Berikut pendapat dari dr. Kartono Mohamad (mantan ketua IDI): MSG memang aman dikonsumsi. Ini bagian dari rasa (taste) yg oleh orang jepang disebut Umami yg dlm khasanah barat tidak ada. Di Indonesia mungkin setara dg gurih yg juiga tidak ada terjemahannya dlm bahasa barat. Orang jepang dan china makan MSG sudah ribuan tahun tanpa efek buruk, dan ternyata juga banyak orang pintar di sana. KM Sent from my BlackBerry? powered by Sinyal Kuat INDOSAT
----- Original Message ----- From: Sunny To: [email protected] Sent: Tuesday, September 23, 2008 4:12 AM Subject: Re: [bango-mania] MSG aman dipakai asal ................................... Seingat saya mengenai Vetsin/ Ajinomoto ini pernah ibu-ibu rumah tangga di Jepang berdemonstrasi, karena antara lain ada dikatakan bahwa penyedap makanan ini mempunyai efek kurang baik bagi anak di bawah umur 5 tahun. Jadi konklusinya jangan berikan makan bervetsin kepada anak kecil. Berikut ini ada artikel dari The Telegraph, UK : Can monosodium glutamate harm your eyesight? Last Updated: 12:01am GMT /10/2002 Last week, a study published in the New Scientist found that the consumption of monosodium glutamate (MSG), the flavour enhancer best known for its use in Chinese cooking, could damage your eyesight. Scientists at Hirosaki University in Japan fed rats high levels of MSG, and concluded that it was responsible for destroying retinal cells, which, in turn, delayed nerve signals. It might, they said, explain why people in eastern Asia have a high rate of normal tension glaucoma - an eye disease that leads to blindness. It sounds plausible, until you take a closer look at the facts. A type of amino acid, glutamate gives food what the Japanese describe as umami. Roughly translated, this means "tastiness", and while in Britain we have just four tastes - bitter, sour, salty and sweet - umami is so important in Japanese cuisine that it constitutes a fifth taste. Glutamate is found naturally in foods such as sun-dried tomatoes, Parmesan cheese, Shiitake mushrooms, certain types of seaweed and various meats and fish. It has been proved many times that the body treats the glutamate found naturally in foods the same way that it does monosodium glutamate - the white powdery form used in cooking. It's also worth examining the amount of MSG used in the recent study. The researchers added 20g of MSG to every 100g of feed they gave to the rats. Compare this with the 0.1g of MSG used to season 100g of oriental food for humans, and you do not need to be Stephen Hawking to do the mathematics. The rats were fed colossally high amounts, equivalent to a 60kg woman eating about 540g of the seasoning every day. The fact is that you simply would never consume such quantities. If you have visions of over-enthusiastic Chinese and Japanese chefs and recipe developers for oriental ready meals flinging huge pinches of MSG into cauldrons of traditional dishes and cook-in sauces, on the basis that more MSG means more flavour, think again. Monosodium glutamate is actually a self-limiting ingredient. Once enough has been added to a dish, mixing in greater quantities leads to a loss of flavour, rather than a further improvement. If the levels used in the recent Japanese experiments were extrapolated for human consumption, the food would be inedible. They must have been very hungry rats to eat chow containing such high levels. The third fact to consider is the high rates of normal tension glaucoma in eastern Asia. The rates are indeed unusually high, but it is generally accepted that this is due to genetic influences, rather than dietary factors. I'm not a fan of additives, and the fewer used in cooking the better, as far as I'm concerned. But if this study calls for action, it should, I suggest, be that future work examines the effects of realistic amounts of this - or any other - flavour enhan ----- Original Message ----- From: mediacare To: [email protected] ; pasar-minggu ; resto indonesia ; [EMAIL PROTECTED] Cc: unilever memoria Sent: Sunday, September 21, 2008 10:55 PM Subject: [bango-mania] MSG aman dipakai asal ................................... Monosodium glutamate (MSG) atau sering dikenal di masyarakat sebagai vetsin sampai sekarang masih saja dipertanyakan orang tentang keamananya untuk kesehatan. Sebagian orang meski ragu-ragu, memilih tidak menggunakannya daripada terjadi hal yang tidak diinginkan. Sebagian lagi mencoba mengurangi pemakaiannya. Apa sebetulnya MSG itu dan sejauh mana keamanannya bagi tubuh manusia? "Wah, saya kalau disuruh masak tanpa vetsin, nyerah, deh," kata sebagian ibu. Memasak tanpa vetsin memang membawa risiko masakan jadi tak sedap. Itu sebabnya meski takut dan ragu-ragu akan efek sampingnya yang konon berbahaya bagi tubuh, orang tetap menggunakannya. "Pokoknya nggak banyak-banyak, deh," kilah sebagian orang. Kenapa pula mesti takut, pendapat orang yang lain. Toh nenek moyang kita sudah memakannya sejak ratusan tahun yang lalu. Tak ada keluhan apa-apa, tuh. Betul, vetsin sudah digunakan orang sejak 2.000 tahun yang lalu. Penemunya adalah juru masak Jepang. Tentu saat itu bentuknya bukan bubuk seperti sekarang ini. Mereka mengambil MSG dari sejenis rumput laut yang disebut Laminaria japonica. Adalah orang Jepang juga yang kemudian punya ide menguraikan asam glutamat dari rumput laut tersebut hingga pemakaiannya jadi lebih mudah. Sejak itu MSG atau vetsin ini sulit ditinggalkan orang. Rasa gurihnya betul-betul menonjol hingga tanpa kehadirannya, rasanya seluruh makanan jadi tak sedap. Di Indonesia sendiri MSG pada umumnya diproduksi dari hasil gula tetes tebu (molase). Gula tetes yang banyak mengandung glutamin itu diproses sedemikian rupa hingga mengeluarkan asam glutamat. Nah, seberapa jauh asam glutamat ini berbahaya bagi tubuh? Terus-terang masih sulit menjawabnya saat ini meski banyak ahli melalui penelitian menemukan orang-orang yang rajin mengkonsumsi MSG menderita beberapa penyakit. Antara lain, kanker. DR. Muhilal, pakar gizi kita pernah menulis dalamBuletin Gizi beberapa tahun yang lalu tentang akibat penggunaan MSG. Dalam tulisan itu dikatakan MSG dapat mengakibatkan antara lain: Chinese Restaurant Syndrome Tahun 1968 dr. Ho Man Kwok menemukan penyakit pada pasiennya yang gejalanya cukup unik. Leher dan dada panas, sesak napas, disertai pusing-pusing. Pasien itu mengalami kondisi ini sehabis menyantap masakan cina di restoran. Masakan cina memang dituding paling banyak menggunakan MSG. Karena itulah gejala serupa yang dialami seseorang sehabis menyantap banyak MSG disebut Chinese Restaurant Syndrome. Bagaimana sampai MSG bisa menimbulkan gejala di atas, masih dugaan belaka sampai saat ini. Tetapi diperkirakan penyebabnya adalah terjadinya defisiensi vitamin B6 karena pembentukan alanin dari glutamat mengalami hambatan ketika diserap. Konon menyantap 2 - 12 gram MSG sekali makan sudah bisa menimbulkan gejala ini. Akibatnya memang tidak fatal betul karena dalam 2 jam Cinese Restaurant Syndrome sudah hilang. Kerusakan Sel Jaringan Otak Lain lagi hasil penelitan Olney di St. Louis. Tahun 1969 ia mengadakan penelitian pada tikus putih muda. Tikus-tikus ini diberikan MSG sebanyak 0,5 - 4 mg per gram berat tubuhnya. Hasilnya tikus-tikus malang ini menderita kerusakan jaringan otak. Namun penelitian selanjutnya menunjukkan pemberian MSG yang dicampur dalam makanan tidak menunjukkan gejala kerusakan otak. Kendati penelitiannya menunjukkan MSG aman asal dicampur dalam hidangan, toh, Olney masih mengingatkan kita agar sesedikit mungkin menyantap MSG atau menghindarinya sama sekali di usia muda. Kanker Bisa jadi pendapat MSG menimbulkan kanker betul adanya kalau kita melihatnya dari sudut pandang berikut. Glutamat dapat membentuk pirolisis akibat pemanasan dengan suhu tinggi dan dalam waktu lama. Nah, pirolisis ini disebut-sebut sangat karsinogenik. Padahal masakan protein lain yang tidak ditambah MSG pun, kata pakar, bisa juga membentuk senyawa karsinogenik bila dipanaskan dengan suhu tinggi dan dalam waktu yang lama. Karena asam amino penyusun protein, seperti triptopan, penilalanin, lisin, dan metionin juga dapat mengalami pirolisis. Nah, dari penelitian tadi jelas cara memasak amat berpengaruh. Kerusakan Retina Pada MSG dosis normal memang tidak terlihat adanya akses glutamat yang berlebihan ke retina. Tetapi meski masih dipertanyakan, penelitian menunjukkan MSG yang berlebih dapat merusak retina. Amankah bagi wanita hamil dan menyusui? Hasil penelitian menunjukkan, glutamat hanya akan menembus placenta bila kadarnya dalam darah ibu mencapai 40 - 50 kali lebih besar dari kadar normal. Itu artinya mustahil kecuali glutamat diberikan secara intravena. Sementara kalau ibu menyusui menyantap MSG 100 mg/kg berat badan, mungkin kadar glutamat dalam darahnya akan naik, tetapi tidak dalam ASI. Padahal menurut penelitian pernah dilakukan oleh Muhilal bersama rekan-rekannya dari Puslitbang Gizi Bogor dan Direktorat Bina Gizi masyarakat Departemen Kesehatan, pemakaian rata-rata orang Indonesia hanya 0,6 gram per hari. Penelitian ini dilakukan tahun 1988 di tiga provinsi di Indonesia, yaitu Jawa Barat, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Selatan. Jumlah ini masih jauh di bawah konsumsi negara lain, lo. Taiwan,misalnya rata-rata 3 gr/hari, Korea 2,3 gr/hari, dan Jepang 1,6 gr/hari. Namun penelitian Muhilal tidak sejalan dengan temuan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Menurut penelitian YLKI, seperti dikutip Majalah Intisari beberapa tahun lalu, satu mangkok mi bakso saja mengandung 1,84 - 1,90 gr MSG. Dalam semangkok mi pangsit atau mi goreng bahkan terdapat 2,90 - 3,40 gr MSG. YLKI juga menemukan penggunaan MSG pada beberapa merk makanan camilan asin-gurih yang biasa dikonsumsi anak-anak (Intisari '92). Menurut Muhilal, batasan aman yang pernah dikeluarkan oleh badan kesehatan dunia WHO (World Health Organization), asupan MSG per hari sebaiknya sekitar 0-120 mg/kg berat badan. Jadi, jika berat seseorang 50 kg, maka konsumsi MSG yang aman menurut perhitungan tersebut 6 gr (kira-kira 2 sendok teh) per hari. Rumus ini hanya berlaku pada orang dewasa. WHO tidak menyarankan penggunaan MSG pada bayi di bawah 12 minggu. Belakangan MSG malah digolongkan sebagai GRAS (Generally Recognized As Save) atau secara umum dianggap aman. Hal ini juga didukung oleh US Food and Drugs Administration (FDA), atau badan pengawas makanan dan obat-obatan (semacam Ditjen POM) di Amerika yang menyatakan MSG aman. Tentu dalam batas konsumsi yang wajar. Sampai saat ini pun belum ditemukan kasus menonjol akibat mengkonsumsi MSG. Bahkan Jepang yang konsumsi MSG-nya cukup tinggi pun sampai saat ini tidak mengalami gangguan. Jangan berlebihan Kesimpulannya, MSG aman dikonsumsi sejauh tidak berlebihan. Harap diingat juga dalam kecap maupun saus pun terdapat kandungan MSG. Jadi, bila Anda sudah memakai saus atau kecap, pertimbangkan kembali, masih diperlukankah penambahan MSG. Bagaimana gurihnya pun MSG dalam masakan kita, bukankah kalau terlalu berlebihan, tidak enak lagi rasanya? Meski dinilai aman, MSG hendaknya tidak diberikan bagi orang yang tengah mengalami cidera otak karena stroke, terbentur, terluka, atau penyakit syaraf. Dr. Dennis Choi, seorang asisten guru besar Neurobiologi pada Universitas Stanford mengingatkan, konsumsi MSG menyebabkan penumpukan asam glutamat pada jaringan sel otak yang bisa berakibat kelumpuhan. Miftakh Faried (c) 2000 Sedap Sekejap
