Datang dari Desa ke Kota Membawa Berkah
Sabtu, 18 April 2009 | 04:21 WIB
KOMPAS | Mempunyai warteg yang tidak henti dikunjungi pembeli tentu tidak
pernah terbayangkan oleh Mutinah, pemilik Warteg 21 di Pulomas,
Kayuputih, Pulo Gadung, Jakarta Timur. Warteg yang dirintis oleh
orangtuanya, almarhum Tarjo dan Ny Djaeni (57), ini semula hanya
melayani buruh bangunan dan tukang becak di kawasan Pulomas. ”Dulu
ayah saya adalah tukang becak, sedangkan ibu bekerja sebagai pembantu
rumah tangga. Lalu tahun 1970-an, ketika kawasan ini mulai dibangun,
baru ibu kepikiran membuat warung makan,” kata Mutinah. Sedikit
demi sedikit, pasangan yang berasal dari Tegal ini pun berhasil
mengumpulkan uang. Tarjo, yang semula menjadi penarik becak, saat itu
bisa memiliki lebih dari 150 becak. Dia juga berhasil menyekolahkan
anaknya hingga menjadi sarjana. Kisah serupa dialami Dasir dan
Tumuh, kakak beradik pendiri Warteg Warmo di Tebet, Jakarta Selatan.
Sekitar tahun 1955, Dasir dan Tumuh hijrah ke Jakarta dan bekerja
serabutan. Mulai dari pembantu rumah tangga sampai berjualan es.
Iswanto (23), salah seorang pegawai di Warteg Warmo, bercerita, baru
awal tahun 1970, kedua kakak beradik itu lalu mendirikan warung tegal
di Jatinegara, Jakarta Timur, tetapi hanya sebentar karena tergusur
proyek pembangunan jalan. Warung pun pindah ke Tebet dengan
hanya berupa bilik bambu sederhana. ”Lama-lama populer setelah dulu
Rhoma Irama suka makan di sini. Yang makan dari buruh, sopir, karyawan
kantoran, sampai orang elite,” kata Iswanto. Tidak jauh berbeda
dengan Warteg Gewart Dago, pemilik awal warteg ini, yakni pasangan
almarhum Harjo alias Kuping dan Ny Sopiah (55), juga bukan berasal dari
kalangan berada. Mereka adalah petani di Desa Kupu, Kecamatan Tugu
Turi, Tegal. Saat di Jakarta banyak pembangunan, keduanya mencoba
peruntungan ke Jakarta. ”Dulu yang makan di sini itu tukang
becak dan pedagang minyak keliling. Masaknya pun hanya 2-3 liter beras.
Kemudian perlahan-lahan bergeser menjadi semua kalangan makan di sini.
Sekarang sudah 100 kilogram per hari,” tutur Ahmad, pemilik Warteg
Gewart Dago. Sekarang Gewart Dago sudah memiliki enam cabang,
yakni di Kebon Jeruk, Pondok Gede, Pasar Minggu, Kayumanis, Kalimalang,
dan Bogor. Sementara Warteg 21 belum mempunyai cabang. Namun,
bukti nyata Warteg 21 sangat ramai adalah adanya pigura yang ditempel
di dinding. Pigura itu bukan berisi foto pemilik warteg bersama artis
terkenal, melainkan surat keterangan bahwa warteg ini dikenai pajak
pembangunan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. ”Setiap bulan saya
menyetor Rp 1 juta untuk pajak,” kata Mutinah. Warteg tak hanya
menjadi pahlawan bagi pekerja kantoran yang perlu makan siang murah
meriah di tengah kondisi ekonomi pas-pasan saat ini. Warteg juga
menjadi penyedia makanan bungkus bagi penderma yang ingin menyumbang
untuk korban banjir sampai bencana Situ Gintung yang lalu. ”Kalau
ada demo, banjir, atau ramai-ramai kampanye partai, biasanya ya kami
selalu diminta menyiapkan nasi bungkus,” ujar Iswanto. (ARN/SF)