window.google_render_ad();



Icip-icip Racikan Rahasia RA Kartini




Tak
banyak hotel yang memberi perhatian pada peringatan Hari Kartini
seperti Hotel Tugu Kota Malang, khususnya dalam seni kuliner Nusantara.
Apalagi dalam satu satu buku yang ditulis oleh penulis Belanda
disebutkan bahwa RA Kartini selain gemar membatik dan membuat ukiran,
ia juga gemar memasak.

Racikan pahlawan wanita Indonesia itu
banyak dipengaruhi oleh gaya kuliner dari Belanda, Arab di samping Jawa
Tengah. Aneka menu resep wanita Jepara itu dikenalkan pada para tamu
yang datang ke hotel, khususnya di Melati Restorant.

“Resep-resep
masakan kegemaran RA Kartini yang tersusun dalam Bahasa Jawa itu telah
menjadi beberapa buku yang berjudul Lajang Panoentoen Bab Olah Olah,”
terang Crescentia H, Executive Assistant Manager Hotel Tugu Malang.

Bagi
kita yang berada di abad 21 ini, resep-resep itu terasa sangat unik dan
sederhana. Untuk itu pihaknya tetap merasa memiliki ‘kewajiban’ untuk
mengenalkan resep-resep sebagai bentuk ikut melestarikan budaya.
“Ketika pertama kali dilaunching, animo tamu sangat tinggi,” kata Bu
Cres, panggilan akrabnya.

Titik utama dari menu ini adalah pada
sego atau nasi. Sebab tiap jenis nasi, rasanya berbeda. Begitu juga
pengolahannya. Ini yang menjadi daya tarik karena biasanya nasi
disajikan dengan rasa tawar. Beberapa menu yang disiapkan untuk program
ini adalah Sego Langgi, Sego Wuduk, Sego Liwet Ayam, Sego Goreng Iboe
Ngasirah, Sego Rames Kardinah, Sego Brongkos, Sego Bogana dan Sego
Kebuli.

Ny Toshiko Ohmatoi, warga Jepang yang tinggal di Kota
Batu sempat mencicipi cita rasa salah satu resep Kartini itu. “Enak
juga unik?” komentar Toshiko ketika menikmati Sego Langgi. Yang membuat
unik pada penampilan setiap nasi ini adalah kemasannya.

Tugu
meletakkan makanan itu pada piring tanah liat besar. Menu Sego Wuduk
misalnya, nasinya berupa nasi gurih (nasi yang dimasak dengan santan)
dengan lauk cumi bumbu merah, petai, sambal goreng tempe kentang petai,
tumis daun pepaya dan sambal bajag dibungkus daun. Kemudian rempeyek
teri dalam ukuran besar diletakkan di sisi bungkusan nasi itu. Hmmm
sungguh membuat kemecer.

Enak sekali apalagi ketika dimakan pada
siang hari sambil menikmati es teh jeruk dalam ukuran besar. Entah
mengapa rempeyek yang disajikan dibuat dalam ukuran besar. Malah
mungkin rempeyek itu bisa dimakan untuk tiga orang.

“Rempeyek
itu dibuat di wajan yang besar. Kalau rempeyeknya dibuat besar, mungkin
biar benar-benar menikmati makanan itu dalam suasana santai,” cerita Bu
Cres.

Bagaimana ‘isi perut’ Sego Langgi? Isinya tentu saja nasi
dengan dadar telur, sate daging manis, balado teri dan kacang, lalapan
mentimun, kemangi, sambal terasi, bacem tempe tahu dan krupuk samiler.

Sedang
Sego Liwet Ayam, lauknya ada plecing kangkung, sambal jeruk limau, ayam
goreng bumbu dan krupuk puli. Sedang Sego Goreng Iboe Ngasirah berupa
nasi goreng dengan sate daging kelapa, krupuk udang dan sambal terasi.
Sego Rames Kardinah adalah nasi dengan dendeng ragi Trunojoyo, udang
goreng kering, tempe goreng, perkedel kepiting, sambal goreng tempe
petai bertabur kacang goreng.

Sedang Sego Brongkos berisi nasi
dengan empal gepuk, paru goreng, sambal ijo, tahu bacem, lalapan
bendoyo dan rempeyek teri. Sego Bogana berisi nasi dengan sate kambing,
acar nanas dan kacang panjang. Sego Kebuli berisi nasi dengan ayam
goreng Jawa, serundeng, sambal goreng kentang, paru goreng, sambal
bajak, timun, kemangi dengan pindang telur. “Semua jenis masakan ini
enak dimakan untuk pagi, siang atau malam hari,” pungkasnya. Mau
icip-icip resep RA Kartini di Malang? (sylvianita widyawati)

Sumber: KOMPAS.COM
Silakan gabung di komunitas Bangomania... KLIK http://kecap-bango.blogspot.com


      

Kirim email ke