Nikmatnya Pecel di Malam Hari
Siapa
tak kenal pecel. Nasi pecel Madiun yang biasanya dijajakan sebagai menu
sarapan ini memiliki begitu banyak penggemar. Banyaknya penggemar
membuat menu ini begitu gampang didapatkan di pagi hari. Di malam hari,
menu ini ternyata tetap saja enak dinikmati. Tengok saja warung nasi
pecel Madiun di kawasan Keputran, tepatnya Jl Urip Sumoharjo, Surabaya.
Di warteg kaki lima yang menempati trotoir depan Institut Pembangunan
(IP) itu semakin malam, bahkan tengah malam, semakin banyak penikmat
nasi pecel.
Surabaya Post
| Warteg Bu Lilik ini memang populer sebagai warung khas di malam hari.
Lokasinya yang strategis di tengah kota, membuatnya jadi salah satu
alternatif tempat kongkow dengan nasi pecel Madiun sebagai menu khasnya.
Sejak
buka pada 1981, warteg ini memang sudah beberapa kali pindah tempat
mengingat dulunya hanya sebatas warung kaki lima yang menempati trotoar
jalan. "Kami pernah bertempat di samping jembatan penyeberangan jalan
Keputran, kemudian di samping Institut Pembangunan. Dan sejak 2 tahun
lebih ini bergeser lagi di Urip Sumoharjo no 37," ujar Amak, pemilik
warteg yang merupakan generasi kedua dari usaha ini.
Pemilihan
tempat ini memang berdasarkan perhitungan. Meski pemkot Surabaya sudah
menyediakan areal food court Urip Sumoharjo untuk pedagang kaki lima di
kawasan tersebut, tetapi warteg yang satu ini lebih memilih tempat di
sekitar IP depan sewa yang sedikit lebih murah ketimbang di Pujasera.
"Pujasera tempatnya kurang kondusif, luas stannya terlalu kecil dan
terlalu mepet tiap stan. Itu jadi kurang bagus untuk usaha makanan,"
kata Amak.
Di tempat sekarang, sejak setahun belakangan ini
warung tersebut buka selama 24 jam setiap harinya. Khusus untuk nasi
pecel Madiun dan nasi rawon tetap mulai pukul 19.00 sampai pukul 06.00
pagi. Sedang pagi harinya, buka untuk makanan jenis penyet-penyetan,
seperti bebek, burung dara atau ayam sampai sore hari.
Mengenai
nasi pecelnya sendiri, memang bisa dibilang berbeda dengan
tempat-tempat lainnya. Bumbu yang gurih dengan kadar kepedasan yang
cukup membuat rasa dari bumbu tersebut semakin enak.
Belum lagi
dengan lauk pendukung yang melengkapi seporsi nasi pecel yang berisi
sayuran, bumbu kacang dan rempeyek. Untuk lauknya, ada empal, ayam
kampung, telur dadar, mata sapi, cumi, hingga paru. Salah satu
pelanggan mengaku hampir setiap seminggu sekali ke tempat ini untuk
memuaskan hobinya makan nasi pecel. “Bumbunya enak dan gurih, malah
biasanya saya masih minta dibungkuskan untuk makan lagi di rumah," ujar
Doni, salah satu pelanggan.
Selain sajian nasi pecel yang enak,
juga terdapat rawon yang tidak kalah lezat di warteg yang berkapasitas
10 orang ini. "Kalau malam, ada meja kursi tambahan untuk menampung
lebih banyak pelanggan yang datang," jelas Amak.
Karena waktu
jualan tepat malam hari, membuat pengunjung warung ini bukan hanya dari
kalangan keluarga. Ketika sudah lebih dari tengah malam, kebanyakan
pelanggan yang datang adalah kalangan muda yang baru pulang dari
aktivitas dugem. "Tempatnya gak terlalu jauh dari tengah kota, jadi
sejalan waktu pulang dugem. Biasanya sih pilih rawon yang hangat,
tetapi pecel juga enak kok," ucap Dedy yang pernah merasakan sajian di
sini beberapa kali.dwi
Menjaga Rasa
Ulet.
Begitulah Sukarma mengembangkan usaha Warteg Bu Lilik selama ini.
Tepatnya sejak 1985, Amak –panggilan akrab Sukarma-- mulai dipercaya
orangtuanya untuk melanjutkan usaha nasi pecel yang memiliki ciri khas
ini. Mulai dalam bentuk warung kaki lima yang beberapa kali terpaksa
pindah tempat lantaran larangan dari pemerintah menggunakan trotoar
jalan, akhirnya sejak 2 tahun belakangan ini ia mendapatkan tempat yang
cukup aman untuk usahanya tersebut.
Kemampuannya meracik bumbu
dan memasak ini memang sudah dilakukannya ketika ia belajar membantu
orangtuanya sejak kecil. "Saya berpikir harus ada yang meneruskan usaha
orangtua ini. Akhirnya saya memutuskan untuk belajar meracik bumbu dan
memasak sejak duduk di SMP. Ternyata hasil dari racikan saya itu bisa
diterima oleh pelanggan, sehingga mereka tetap makan di tempat ini,"
ujar ayah dari 5 orang anak yang tinggal di kawasan Serayu ini.
Dalam
perjalannnya, beberapa waktu lalu ia juga sempat mengembangkan
warungnya tersebut di kawasan Surabaya Timur, meskipun hanya bertahan 2
tahun. Kemudian, racikannya tersebut juga dipercaya oleh sebuah hotel
di kawasan Semolowaru sebagai sajian breakfast mulai tahun 2005 hingga
2007.
Sejak enam bulan belakangan ia mengembangkan warung di
depan RS dekat Taman Bungkul. Di warung itu, Amak menawarkan kekhasan
bebek. "Kalau tempat usaha yang baru seperti ini memang harus ditangani
sendiri dulu," ucapnya.
Bagi Amak, satu hal yang paling penting
dalam mengembangkan usaha makanan itu ialah harus tetap menjaga rasa
dan pelayanan yang cepat. "Orang datang hanya ingin makan enak dengan
pelayanan yang cepat, sehingga mereka merasa puas," katanya.dwi
Sumber: Surabaya Post
Klik juga:
Blog Bango Mania
Facebook Bango Mania