Mengulang Jejak Kelezatan 'Janganan' Bu Sri




Meskipun sederhana sayuran rebus yang terdiri dari kangkung, kol dan tauge ini 
disiram bumbu kacang
yang kental agak kecokelatan. Rasanya gurih mlekoh dengan jajak manis
gurih dan pedas yang seimbang. Disuap dengan kerupuk kanji putih yang
renyah rasanya benar-benar nikmat. Persis seperti bertahun-tahun silam
saat pertama mencicipi pecel ini!

detikFood.com | Belum lagi setengah jam mampir di kota Semarang,
saya sudah terbayang-bayang kesegaran rasa janganan (pecel) bu Sri yang
ada di kawasan jalan Pekunden. Udara panas menyengat malah membuat saya
makin tak bisa mengusir bayangan segar dinginnya es kolak di warung
ini. Jadilah disela-sela waktu yang sempit Warung Rujak Cingur 'Bu Sri'
menjadi target utama saya.

Memasuki warung yang ada di emperan
rumah bu Sri ini nyarus tak ada yang berubah. Meja kayu dengan
bangku-bangku sederhana memenuhi ruangan yang terasa agak sejuk dengan
tiupan kipas angin. Andalan utama warung bu Sri yang ada di jalan Pekunden ini 
adalah rujak cingur. Tetapi di panas yang terik itu saya justru nyidam pecel 
alias janganan dalam istilah Semarangan.

Ternyata selain seporsi pecel, saya tergoda juga melikat tampilan gado-gado 
yang dipesan oleh orang di
meja sebelah. Maka gado-gado pun saya pesan. Khusus untuk minumannya
sengaja saya memesan es kolak yang lama tak saya nikmati. Pilihan di warung 
yang ada sejak lebih dari 30 tahun silam ini adalah pecel kangkung, rujak 
Surabaya, rujak buah yang dicacah (cincang) atau rujak iris.

Pelengkap lain yang jadi jagoan bu Sri adalah es
kolak dengan campuran degan (kelapa muda) atau bubur (bubur sumsum).
Untuk minuman dingin juga ada sederetan minuman yang menggiurkan; es
degan, es bubur, es dawet, es blewah, es campur dan es sirop. Di tiap meja 
panjang selalu tersedia, bihun dan bakmi goreng berbungkus daun, martabak mini 
yang crispi, bakwan, tahu goreng dan aneka makanan gorengan lainnya.

Sepiring cekung berisi pecel sudah tersaji dalam beberapa menit, Tempat meracik 
pesanan ada di
sisi kiri dan seperti open kitchen, gampang diamati termasuk proses
mengulek bumbu. Kalau biasanya bumbu pecel warnanya kemerahan maka
bumbu pecel buatan bu Sri ini justru agak kecokelatan dan menebarkan
aroma wangi kacang tanah goreng.

Kunyahan
pertama langsung terasa renyahnya kangkung dan daun kol. Kangkungnya
bukan kangkung cabut/akar tetapi kangkung sawah yang renyah dengan
tekstur daun yang tebal. Bumbu pecelnya terasa gurih, sedikit manis dan
pedas dengan jejak petis yang cukup kuat. Agaknya racikan bu Sri yang
berasal dari Jawa Timur ini memakai petis udang sehingga ada aksen rasa legit 
yang unik. Tak ada yang berubah, rasa pecelnya tetap sedap nikmat!

Nasib si gado-gado siram pun tak jauh berbeda. Campuran sayuran (kol, kacang 
panjang) selada, kentang, tahu,
tomat ditutup saus yang agak kemerahan dengan taburan emping berlimpah.
Hmm... siapa tahan godaannya? Rasa bumbu yang gurih ringan dengan
paduan manis dan pedas yang seimbang membuat gado-gado ini memang jadi
dahsyat enaknya!

Rasa kangen yang mendalam membuat saya makan
agak kalap. Padahal mata saya sudah tak tahan melihat racikan petis
kangkung yang menggiurkan. Rebusan daun kangkung ditutup saus petis
yang cokelat kehitaman. Walah…ini kalau dicocol dengan kerupuk kanji
tak terbayang enaknya! Sayang perut saya sudah mulai kencang.

Rasa gurih di mulutpun saya bilas dengan semangkuk es kolak. Sengaja saya tak 
memilih es kolak dengan berbagai campuran karena saya ingin merasakan kembali 
kenikmatan es kolak buatan bu Sri ini.

Kolak disajikan dalam mangkuk sedang berisi potongan pisang kapok, 
kolang-kaling, dan diberi kuah kolak, sirop merah plus es
batu. Kucuran siro merah yang wangi inilah yang jadi keunikan kolak
ini. Belum lagi pisangnya yang kenyal lembut legit dan kolang-kaling
muda yang lembut. Kuah kolaknya legit, tidak terlalu kental dengan
aroma gula merah yang wangi!

Nostalgia rasa lezat ini masih saya sambung dengan seporsi rujak iris. Irisan 
aneka buahnya tak jauh beda dengan rujak buah
umumnya. Yang membedakan justru saus rujaknya. Disajikan dalam piring
sedang dalam jumlah cukup banyak. Tak terlalu kental, berwarna kuning
kecokelatan. Saat dicocol barulah terasa jejak asam Jawa yang dominan.
Rasanya pun jadi tak melulu manis, ada semburat asam yang tajam dan
pedas yang menyegarkan!

Untung saja saya tak tergoda dengan
bungkusan daun pisang mungil yang berisi mi dan bihun goreng khas Jawa.
Karena perut saya sudah beanr-benar tak bisa diajak kompromi karena
kekenyangan! Tak salah sepertinya jika tiap kali saya ingin mencicipi
pecel di warung bu Sri tiap kali mampir ke Semarang.

Harga yang ditawarkan juga tak mahal. Seporsi rujak dan pecel Rp. 7.000,00 dan 
seporsi gado-gado Rp. 11.000,00 Sedangkan es kolak Rp. 6.000,00. Tak mahal 
bukan untuk sepotong nostalgia yang lezat dan sedap! (dev/Odi) 

Warung Rujak Cingur 'Bu Sri'
Jl. Pekunden Timur I no. 2
Semarang
Telp: 024-8411419 


      

Kirim email ke