consumption, the food would be 
inedible. They must have been very hungry rats to eat chow containing such high 
levels.

      The third fact to consider is the high rates of normal tension glaucoma 
in eastern Asia. The rates are indeed unusually high, but it is generally 
accepted that this is due to genetic influences, rather than dietary factors.

      I'm not a fan of additives, and the fewer used in cooking the better, as 
far as I'm concerned. But if this study calls for action, it should, I suggest, 
be that future work examines the effects of realistic amounts of this - or any 
other - flavour enhan
     


 

  ----- Original Message ----- 
  From: mediacare 
  To: [email protected] ; pasar-minggu ; resto indonesia ; [EMAIL 
PROTECTED] 
  Cc: unilever memoria 
  Sent: Sunday, September 21, 2008 10:55 PM
  Subject: [bango-mania] MSG aman dipakai asal 
...................................



  Monosodium glutamate (MSG) atau sering dikenal di masyarakat sebagai vetsin
  sampai sekarang masih saja dipertanyakan orang tentang keamananya untuk
  kesehatan. Sebagian orang meski ragu-ragu, memilih tidak menggunakannya
  daripada terjadi hal yang tidak diinginkan. Sebagian lagi mencoba mengurangi
  pemakaiannya. Apa sebetulnya MSG itu dan sejauh mana keamanannya bagi tubuh
  manusia?

  "Wah, saya kalau disuruh masak tanpa vetsin, nyerah, deh," kata sebagian
  ibu. Memasak tanpa vetsin memang membawa risiko masakan jadi tak sedap. Itu
  sebabnya meski takut dan ragu-ragu akan efek sampingnya yang konon berbahaya
  bagi tubuh, orang tetap menggunakannya. "Pokoknya nggak banyak-banyak, deh,"
  kilah sebagian orang.

  Kenapa pula mesti takut, pendapat orang yang lain. Toh nenek moyang kita
  sudah memakannya sejak ratusan tahun yang lalu. Tak ada keluhan apa-apa,
  tuh. Betul, vetsin sudah digunakan orang sejak 2.000 tahun yang lalu.
  Penemunya adalah juru masak Jepang. Tentu saat itu bentuknya bukan bubuk
  seperti sekarang ini. Mereka mengambil MSG dari sejenis rumput laut yang
  disebut Laminaria japonica. Adalah orang Jepang juga yang kemudian punya ide
  menguraikan asam glutamat dari rumput laut tersebut hingga pemakaiannya jadi
  lebih mudah.

  Sejak itu MSG atau vetsin ini sulit ditinggalkan orang. Rasa gurihnya
  betul-betul menonjol hingga tanpa kehadirannya, rasanya seluruh makanan jadi
  tak sedap. Di Indonesia sendiri MSG pada umumnya diproduksi dari hasil gula
  tetes tebu (molase). Gula tetes yang banyak mengandung glutamin itu diproses
  sedemikian rupa hingga mengeluarkan asam glutamat.

  Nah, seberapa jauh asam glutamat ini berbahaya bagi tubuh? Terus-terang
  masih sulit menjawabnya saat ini meski banyak ahli melalui penelitian
  menemukan orang-orang yang rajin mengkonsumsi MSG menderita beberapa
  penyakit. Antara lain, kanker.

  DR. Muhilal, pakar gizi kita pernah menulis dalamBuletin Gizi beberapa tahun
  yang lalu tentang akibat penggunaan MSG. Dalam tulisan itu dikatakan MSG
  dapat mengakibatkan antara lain:

  Chinese Restaurant Syndrome

  Tahun 1968 dr. Ho Man Kwok menemukan penyakit pada pasiennya yang gejalanya
  cukup unik. Leher dan dada panas, sesak napas, disertai pusing-pusing.
  Pasien itu mengalami kondisi ini sehabis menyantap masakan cina di restoran.
  Masakan cina memang dituding paling banyak menggunakan MSG. Karena itulah
  gejala serupa yang dialami seseorang sehabis menyantap banyak MSG disebut
  Chinese Restaurant Syndrome.

  Bagaimana sampai MSG bisa menimbulkan gejala di atas, masih dugaan belaka
  sampai saat ini. Tetapi diperkirakan penyebabnya adalah terjadinya
  defisiensi vitamin B6 karena pembentukan alanin dari glutamat mengalami
  hambatan ketika diserap. Konon menyantap 2 - 12 gram MSG sekali makan sudah
  bisa menimbulkan gejala ini. Akibatnya memang tidak fatal betul karena dalam
  2 jam Cinese Restaurant Syndrome sudah hilang.

  Kerusakan Sel Jaringan Otak

  Lain lagi hasil penelitan Olney di St. Louis. Tahun 1969 ia mengadakan
  penelitian pada tikus putih muda. Tikus-tikus ini diberikan MSG sebanyak 0,5
  - 4 mg per gram berat tubuhnya. Hasilnya tikus-tikus malang ini menderita
  kerusakan jaringan otak. Namun penelitian selanjutnya menunjukkan pemberian
  MSG yang dicampur dalam makanan tidak menunjukkan gejala kerusakan otak.

  Kendati penelitiannya menunjukkan MSG aman asal dicampur dalam hidangan,
  toh, Olney masih mengingatkan kita agar sesedikit mungkin menyantap MSG atau
  menghindarinya sama sekali di usia muda.

  Kanker

  Bisa jadi pendapat MSG menimbulkan kanker betul adanya kalau kita melihatnya
  dari sudut pandang berikut. Glutamat dapat membentuk pirolisis akibat
  pemanasan dengan suhu tinggi dan dalam waktu lama. Nah, pirolisis ini
  disebut-sebut sangat karsinogenik.

  Padahal masakan protein lain yang tidak ditambah MSG pun, kata pakar, bisa
  juga membentuk senyawa karsinogenik bila dipanaskan dengan suhu tinggi dan
  dalam waktu yang lama. Karena asam amino penyusun protein, seperti
  triptopan, penilalanin, lisin, dan metionin juga dapat mengalami pirolisis.
  Nah, dari penelitian tadi jelas cara memasak amat berpengaruh.


  Kerusakan Retina

  Pada MSG dosis normal memang tidak terlihat adanya akses glutamat yang
  berlebihan ke retina. Tetapi meski masih dipertanyakan, penelitian
  menunjukkan MSG yang berlebih dapat merusak retina.


  Amankah bagi wanita hamil dan menyusui? 

  Hasil penelitian menunjukkan, glutamat hanya akan menembus placenta bila
  kadarnya dalam darah ibu mencapai 40 - 50 kali lebih besar dari kadar
  normal. Itu artinya mustahil kecuali glutamat diberikan secara intravena.
  Sementara kalau ibu menyusui menyantap MSG 100 mg/kg berat badan, mungkin
  kadar glutamat dalam darahnya akan naik, tetapi tidak dalam ASI. Padahal
  menurut penelitian pernah dilakukan oleh Muhilal bersama rekan-rekannya dari
  Puslitbang Gizi Bogor dan Direktorat Bina Gizi masyarakat Departemen
  Kesehatan, pemakaian rata-rata orang Indonesia hanya 0,6 gram per hari.
  Penelitian ini dilakukan tahun 1988 di tiga provinsi di Indonesia, yaitu
  Jawa Barat, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Selatan. Jumlah ini masih jauh di
  bawah konsumsi negara lain, lo. Taiwan,misalnya rata-rata 3 gr/hari, Korea
  2,3 gr/hari, dan Jepang 1,6 gr/hari.

  Namun penelitian Muhilal tidak sejalan dengan temuan Yayasan Lembaga
  Konsumen Indonesia (YLKI). Menurut penelitian YLKI, seperti dikutip Majalah
  Intisari beberapa tahun lalu, satu mangkok mi bakso saja mengandung 1,84 -
  1,90 gr MSG. Dalam semangkok mi pangsit atau mi goreng bahkan terdapat 2,90
  - 3,40 gr MSG. YLKI juga menemukan penggunaan MSG pada beberapa merk makanan
  camilan asin-gurih yang biasa dikonsumsi anak-anak (Intisari '92).

  Menurut Muhilal, batasan aman yang pernah dikeluarkan oleh badan kesehatan
  dunia WHO (World Health Organization), asupan MSG per hari sebaiknya sekitar
  0-120 mg/kg berat badan. Jadi, jika berat seseorang 50 kg, maka konsumsi MSG
  yang aman menurut perhitungan tersebut 6 gr (kira-kira 2 sendok teh) per
  hari. Rumus ini hanya berlaku pada orang dewasa. WHO tidak menyarankan
  penggunaan MSG pada bayi di bawah 12 minggu.

  Belakangan MSG malah digolongkan sebagai GRAS (Generally Recognized As Save)
  atau secara umum dianggap aman. Hal ini juga didukung oleh US Food and Drugs
  Administration (FDA), atau badan pengawas makanan dan obat-obatan (semacam
  Ditjen POM) di Amerika yang menyatakan MSG aman. Tentu dalam batas konsumsi
  yang wajar.

  Sampai saat ini pun belum ditemukan kasus menonjol akibat mengkonsumsi MSG.
  Bahkan Jepang yang konsumsi MSG-nya cukup tinggi pun sampai saat ini tidak
  mengalami gangguan.


  Jangan berlebihan

  Kesimpulannya, MSG aman dikonsumsi sejauh tidak berlebihan. Harap diingat
  juga dalam kecap maupun saus pun terdapat kandungan MSG. Jadi, bila Anda
  sudah memakai saus atau kecap, pertimbangkan kembali, masih diperlukankah
  penambahan MSG. Bagaimana gurihnya pun MSG dalam masakan kita, bukankah
  kalau terlalu berlebihan, tidak enak lagi rasanya?

  Meski dinilai aman, MSG hendaknya tidak diberikan bagi orang yang tengah
  mengalami cidera otak karena stroke, terbentur, terluka, atau penyakit
  syaraf. Dr. Dennis Choi, seorang asisten guru besar Neurobiologi pada
  Universitas Stanford mengingatkan, konsumsi MSG menyebabkan penumpukan asam
  glutamat pada jaringan sel otak yang bisa berakibat kelumpuhan.

  Miftakh Faried
  (c) 2000 Sedap Sekejap

   

   

Kirim email ke