Warung Sidodadi: Nikmati Sensasi Rasa Sea Food
Menikmati masakan yang berbau seafood memang nggak pernah ada habisnya mulai dari ikan, udang cumi sampai kepiting dengan berbagai aneka cara memasak. Mau menikmati berbagai rasa dan cara pengolahan dari satu jenis makanan mampu kita dapatkan di mana saja, sudah banyak rumah makan dan restoran yang menyajikannya, mulai yang akrab dengan lidah orang Indonesia sampai dengan lidah orang Tionghoa. Tergantung tempat dan suasana makan yang kita inginkan sudah dapat dipastikan rata-rata rasa yang kita dapatkan umumnya sama. Tapi ada yang beda di suatu tempat yang menyediakan jasa pembakaran ikan. Tempat itu bernama ”Warung Sidodadi” milik bapak Budi yang berlokasi di Desa Gisik Cemandi, Kec. Sedati, Sidoarjo, atau lebih mudah dikenal dengan sebutan tempat pelelangan Ikan (TPI) belakang Bandara Juanda, karena lokasinya memang tak jauh dari bandara. Untuk ukurannya warung pak Budi terbilang sedang-sedang saja tidak terlalu besar, dengan daya tampung pengunjung 40 orang, warung itu lumayan terbilang ramai pengunjung. Tidak hanya yang menikmati menu ikan bakar dan masakan lainnya di tempat, tapi ada juga sebagian yang menggunakan jasa pembakaran ikan untuk dibawa pulang. Warung yang buka sejak pagi pada pukul 08.00-18.00 pada hari biasa dan pukul 06.30-19.00 pada hari libur atau hari besar terlihat selalu dipadati para penggemar makanan laut. Cukup mudah bagi pengunjung untuk menikmati ikan yang mereka mau, karena lokasi warung pak Budi yang tak jauh dari pasar ikan yang tentu saja harganya lumayang miring. Setelah menawar dan membeli ikan mereka tak usah susah-susah memikirkan cara memasaknya, tinggal membawa ke warung pak Budi maka semua akan tersaji, namun yang menjadi persoalan adalah antrean pengunjung dan tumpukan ikan yang akan dibakar membuat mereka yang kurang sabar akan merasa sedikit jengkel. Tapi dijamin penantian itu nggak akan sia-sia setelah semua menu yang dipesan tersaji di meja makan. Pak Budi menawarkan cara memasak dengan dibakar, digoreng, dan dikrengseng. “Saya akan menyajikan apa yang pengunjung minta sesuai dengan pesanan mereka” ujar pak Budi. Menurut pak Budi ikan yang paling banyak diminati pengunjung untuk dibakar adalah ikan baronang, kakap, ikan mata satu, ikan sembilang, dan masih banyak lagi. Sedangkan yang spesialis goring, pak Budi menyebutkan ikan bubara dan ikan dorang. Selain dua menu di atas, pak Budi masih punya menu andalan, yaitu asam manis dan bumbu lada hitam, seperti menu asam manis kakap merah, dan gurame. Untuk bumbu lada hitam ada kakap putih, barakuda, kepiting, dan cumi. Saat mencium aroma bakaran ikan yang dituangi minyak samin setelah sesaat terkena panas bara api, sudah membuat perut tak kuat menahan lapar, belum lagi ketika asap makin membubung tinggi setelah ikan disiram air garam dan jilatan api menyelubungi seluruh permukaan ikan, aroma yang tercipta semakin kuat, untuk olesan terakhir ada bumbu khas buatan pak Budi yang dioleskan pada permukaan ikan yang sudah matang, setelah itu kedua sisi ikan ditutup menggunakan daun pisang. Dapat dibayangkan aroma dan rasa apa yang tercipta dari cara pemasakan yang luar biasa. “Semua proses dan sentuhan pada ikan bakar akan menentukan cita dan rasa akhir pada ikan bakar itu sendiri, tapi ada juga dari mereka yang suka dibakar tanpa diolesi bumbu, ya… itu kan selera masing-masing,” ujar pak Budi sambil menata ikan yang sudah matang di atas piring yang berukuran lumayan besar. Sudah cukup banyak yang berlangganan di warung pak Budi yang sudah berjualan sejak 2004, sebut saja Ibu Bambang DH, Ketua PD Pasar, para petinggi AL yang berdinas di Juanda dan pemain band asal Jakarta. Menggunakan tenaga 4 karyawan pada hari biasa dan 8 orang karyawan pada hari libur atau hari besar sudah memuat warung pak budi cukup dikenal di kalangan pecinta masakan laut. Anda harus mencoba masakan pak Budi, nikmati sensasi bumbu, sambal kecap, sambal terasi, dan tentu saja ikan, dipastikan akan membuat ketagihan lidah kita. Tidak Mudah Melihat ramainya pengunjung di warung merupakan nikmat tersendiri. “Membuka warung bukan merupakan sesuatu yang mudah” ujar pak Budi. Untuk menjadikan warungnya seramai saat ini, Ia membutuhkan kerja keras selama 5 tahun terakhir. Apalagi sebelumnya ia berprofesi sebagai tukang listrik dan hanya lulusan STM sama sekali jauh dari yang namanya urusan makan. Tapi karena menurut pak Budi bahwa rezeki atau hokinya memang di tempat itu maka ia menekuninya hingga menjadi sekarang ini. Didukung istri tercinta Sri Mudeni serta dua anak laki-lakinya Dion dan Titis, pak Budi mampu memberikan jasa membakar ikan hingga 20 kg per hari di hari-hari biasa dan mencapai 60 kg di hari lubur dan hari besar. Sungguh bukan ikan yang sedikit untuk dikerjakan oleh pak Budi jika melihat dulunya waktu pertama kali buka hanyalah warung biasa. Karena saran kakaknyalah ia akhirnya memutuskan untuk merubah warungnya tersebut dengan jasa pembakaran. Selain makan, pengunjung juga bisa minta dibakarkan dan dimasakkan menu masakan laut kesukaan mereka. Baik ikan bakar, masak asam manis dan lada hitam, pak Budi mampu menyajikannya dengan cukup baik, menggugah selera makan dan rasanya luar biasa. Walau ia mempunyai saudara yang bekerja di restoran elit dan sempat dibocori resep rahasia, pak Budi tidak mau, karena ia berpendapat beda. ”Lidah setiap orang beda, tidak melulu sama dengan yang ditempat elit, apalagi dengan lidah orang jawa,” ujarnya. Memang belum tentu masakan dari resep elit akan diterima semua lidah pengunjungnya, maka ia membuat dan menciptakan sendiri resepnya dengan bumbu tradisional. Melihat omset yang lumayan dan tawaran dari beberapa pemilik dan pengelola tempat makan ternama di beberapa tempat di Surabaya tak membuat pak Budi untuk melebarkan sayap bisnisnya, karena ia memikirkan biaya lebih untuk membuka sebuah cabang, belum lagi tenaga, apalagi resep rahasia baru dipegang oleh pak Budi. Hingga ia hanya berkeinginan untuk memperluas warung yanga da saat ini agar mampu menampung lebih banyak pengunjung. “Banyak pengunjung yang kuran sabar untuk antre, sehingga terkadang mengurungkan niatnya untuk membakar ikannya,” ujar pak Budi. Pak Budi juga melayani jasa antar untuk ikan bakar dan masakan lainnya dengan berat minimal 3 kg hanya dengan menarik uang transport Rp 15.000 maka ia sudah dapat menyajikan menu ikan bakar dan masakan lainnya di tempat pemesan. Namun jasa pemesanan tersebut tidak dilayani pada hari Sabtu dan Minggu juga hari besar karena ia mengaku kewalahan dengan pengunjung yang datang. Bagi mereka yang enggan menunggu dan ingin langsung menikmati masakan tanpa menunggu pak Budi juga melayani pemesanan. “Tinggal telepon saya dan bilang mau ikan apa, jumlahnya berapa, dimasak apa, dan dating jam berapa, maka ketika dating semua sudah siap disantap. Tapi saya tidak melayani pada hari Sabtu dan Minggu, ya… itu tadi saya kewalahan pada hari-hari tersebut,” Ujarnya. Pak Budi memanjakan pelanggannya dengan semaksimal mungkin, tinggal kita mau memilih yang mana, belanja ikan sendiri dan memakai jasa pak Budi, pesan, datang langsung santap atau minta diantara tanpa kita dating ke tempat pak Budi, terserah mana yang Anda suka. (vic) Sumber: Surabaya Post Dapatkan informasi kuliner lainnya di http://kecap-bango.blogspot.com
