Bango Cita Rasa Nusantara
Kreasi Nasi Yang Disajikan Dengan Sepenuh Hati
 
Dalam keragaman masakan asli Indonesia, nasi 
merupakan salah satu makanan pokok yang banyak 
dikreasikan. Inilah beberapa sajian nasi di 
Jakarta, Bandung, dan Banten yang sejak proses 
pemilihan bahan, meracik bumbu, hingga 
penyajiannya dilakukan dengan sepenuh hati.

Pernahkah Anda mengingatkan sang buah hati 
untuk melakukan sesuatu dengan tulus dan 
sepenuh hati? Kalau begitu, Anda tentu percaya 
bahwa segala sesuatu yang dilakukan sepenuh 
hati maka hasilnya akan lebih istimewa?

Begitu juga dengan Bango Cita Rasa Nusantara 
(BCRN), program kesayangan Anda ini secara 
khusus mengedepankan aneka jenis kuliner yang 
disajikan dengan sepenuh hati guna 
menghasilkan masakan yang istimewa. Untuk kali 
ini, yang ditampilkan BCRN adalah keragaman 
sajian nasi dalam masakan khas Indonesia.

Lebih Dari Nasi Goreng

Di antara beragam sajian nasi, nasi goreng 
bisa jadi merupakan sajian terpopuler. Untuk 
di sekitar kota Jakarta saja, Anda dapat 
menemukan ratusan atau bahkan ribuan pedagang 
nasi goreng. Meski begitu, Nasi Goreng Betawi 
Lalan dijamin istimewa karena disajikan dengan 
penuh dedikasi dan kesungguhan hati oleh 
pembuatnya.
 
Nasi Goreng Lalan berdiri sejak tahun 80-an 
dengan menu utama nasi goreng kambing. Menurut 
Lalan, sang pemilik, resep nasi goreng 
merupakan peninggalan kakeknya dan tidak 
pernah diubah hingga sekarang. Bahkan demi 
menjaga keaslian masakan, Lalan sama sekali 
tidak mengubah bumbu-bumbu yang menjadi 
pelengkap masakan, hingga cara pengolahannya. 
Tidak hanya itu, Lalan mengaku, ia sendiri 
yang berbelanja bahan-bahan makanan ke pasar, 
meracik bumbu, hingga mengolah nasi goreng. 
"Biar menjaga kualitas nasi goreng," urainya.
 
Yang unik dan membuat nasi goreng Lalan 
berbeda dengan nasi goreng lainnya adalah ia 
menggunakan nasi uduk untuk nasi gorengnya. 
Jadi bisa terbayang bukan gurihnya nasi goreng 
ini?
 
Warisan Hati Keluarga
 
Nasi goreng lain yang tak kalah istimewanya 
adalah nasi goreng Tempo Dulu yang terdapat di 
rumah makan Sagoo. Mulyadi, sang pemilik rumah 
makan, mengatakan nasi goreng Tempo Dulu 
diciptakan oleh nenek buyut istrinya pada 
tahun 1904 dan kini telah memasuki generasi ke 
empat.
 
Isi nasi goreng Tempo Dulu terdiri dari 
potongan telur dadar yang disusun melingkar, 
ebi goreng, dan lumpia yang dipotong 
kecil-kecil berisi abon udang. Ketika 
tercampur di mulut, nasi goreng Tempo Dulu 
menghadirkan sensasi yang sangat unik. 
Perpaduan antara rasa gurih-asin dengan pedas 
dan manis.
 
Keistimewaan lainnya, piring-piring yang 
digunakan di restoran yang berdiri sejak tahun 
1945 ini merupakan piring-piring replika dari 
piring-piring yang dimiliki keluarga Mulyadi 
dulu. Benar-benar sebuah bentuk warisan 
kuliner sepenuh hati yang harus dijaga 
kelestariannya.
 
 
Yang Unik Dari Daerah Lain
 
Lain daerah lain pula sajiannya. Di Serang, 
Banten, nasi diolah menjadi nasi sumsum. 
Proses pembuatannya, pertama nasi diberi 
sumsum, kemudian dibungkus menggunakan daun 
pisang batu. Terakhir, nasi dibakar 
menggunakan tungku. Ketika matang, nasi tadi 
menjadi lebih pulen dengan rasa gurih yang 
meresap. Uniknya, tidak seperti lontong atau 
ketupat, butiran nasi sumsum tidak lengket 
tapi terurai seperti nasi goreng.
 
Salah satu tempat yang menyajikan nasi sumsum 
di Serang adalah Warung Mang Puri. Rahasia 
kelezatan dan kekenyalan nasi sumsum di tempat 
ini adalah sebelum disatukan, secara terpisah 
nasi dan sumsumnya dikukus terlebih dulu. 
Perbedaan lain, bila tempat lain menggunakan 
sumsum sapi, nasi sumsum di Warung Mang Puri 
menggunakan sumsum tulang kerbau. "Kalau pakai 
sumsum tulang sapi, sumsum akan menyusut 
ketika dipanaskan," terangnya.
 
Jadi meski persediaan sumsum kerbau terbatas 
di pasaran, tapi sesuai komitmen Mang Puri 
untuk melestarikan resep warisan sang nenek, 
juga demi memberikan yang terbaik bagi 
pelanggannya, Mang Puri akan terus berusaha 
menyajikan nasi sumsumnya dengan sumsum 
kerbau. Pantaslah bila terasa lebih lezattttt!
 
Sementara itu, di kota Garut orang mengenal 
nasi katumbiri yang terdapat di rumah makan 
Pujasega. Dalam bahasa Sunda, katumbiri 
berarti pelangi, jadi nasi katumbiri adalah 
nasi pelangi.

Yang dimaksud dengan nasi pelangi ini adalah 
empat macam nasi yang tersaji dalam bentuk 
susunan. Paling atas nasi putih, lalu nasi 
tutug oncom merah yang telah dibakar terlebih 
dulu, kemudian nasi kuning, dan terakhir nasi 
beras merah.

Guna menjaga kualitas menu yang disajikan, 
pemilik rumah makan Pujasega sendirilah yang 
dengan dedikasi tinggi berada di balik proses 
memasak tiap masakan. Mulai dari mengawasi 
penggunaan bahan-bahan makanan sampai dengan 
proses memasaknya. 



Please add my Facebook: 
Radityo Indonesia
Mediacare Indonesia

Kirim email ke