http://mediacare.blogspot.com
----- Original Message -----
From: Abdul Rohim
To: [email protected] ; [email protected]
Sent: Saturday, March 21, 2009 1:12 PM
Subject: [mediacare] Wader Goreng Sambal Terasi
Wader Goreng Sambal Terasi
Kenikmatan Bersantap Terasa Kian Serasi.
Hari mulai siang. Puluhan kendaraan bermotor berangsur-agsur datang.
Tidak hanya kendaraan roda dua. Mobil berbagai merek dan tak sedikit yang
kinclong tampak parkir berjajar tepat di depan sebuah warung di kawasan
Ketintang Permai Selatan, Surabaya: Warung Wader Kincir Angin milik Wardi.
Pengunjung siang itu--yang merupakan pelanggan warung--terdiri atas
beragam kalangan. Ada rombongan pegawai negeri sipil dari berbagai instansi.
Ada karyawan swasta berbagai perusahaan, mahasiswa, juga masyarakat biasa.
Bersamaan dengan arah jarum jam menunjuk pada pukul 11.00 hingga pukul
14.00 WIB, bertepatan dengan jam santap siang, warung semakin padat.
Di dalam warung, ada yang memilih duduk lesehan, ada pula yang
menempati kursi yang ditata rapi di antara meja-meja panjang. Sambil ngobrol
ringan, mereka tampak lahap menyantap menu andalan warung ini: wader goreng.
"Yang membuat sensasi kenikmatan karena wader disajikan di atas piring tanah,"
kata Sholihin, salah seorang pegawai swasta yang mengaku selalu menyempatkan
diri mampir ke warung ini dua kali sepekan.
Di warung tersebut, penyuka makanan memang disuguhi wader goreng
disertai sambal terasi khas Surabaya. Hidangan dilengkapi dengan beragam
pilihan nasi, dari nasi putih biasa, nasi jagung, sampai nasi gurih. Banyaknya
porsi nasi disediakan secara bebas. Pembeli bisa sesuka hati mengambil sesuai
keinginan.
Menu pun masih dilengkapi kacang panjang, daun kemangi, daun papaya
rebus, serta mentimun sebagai bahan lalapan. Maka, yang tampak saat itu adalah
tangan yang cekatan menyuapkan sajian ke mulut, disertai dengan keringat
bercucuran membasahi wajah yang dipicu rasa pedas sambal. Suara tawa riang di
antara penikmat sembari bercanda karena kawannya tampak wajahnya memerah
menahan pedas.
Ikan wader tak sebesar ikan air tawar lainnya, seperti lele, mujair,
bandeng, atau gurame. Bahkan, bagi penghobi memancing, kerap muncul olok-olok
bahwa mendapatkan wader adalah musibah. Namun, meski ukurannya sangat kecil,
atau paling banter hanya sebesar jempol, ikan yang biasanya hidup bergerombol
di sungai ini ternyata memiliki rasa yang tak kalah "maknyus" dibanding ikan
air tawar lainnya.
Kelezatan ikan ini setidaknya bisa terlihat dari menjamurnya warung
bahkan restoran-restoran yang tersebar di Kota Surabaya, juga di daerah lainnya
yang juga menyediakan menu khusus wader goreng. Namun, Anda boleh
membandingkannya. Wader di warung Mardi terasa lebih lezat. Harganya pun
tergolong enteng di kantong, yakni Rp 6.000 setiap porsi.
Menurut Mardi, menu wader goreng telah membuat warung miliknya menjadi
terkenal. Setiap hari, tak kurang dari 200 orang memadati warungnya. Dia
menghabiskan sekitar 20 kilogram wader kali yang rutin diperolehnya dari
seorang langganan yang setiap pagi mengirimkan wader segar kepadanya.
Jika Anda tidak suka wader, jangan urungkan niat Anda untuk mendatangi
warung ini. Di Warung Wader Kincir Angin juga disediakan berbagai menu lainnya,
seperti nasi goreng, mi pangsit, gurame bakar, ikan patin bakar, ayam panggang,
ayam goreng, serta ayam penyet. Harganya juga Rp 6.000 per porsi..
Berbagai bothok juga disediakan. Ada bothok ikan patin, bothok ikan
teri, bhotok telur asin, serta bhotok rempelo ati. Harganya dibanderol Rp 2.500
per bungkus, kecuali bothok ikan patin yang agak mahal, Rp 5.000 per bungkus.
Menu minuman pun menyegarkan, bahkan menyehatkan tubuh. Ada sinom,
beras kencur, dan teh manis. Minuman sehat ini juga tidak mahal. Setiap gelas
hanya Rp 3.000. ROHMAN TAUFIQ
Wader Goreng Goyang Kereta
Letaknya nyelempit di antara permukiman padat serta di tepi jalan
sempit berpaving. Namun, tidak sulit menemukan Warung Wader Kincir Angin milik
Mardi. Siapa pun yang ditanya akan segera menunjuk warung yang berdekatan
dengan perlintasan rel kereta api itu. Getaran gerbong kereta terasa bersamaan
lahapnya menyantap wader goreng.
Warung wader, seperti diakui Mardi, bermula dari ketidaksengajaan.
"Semula di tempat ini saya hanya nyambi jualan es degan (kelapa muda) sambil
membuka tempat cuci mobil dan motor," ujarnya.
Merasa jualan es degan lebih laris dibanding cuci kendaraan, Mardi
lantas menambah menu jualannya dengan nasi dicampur bothok telur asin. Rupanya,
bakat masak istrinya membawa hoki. Nasi bothok telur asin laris manis.
Mardi terus melengkapi menunya. "Saya teringat di Jember dan Lumajang
banyak warung wader yang laris, ya, saya iseng coba menu wader. Ternyata malah
bawa rezeki berlimpah," dia mengisahkan tentang awal mula menu utamanya yang
mulai digelutinya pada 2001 itu. Usaha pencucian kendaraan pun dihentikan.
Sejak adanya menu wader, warung miliknya semakin diserbu pelanggan.
Mardi pun membuka satu warung lagi di kawasan Ketintang Barat, tak jauh dari
Rolak Gunungsari. Warung didesain secara nyaman dan alami karena pengunjung
warungnya merasa sejuk oleh embusan angin dari Kali Jagir.
Agar bisa melayani seluruh pelanggannya, Mardi membagi jadwal buka dua
warungnya. Warung lamanya dibuka mulai pukul 08.00 pagi hingga pukul 16.00
sore. Sedangkan warung di Rolak Gunungsari dibuka mulai pukul 12.00 siang
hingga pukul 22.00 malam. ROHMAN TAUFIQ
http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/03/20/Berita_Utama_-_Jatim/krn.20090320.160028.id.html
http://media-klaten.blogspot.com/
http://groups.google.com/group/suara-indonesia?hl=id
salam
Abdul Rohim