*Dear Bangoers Mania,* *Kalau mampir di RM Masakan Rumah Bu Endang memang enak betul, saya sering kumpul2 sama teman2 disana, suasananya yang buat orang betah ber-jam2 dan keramahan Bapak dan Ibu Endangnya yang membuat tamu krasan.* *Kalau kesana jangan lupa pesan bistik Lidah, Mangut ikan Pari, Ayam bakar kemiri, semuanya enak deh dan jangan lupa minum Wedang Secang yang terbuat dari kulit pohon Secang uenaaak tenan, bikin badan jadi anget.* *Dan kalau mau ketemu arang2 penting tokoh2 pemerintahan disana tempatnya, ada P.Soedomo, Habibi, Rizal Ramli dll, saya ikut disana biar dikira orang penting juga... cuma sayang nggak ada yang ngenali saya, ya cuma gigit jari saja deh.* *Oya ada cumi yg dimasak hitam kalau orang2 daerah Pantura asalnya pasti suka tuh sama cumi hitam.* *Makanan yg lainnya juga enak, cuma saya kalau kesana selalu nggak luput dari Wedang secang, Bistik Lidah, Tahu campur, Mangut ikan pari dan cumi hitam plus penutupnya Colenak kalau nggak salah....dicocol enak.* *Kalau mau ngumpul kesana kabar2 i dulu jadi bisa ketemuan.* *Sekian dulu.* ** *Regards,* *Bakso Cak Uban*
2009/6/5 Abdur Rohman <[email protected]> > > > Terpesona Kelezatan Resep Kuno Bu > Endang<http://kecap-bango.blogspot.com/2009/06/terpesona-kelezatan-resep-kuno-bu.html> > > <http://food.detik.com/images/content/2009/06/04/290/slbuendangbsr.jpg> > Rumah makan yang menyerupai rumah tua ini memiliki pesona tersendiri. Tak > cuma suasana yang homy namun juga menawarkan masakan Jawa rumahan dengan > resep kuno yang luar biasa lezatnya. Khusus buat penggemar masakan Jawa > hmm... pastinya wajib mampir kesini! > > Suatu suang saya diajak teman-teman untuk bersantap siang ke rumah makan > yang menempati bangunan rumah lama dengan cat putih berlangit-langit tinggi. > Nama rumah makan ini sesuai dengan nama pemiliknya yaitu Bu Endang. Meskipun > sederhana namun pengunjungnya lumayan ramai. > > Iseng saya pun bertanya kepada beberapa pelanggan yang ada disana. Ternyata > hampir semuanya merupakan pelanggan tetap yang bahkan frekuensi makannya di > tempat ini bisa dibilang setiap hari. Wah tentu saya sangat kaget, karena > dimenu rumah makan ini hanya menyediakan 24 masakan khas jawa saja. Apa > mereka nggak bosen ya? > > "Nggak sih, karena masakannya bener bener rumahan apalagi ditunjang dengan > bentuk dan interior rumah banget, jadi saya merasa sedang berada dan makan > di rumah," kata Lidia pengacara Ahmad Dani yang mengaku tiap hari atau > paling sedikit dalam seminggu 3 kali dia makan disini. > > "Soal harga? Hmm... buat saya kepuasan itu melebihi segalanya. Nggak bisa > dibandingkan dengan harga," kata Didit Indra, Executive Creative Director di > perusahaan periklanan, yang tiap pagi beli sarapan dan hampir tiap hari > makan siang di masakan rumah Bu Endang. > > Walah... saya jadi benar-benar penasaran. Akhirnya saya memesan galantine, > itu loh bistik Jawa. Setelah sepotong bistik masuk ke mulut dan melewati > lidah... aduh enak banget! Dagingnya empuk banget dan ini dia baru yang > namanya galantine. Murni daging! Karena biasanya orang jual galantine tapi > rasa tepung. Nah di Bu Endang ini galantinenya benar-benar daging murni yang > kalau dicocol dengan kuahnya hmm... pokoknya aduhaii rasanya. > > Belum lagi masih ada garnish yang berupa kentang yang digoreng tipis tipis, > rasanya renyah banget kriuk-kriuk enak. Beneran loh dahsyat banget nih > galantine. Kalau anda kesini harus cobain deh dijamin puas. > > Oh ya, saya juga cobain bistik lidah. Sebenarnya saya agak geli menyantap > hidangan ini. Maklum saya pernah memiliki pengalaman buruk saat menyantap > hidangan ini dulu karena lidahnya kasar jadi benar-benar terasa lidah makan > lidah. Tapi entah kenapa di Bu Endang ini, aku doyan loh sama sekali tidak > jijik. Karena lidahnya dibersihkan dengan sempurna sehingga tidak ada rasa > kasar khas lidah. Hmm yang terasa cuma empuk, gurih dan bumbu yang meresap. > Wah enak banget. > > Selain itu saya juga nyobain lontong cap gomeh yang dipesen temen saya. > Hmm... dari penampilannya aja udah beda sama lontong cap gomeh yang beredar > di pasaran sekarang ini. Lontong cap gomeh disini warnanya nggak kuning kare > seperti lontong cap gomeh ditempat lain. Warnanya lebih pekat agak > kecoklatan, ayam pun bukan ayam kare melainkan ayam yang memiliki warna > coklat legam. > > Hmm... rasanya luar biasa, lidah manapun saya rasa akan takluk pada lontong > cap gomeh yang satu ini. Pada akhirnya teman saya menghabiskan tanpa sisa > sebutirpun nasi, setetespun kuah dan sesuwir daging, yang tertinggal cuma > selembar daun pisang yang dipakai jadi alas nasi. > > Lontong cap gomehnya benar-benar lontong cap gomeh dengan resep Jawa kuno. > Dan itulah keunggulan Bu Endang dibanding rumah makan Jawa lainnya. Semua > masakan yang disajikan merupakan resep Jawa kuno. Pokoknya rekomendasi > banget deh jangan takut kecewa, karena anda penikmat masakan Jawa pasti akan > keluar dari tempat makan ini dengan perasaan ingin kembali. > > Karena selain tempat yang homy, masakan yang lezat pemiliknya juga sangat > ramah. Saya lihat sejak saya masuk hingga keluar dari tempat makan ini, Bu > Endang yang mondar-mandir bak setrikaan menyapa satu persatu pelanggannya. > Pada pelanggan yang cukup ia kenal, ia akan menyapa sebentar dan bertanya > kabar. Sedangkan pada pelanggan yang baru pertama datang, seperti saya, ia > akan bertanya, "Cocok nggak masakannya? Kurang apa?" > > Okenya lagi... semua masakan disini dimasak tanpa menggunakan penyedap/MSG. > Bahan-bahan yang digunakan pun diseleksi sendiri oleh Bu Endang. Wahai > penikmat masakan Jawa wajib datang ke rumah makan ini! (dev/Odi) > > Masakan Rumah Bu Endang > Jl. Wijaya I no.28 Kebayoran Baru > Jakarta Selatan > Telp: 021-723 7086 > > > Sumber: > detikfood<http://food.detik.com/read/2009/06/04/120547/1142554/290/terpesona-kelezatan-resep-kuno-bu-endang> > Klik juga http://kecap-bango.blogspot.com > > >
