Jakarta Meleleh dalam Es Krim
Paras ayu perempuan yang berleher jenjang dan berkaki panjang itu tampak masam. Mungkin karena antrean panjang dan merambat. Namun, dia bertahan. Sekitar 20 menit kemudian, air mukanya menjadi cerah, mungkin karena semangkuk es krim masam sudah di tangannya siap dinikmati. Pemandangan orang-orang mengantre di gerai-gerai es krim Sour Sally—tepatnya yogurt beku atau frozen yogurt—mengingatkan fenomena donat di Jakarta beberapa waktu lalu. Seperti perempuan ayu tadi, oma-opa pun tampak rela mengantre es krim produk lokal itu di gerainya di mal Senayan City. Sebutan es krim saat ini sebenarnya tidak lagi harfiah pada kudapan es yang berbahan susu krim saja, tetapi populer untuk merujuk pada pencuci mulut dingin seperti juga jenis gelato, yogurt beku, bahkan sorbet, smoothies, dan granita. Jakarta belakangan memang dikepung es krim. Beragam jenis dan brand, baik dalam dan luar negeri, mudah dijumpai di penjuru Ibu Kota saat ini. Sour Sally sebenarnya belum genap setahun berdiri. Gerai pertama hadir di lower ground mal Senayan City, Mei 2008. Setelah konsumen membeludak, sembilan gerai lainnya kini buka di berbagai mal di Jakarta. Penampilan semangkuk (karton) Sour Sally saja sudah menggoda. Bagaimana tidak. Seonggok es krim yogurt ditimbuni beragam topping atau taburan potongan buah-buahan berwarna-warni, mochi seukuran dadu, kacang almond, chocolate chips. Hm... siapa yang tak tergoda? Sour Sally sejauh ini hanya menawarkan dua rasa, plain original dan green tea. Jangan khawatir dengan ancaman rasa masam dari yogurt. Aroma kecut khas yogurt saja hanya membelai tipis di penciuman. Rasa masam Sour Sally rupanya masih cukup sopan bagi orang yang tak tahan rasa asam di lidah. Asamnya yogurt justru berdamai sempurna dengan belaian rasa manis yang ringan dan segar, serta kelembutan tekstur es. Belum lagi hiburan dari beragam topping. Kesatuan rasa yang ringan dan harmonis itu membuat siapa pun sanggup menghabiskan mangkuk ukuran terbesar tanpa rasa enek. Bahkan, tak tertinggal sisa rasa di kerongkongan. Anda rasanya tak perlu mengguyur mulut dengan air minum setelah menandaskan satu mangkuk. Marcus Kandou, Marketing Communication dan Public Relation Director, mengatakan, Sour Sally merupakan kudapan dingin yang sehat. Selain tanpa lemak, juga berkalori rendah, yaitu 20 kalori per ons. ”Jadi, menikmati yang enak enggak harus dengan rasa bersalah karena tinggi lemak,” kata Marcus. Marcus bercerita, Sour Sally diciptakan oleh pemilik tunggalnya, Donny Pramono (26), yang menggemari frozen yogurt saat kuliah di Amerika Serikat. Dia lalu terinspirasi untuk menciptakan produk lokal dengan rasa global. ”Siapa tahu bisa merambah sampai negara tetangga,” ujar Marcus. Tampilan kemasan Sour Sally memang mengingatkan kepada Pinkberry, frozen dessert kondang asal Los Angeles, tempat Donny sempat berkuliah. Pinkberry sendiri juga terinspirasi dari Red Mango, frozen yogurt asal Korea Selatan. Klasik Di antara jajaran es krim aneka merek, popularitas Haagen-Dazs tetap tak tergoyahkan. Tengok saja Haagen-Dazs Kafe Plaza Senayan. Kafe es krim asal New York, Amerika, itu tak pernah surut dipenuhi pencintanya. ”Akhir pekan atau hari libur mulai lepas makan siang sampai menjelang makan malam merupakan waktu teramai,” imbuh Cafe Manager Haagen-Dazs Kafe Senayan Plaza Darwis. Sebagai salah satu merek klasik, Haagen-Dazs menyediakan 20 rasa es krim dan sorbet (mangga dan jeruk), yang terbuat dari sari buah murni tanpa tambahan susu. Darwis menyebutnya sebagai es krim bebas lemak. Pelanggan yang sedang berdiet banyak memburu sorbet ini. Pada musim hujan saat ini, konsumen juga kerap mencari es krim yang disajikan di dalam cokelat panas. Wow.... Sementara rasa es krim cokelat dan vanila benar-benar menggigit lidah. Apalagi jika memesan es krim dipadu brownies atau cookies. Saat menggigit kue yang dicolekkan ke es krim, rasa kental susu dari es krim dan legitnya kue bikin kita lupa segala masalah yang membetot pikiran. Menurut Darwis, warga luar Jakarta kerap kali juga membawa Haagen Dazs sebagai oleh-oleh dari Jakarta. Pembeli akan memperoleh dry ice yang menjaga es krim tahan beku hingga lebih dari tiga jam. Kafe lain yang juga pendatang baru di dunia es krim adalah The Cream & Fudge Factory asal Swiss, yang sejak tahun 2007 masuk ke Jakarta di eX Plaza Indonesia. Dalam dua tahun, buka juga di Senayan City dan Pacific Place. Zaid, Chief Leader The Cream & Fudge Factory, menjelaskan, The Cream & Fudge Factory menyediakan 15 aneka rasa es krim. Taburannya pun seperti almond dan biskuit oreo. Pelanggan bisa memilih es krim dengan tempat berupa cone cantik di atas wadah bulat. Jika Anda sendirian, lebih baik memesan es krim di cone yang tak terlalu mengenyangkan perut sebab setelah es krim habis, Anda masih bisa menikmati cone dari wafel tipis nan manis dan teramat renyah. Gelato Selain es krim ala Amerika, di Jakarta saat ini tak sulit mencari gelato. Selain di Kafe Pisa yang telah lama populer, gelato juga bisa dinikmati di Gelato Bar, yang berdiri sejak 2003 di Dharmawangsa Square. Meski menjual es Italia, Gelato Bar pun murni produk lokal. Gelato adalah es krim khas Italia berkadar lemak rendah, 12 persen saja. Sebab, bahan utamanya hanyalah susu tanpa krim, ditambah perasa dari buah-buahan, kopi, cokelat, dan lain-lain. Kandungan udaranya juga sangat rendah sehingga gelato terasa padat, sekaligus amat lembut. Di kota-kota di Italia, penjual gelato bertebaran seperti penjual gorengan di Jakarta. Gelato memang kebanggaan Italia. Bahkan, orang Italia biasanya enggan menganggap gelato sebagai es krim. Jessie Gouw, General Affair Manager Gelato Bar, menuturkan, variasi gelato di kafenya mencapai hingga 85 rasa. Bedanya dengan gelato di Italia, gelato ala Indonesia bisa hadir dengan rasa durian! Uniknya, gelato ini relatif ”hangat” karena dibekukan hingga suhu minus 15 derajat Celsius. Sementara es berkrim umumnya dibekukan hingga minus 24 derajat Celsius. Bagi penggemar es krim beralkohol, Gelato Bar memang surganya. Selaras dengan namanya yang mencatut kata ”bar”. Mulai dari gelato amaretto hingga whiskey cream. Cobalah bayangkan kenikmatan sesendok gelato rasa mascarpone (sejenis keju lembut) disiram kahlua dan sirup kopi lalu ditaburi serpihan cokelat dan lady finger (semacam kue lidah kucing). Saat racikan gelato itu lumer di mulut, sensasi dingin di lidah beralih menjadi hangat di hati.... Pusing dengan masalah hidup? Enggak usah ke paranormal, tetapi luangkan waktu, jilatilah es krim favorit hingga lidah beku dan hati menghangat. Persediaan Terganjal Sistem Importasi Tak bisa disangkal, sebagian besar merek aneka es krim yang sedang atau tetap ngetren di Ibu Kota adalah barang impor yang, apa boleh buat, diproduksi di luar negeri. Kafe atau gerai es krim di Jakarta, seperti Baskin Robbins, Haagen-Dazs, Cold Stone, dan The Cream & Fudge Factory, hanya berperan sebagai penjual belaka. Haagen-Dazs merupakan es krim yang pertama kali dibuat oleh Rueben dan Rose Mattus, imigran yang tinggal di Bronx New York, Amerika Serikat, pada tahun 1961. Tiga puluh tujuh tahun kemudian, kafe es krim tersebut dibuka di Plaza Indonesia dan terus berkembang ke banyak tempat di Jakarta, Tangerang, Bali, Surabaya, dan Medan. Cerita tak jauh berbeda juga terjadi atas si pendatang baru, The Cream & Fudge Factory, yang tercipta dari tangan Fred Mouwad. Tahun 2005, es krim merek ini diluncurkan di Swiss, tak lama kemudian ia hadir di Jakarta. Berkait dengan kondisi ekonomi dunia yang tengah amburadul akibat penyakit resesi, Pemerintah Indonesia pun memperketat penggunaan devisa untuk importasi barang-barang tertentu. Bahan baku dan produk makanan misalnya es krim impor menjadi salah satu jenis yang dibatasi, padahal banyak penggemar menunggunya. Darwis, Cafe Manager Haagen-Dazs Plaza Senayan, misalnya, mengakui kafenya hari-hari ini sedang tak menjual beberapa jenis es krim, seperti dark chocolate dan sorbet mangga, yang belum bisa keluar dari pelabuhan. ”Banyak pelanggan kecewa karena tak bisa mengonsumsi es krim kegemarannya, tetapi kami juga hanya bisa menunggu kapan barang keluar,” lanjut Darwis. Budi Hartono dari Gelato Bar mengeluhkan hal serupa. Minuman beralkohol yang juga menjadi bahan sekaligus pelengkap gelato belakangan sulit keluar dari pelabuhan. Akibatnya, salah satu rasa gelato, yakni bailey gelato, sementara tak diproduksi. Namun, nasib itu tak dialami produsen Sour Sally yang murni brand lokal. Produk ini mampu menyodok pasar. Bahkan, dari segi animo konsumen, Sour Sally menjadi fenomena tersendiri di Jakarta. Patut diapresiasi, seperti Gelato Bar, Sour Sally juga memanfaatkan susu lokal sebagai bahan baku yogurt. Namun, bahan fermentasinya masih diimpor dari Amerika Serikat. Marcus Kandou dari Sour Sally berkeyakinan, Sour Sally suatu saat dapat menjadi kebanggaan negeri sendiri. Dan, produk lokal yang mengglobal tak harus bernuansa tradisional, tetapi juga bisa berupa produk yang kontemporer. (TRI/SF) Foto: http://3.bp.blogspot.com/ Sumber: KOMPAS Simak info kuliner menarik lainnya di http://kecap-bango.blogspot.com/ Bergabunglah di www.facebook.com/group.php?gid=41999088158
