JALAN-JALAN: Sederajat dalam Warteg
Oleh: M Clara Wresti dan Sarie Febriane
Cobalah
singgah di Warteg Warmo pada Sabtu dini hari atau Minggu dini hari.
Jangan kaget kalau warteg ini dipenuhi perempuan berbusana minim, tubuh
wangi, tetapi wajah mulai kucel. Maklum, baru kelar dugem. Inilah ciri
khas wajah Warmo di setiap dini hari pada akhir pekan.
Siapa
yang tak kenal warteg alias warung tegal? Warteg bisa ditemukan di mana
saja. Di pinggir jalan, di sekitar kampus, di dekat proyek bangunan,
terminal bus, stasiun kereta, area perkantoran, juga di sekitar pusat
perbelanjaan mewah. Ciri khas makanannya yang akrab di lidah, enak,
cepat, dan murah ini membuat warteg langgeng sejak tahun 1970-an.
Warteg
Warmo yang berlokasi di Tebet Raya, Jakarta Selatan, tadi, misalnya,
masih bertahan sebagai warteg legendaris yang populer di Jakarta.
Popularitasnya membuat siapa pun tak segan mampir makan di Warmo. Mulai
dari pejabat, pengusaha kelas kakap, juga kalangan selebriti. Jadi tak
heran para ”aktivis” clubbing pun tak risi makan di Warmo seusai dugem
hingga subuh. Terlebih, Warmo buka 24 jam.
Warteg—warung nasi
yang lahir dari tangan para perantau asal Tegal—memang telah melebur
dengan masyarakat Jakarta. Warteg menjadi bilik yang egaliter di mana
strata sosial apa pun berdampingan makan di satu kursi kayu panjang
tanpa harus jaim (jaga image).
Pada awal 1970-an ketika
pembangunan di Jakarta tengah giat dimulai, kebutuhan akan warung nasi
pun dimulai. Warung yang menyediakan makanan rumah sederhana dengan
jumlah yang banyak tetapi harga tetap terjangkau ini cocok dengan
kebutuhan para kuli bangunan. Begitu pula tukang becak hingga pedagang
minyak tanah keliling perlu menambah tenaga dengan makan di warteg.
Seiring
berjalannya waktu, warteg tidak hanya disambangi oleh kalangan ekonomi
sulit. Kalangan dari seluruh strata sosial sudi makan di warteg. Bule
pun kerap terlihat makan di warteg. Bahkan, warteg menjadi ”penopang
perut” amat penting bagi kelas menengah pekerja kantoran di Jakarta
yang butuh makan siang sehari-hari.
Pemilik Warteg Gewart Dago,
yang terletak di kawasan Halim, Cililitan, Jakarta Timur, mengaku
warungnya sering diketuk orang yang ingin sarapan. ”Sebenarnya warung
buka pukul 07.00, tetapi sering sekali pembeli sudah datang pukul
06.00. Mau tidak mau ya dilayani, dia kan butuh sarapan,” kata Ahmad
(30), anak Sopiah, pemilik Warteg Gewart Dago. Gewart merupakan
singkatan dari Generasi Warung Tegal, sedangkan Dago adalah nama gang
tempat mereka pertama kali berjualan di kawasan Halim itu.
Warteg
21 yang terletak di Jalan Tanah Mas Raya, Kayuputih, Pulo Gadung,
Jakarta Timur, hanya libur tujuh hari dalam setahun. Mutinah (33),
pengelola warteg, mengaku, wartegnya tidak bisa tutup karena pelanggan
akan kesulitan mencari tempat makan. ”Di warteg, harga makanan murah.
Zaman sekarang, semuanya mahal. Kalau makan tidak di warteg, gaji mana
cukup,” kata Mutinah.
Setiap hari Mutinah harus memasak 150
kilogram beras. Pada bulan Ramadhan, jumlah beras yang dimasak juga
tetap sama. ”Setiap hari saya belanja keperluan warteg sampai Rp 4,5
juta. Puasa tidak puasa, belanjanya ya sama,” ujarnya.
Tetap hangat
Sejak
pagi-pagi buta, mereka sudah berbelanja lalu langsung memasak. Gewart
mempekerjakan tujuh orang yang tidak berhenti memasak dari pukul 04.00
hingga 12.00. Warteg 21 mempekerjakan lima orang juru masak.
”Masak
tidak boleh berhenti biar masakan yang disajikan tetap hangat. Setelah
sore, barulah memasak berdasarkan kebutuhan,” ujar Ahmad.
Makanan
yang paling favorit di Warteg Gewart adalah tempe goreng tepung. Setiap
hari warteg ini menggoreng 100 hingga 120 lonjor tempe. Selain itu,
sate udang goreng juga sangat digemari. ”Setiap hari tak kurang 15
kilogram udang dimasak. Pokoknya saya menyisihkan Rp 4 juta untuk
belanja seluruh keperluan warteg,” ungkap Ahmad yang berbelanja
kebutuhannya di Pasar Kramat Jati.
Menurut Ahmad, setiap hari
dia menyediakan lebih dari 40 macam masakan. Sementara Mutinah mengaku
tidak tahu jumlah persis jenis makanan yang dia sediakan. ”Enggak
pernah dihitung. Ayam saja ada empat macam, ayam goreng, ayam opor,
ayam kecap, dan ayam pedas. Kalau 20 jenis sih lebih,” ujar Mutinah.
Semua jenis makanan ini belum termasuk telur asin dan mentimun yang
merupakan ciri khas warteg. Harga yang ditawarkan memang sangat murah.
Untuk nasi, sayur, dengan lauk udang dan tempe, Mutinah hanya
mengenakan Rp 6.000. Nasi sayur udang dan telur hanya Rp 7.000. Lalu
nasi sayur dengan lauk ayam hanya Rp 10.000, sudah termasuk teh tawar
hangat.
Sementara di Gewart harga nasi sayur udang hanya Rp
5.000, sedangkan nasi ayam hanya Rp 7.500. Harga ini sudah termasuk teh
tawar hangat. ”Murah meriah,” kata Ahmad.
Beragam jenis makanan
dan murahnya harga tentu menjadi daya tarik warteg. Orang yang makan di
warteg tidak mencari pendingin udara, bangku yang empuk, dan interior
yang didesain khusus.
Mereka nyaman makan berdesak-desakan
dengan orang tak dikenal di atas bangku kayu panjang. Mereka juga tidak
keberatan, setelah selesai makan, hanya punya waktu beberapa menit
untuk menurunkan makanan sebelum wajah-wajah kelaparan mengusir mereka.
Baik
Mutinah maupun Ahmad mengaku tidak mengetahui secara persis jumlah
pengunjung di wartegnya. Yang pasti, baik Ahmad maupun Mutinah harus
mempekerjakan 10 orang untuk melayani pembeli.
Namun, jika
dihitung secara kasar, jumlah pengunjung bisa diperkirakan. Jika dalam
20 menit rata-rata ada 10 orang makan di warteg, maka dalam sehari
sekitar 450 orang makan di warteg.
Doni, penjaga parkir di
Warteg Gewart Dago, mengaku rata-rata mendapatkan uang Rp 50.000-Rp
65.000 hanya dari pukul 11.00 sampai 14.30. Dalam sehari, pengaturan
parkir dibagi tiga shift. Setiap shift ada dua juru parkir.
Warteg
bolehlah disebut pahlawan bagi kaum urban Jakarta, yang bekerja memeras
otak dan otot hingga petang. Roda ekonomi negeri pun berputar, dari
mana tenaga para pekerja itu? Ya dari warteg....
Sumber: Kompas
Simak info kliner menarik lainnya di blog Bangomania
http://www.kecap-bango.blogspot.com