umat, 20 Maret 2009 | 09:28 WIB
 KOMPAS.COM - Di tangan Hendro Widodo, makanan orang susah seperti tiwul dan 
gatot bisa menjadi produk bisnis menguntungkan. Ia mengemas makanan berbahan 
dasar singkong ini dalam bentuk instan. Sejauh ini, pengusaha yang menggarap 
bisnis ini masih sedikit. Omzetnya bisa mencapai Rp 10 juta per bulan.

Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, orang mengenal tiwul dan gatot sebagai makanan 
orang susah. Jika beras mahal atau sawah mengalami kekeringan, orang desa 
mengonsumsi makanan olahan dari ketela kering (gaplek) yang dihaluskan ini. 
Kita masih bisa menjumpai makanan ini di sejumlah daerah, seperti Kabupaten 
Wonogiri di Jawa Tengah, Gunung Kidul, Yogyakarta, dan Blitar di Jawa Timur.

Tapi, jangan salah, di tangan Hendro Widodo, tiwul dan gatot yang merupakan 
makanan ndeso itu bisa menjadi komoditas yang menghasilkan uang. Hendro yang 
berasal dari Serengat, Blitar, tahu betul kebiasaan masyarakat daerahnya 
mengonsumsi tiwul dan gatot. Agar lebih menarik, pada tahun 2003 ia mulai 
memproduksi tiwul dan gatot dalam kemasan, atau ia biasa menyebutnya tiwul dan 
gatot instan. "Modal awal saya cukup besar, yakni Rp 25 juta," katanya. Pada 
awal 2004, Hendro mulai memberi merek dua produknya Titan dan Gatan.

Proses menjadikan tiwul dan gatot instan cukup panjang. Hendro kerap mengganti 
resep agar semakin sempurna. "Komplain dari konsumen adalah masukan berarti 
buat saya," katanya.

Ia tak berhenti melakukan uji coba. Awalnya, ia mengetes resep di laboratorium 
Universitas Airlangga, Surabaya. Belakangan, ia mengetes resep terbaru di 
laboratorium Universitas Blitar. Dan akhirnya, Hendro mengaku kini sudah 
menemukan resep yang tepat.

Meski pelbagai uji coba sudah lewat, Hendro tetap menyimpan rapat-rapat resep 
tiwul dan gatot instannya. Saat produksi, Hendro sendiri yang meracik menu. 
Adapun lima karyawannya hanya meneruskan proses produksi berikutnya. Menurut 
Hendro, semua proses produksi dilakukan dengan cara sederhana. "Termasuk 
pengeringan yang masih memakai panas matahari. Saya belum punya dana untuk 
membeli oven," akunya.

Hendro menjual tiwul dan gatot instan dalam dua bentuk: kemasan dan curah. Ia 
membanderol kemasan seberat 250 gram dengan harga Rp 5.000. Adapun harga tiwul 
dan gatot instan curah lebih murah, yakni Rp 10.000 per kilogram (kg). "Tapi, 
saya menjual 80 persen produk dalam kemasan," ungkap pria 24 tahun ini.

Hendro menyediakan tiwul instan dalam dua rasa, manis dan tawar. Lulusan SMK 
Jurusan Otomotif ini menegaskan, tiwul tawar bisa sebagai pengganti nasi. "Juga 
cocok untuk pengidap diabetes dan diet," katanya.

Cara penyajian kedua makanan ini murah. Kita tinggal merendam tiwul ukuran 250 
gram dengan sekitar 150 cc air. Setelah dua menit, kukus tiwul selama 20 menit. 
Setelah mekar, paling enak tiwul dicampur taburan parutan kelapa yang sudah 
dibubuhi garam, keju, atau meses.

Penyajian gatot sama dengan tiwul. Hanya, waktu merendamnya lebih lama, minimal 
delapan jam. Makin lama justru lebih baik karena gatot bisa lebih kenyal.

Lewat 27 agen, produk Hendro kini sudah tersebar di beberapa daerah seperti 
Surabaya, Semarang, Bandung, Jakarta, Batam, Manado, dan Banjarmasin. 
"Permintaan paling bagus justru di Manado," katanya. Selain lewat agen, Hendro 
juga menitipkan produknya di beberapa outlet di Jawa Timur dengan sistem 
konsinyasi atau bagi hasil.

Dalam sebulan, Hendro bisa memproduksi dua ton tiwul dan sekitar 600 kg sampai 
800 kg gatot. Selama ini, ia tak mengalami kesulitan soal pasokan bahan baku. 
Sebab, daerahnya sangat kaya dengan singkong. Setiap bulan, Hendro mampu meraup 
omzet penjualan sampai Rp 10 juta. Laba bersihnya sekitar 30 persen. (Anastasia 
Lilin Yuliantina/Kontan)




Akses http://m.kompas.com dimana saja melalui ponsel, Blackberry atau iPhone 
Anda. 
Share on Facebook 
   - Beri Rating Artikel - ---------- Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat 
Kurang   A A A   
Ada 15 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
prayetno @ Rabu, 25 Maret 2009 | 14:57 WIB
Pa' Hendro ,boleh minto no telpnya.Kebetulan Saya sering PP Jkt - Medan.. Saya 
mau coba disana..
oyek @ Sabtu, 21 Maret 2009 | 05:45 WIB
salut pak gatot, kalau bisa bikin yang tahan lama, krn menjelang tahun2012 
bakalan susah makanan karena dunia berubah, bisa dilihat di web 2012 inca 
calendar atau web nibiru di you tube. 
alpras @ Jumat, 20 Maret 2009 | 23:33 WIB
wah jadi kangen juga makantiwul nie jadinya...
budi hendrawan @ Jumat, 20 Maret 2009 | 20:48 WIB
wah..saya salut dengan anda,meskipun anda lulusan smk otomotif namun anda mau 
terjun ke dunia kuliner yang biasanya sangat bertolak belakang... saran ssaya 
coba kirim produk anda k solo,maka akan lebih meningkatkan omset anda nantinya 
karena 2 makanan tersebut sangat digemari d solo
fera @ Jumat, 20 Maret 2009 | 15:37 WIB
makanan rendah kolestrol...baik untuk kesehatan lho....

Sumber: Kompas


Facebook: Radityo Djadjoeri

<<icon_print.gif>>

<<icon_mail.gif>>

Kirim email ke