Salam,
Setiap kali pulang dari bandung  lewat tol cipularang pasti saya tidak lewatkan 
makan di pemberhentian satu satunya di cipularang yang dari arah bandung ke 
jakarta. Benar makananya dan cara menyajikan sangat sederhana tapi rasanya 
cocok dan pas, sewaktu masih bernama ciganea rasanya sangat pas ,dan enak 
,terutama ikan mas goreng dan ikan goreng yang kecil kecil di tambah sambalnya 
di cobek . Tetapi sejak 3 bulan lalu namanya berubah jadi rm ibu haji cijantung 
IHC . Saya juga kaget waktu mampir lagi dan memang sdh tidak ada lagi ciganea 
(masalah internal ).setelah nama berubah  dan saya makan untuk ke dua kalinya  
( terakhir kemarin ) rasanya agak seikit asin untuk ikan mas dan ayam 
gorengnya, tapi yang lain masih ok.terimakasih

Salam 
Hendra tomas


-----Original Message-----
From: Abdur Rohman <[email protected]>

Date: Wed, 15 Jul 2009 00:20:39 
To: <[email protected]>
Subject: [bango-mania] Masakan Bu Haji, Jujur Lezatnya!



Masakan Bu Haji, Jujur Lezatnya!




JAKARTA
| Di rumah makan ibu haji Aminah ini, semua yang dimasak disajikan di
meja. Bagai menyambut tamu. Ikan mas goreng yang kemepul, terasa gurih
dengan aroma bawang. Ayam gorengnya juga empuk dengan aksen gurih
bawang. Dicocol sambal dadak yang kasar dan garang, rasanya jadi luar
biasa dahsyat!

Nama Ibu Haji Ciganea terkenal sejak membuka
rumah makan Sunda di Ciganea, Purwakarta sekitar 11 tahun silam. Saya
justru penasaran, saat melihat papan namanya berubah menjadi Ibu Haji
Cijantung, dengan singkatan IHC juga. Padahal rumah makan ini punya 18
cabang di Jakarta, Bandung dan Banten.

Dari luar salah satu
cabang rumah makan yang ada di jalan raya Serpong ini tampak sederhana.
Meja makan kayu ditata dalam dua ruangan terpisah, ber-AC dan non AC.
Boleh dibilang di jam makan siang rumah makan ini selalu padat
pengunjung.

Tak usah meminta menu, hanya ada menu minuman saja
yang sudah direkatkan di ujung meja. Seperti rumah makan Padang, semua
masakan yang dimasak hari itu disajikan di atas meja. Tinggal disantap
saja, kecuali ada permintaan khusus. Bakul bambu berisi nasi hangatpun
disajikan langsung.

Menu yang disajikan sederhana tetapi cukup
lengkap. Ada ayam goreng yang tak terlalu kering, ikan mas goreng,
bakwan tahu dan bakwan udang, hati ampela goreng, tahu dan tempe
goreng, pepes oncom, ayam, teri, jamur dan tahu serta gepuk (empal).
Kalau doyan sayuran bisa memesan karedok, pencok kacang panjang atau
sayuran asam. Lalapan sayuran plus sambal dadak dalam wadah tanah liat
pun disajikan sebagai pelengkap.

Cara makan yang paling pas, ya
tentu cara Sunda, pakai tangan. Sayatan ayam kampung yang sedikit pucat
ternyata rasanya empuk, gurih. Tak ada bumbu berlebihan, selain aroma
bawang putih yang kuat. Senasib dengan ikan mas goreng yang tak terlalu
garing. Lembut dagingnya dengan bumbu sama sederhananya. Tak ada aroma
tanah di bagian perutnya! Benar-benar gurih!

Bumbu bersahaja
bawang putih dan garam juga terasa kuat pada tempe dan tahu goreng.
Pepes jamurnya memakai jamur merang yang dibalut irisan bumbu cabai,
bawang merah, bawang putih dan serai. Demikian juga bakwan jagungnya,
empuk sedikit pedas karena memakai campuran cabai merah.

Terus
terang, masakan bu haji yang berbumbu sederhana ini justru menonjolkan
rasa alami bahan yang harus bagus kualitasnya. Gurih wangi yang
sederhana, jujur, toh mampu memberi kelezatan hebat. Andalan utama bu
haji justru pada sambal dadaknya.

Sambal ini disajikan dalam
wadah tanah liat dalam porsi yang royal. Ulegan kasar cabai merah,
cabai rawit dan tomat merah sedikit berair. Cocolan pertama, justru
terasa sengatan yang lezat, pedas, sedikit asam dan manis dengan aroma
terasi yang harum. Benar-benar dahsyat, makin lama gigitannya yang
garang makin terasa kuat!

Rasa asam, pedas dengan semburat manis
ini justru makin enak disatukan dengan leunca, daun selada, kemangi,
daun poh-pohan, terung dan timun sebagai lalapan. Rasa alami ayam dan
ikan mas goreng justru jadi cantik dengan sentuhan sambal yang garang
ini! Tak heran jika banyak pengunjung memesan 2 cobek sekaligus saat
bersantap.

Dari info sang pelayan berseragam batik, tahulah saya
pergantian nama menjadi Cijantung tak lain gara-gara pertikaian antara
anak-anak bu haji. Masing-masing merasa paling berhak mewarisi nama
Ciganea! Wah, apapun urusan keluarga mereka, yang penting sabetan
masakan yang jujur dengan sambal yang dahsyat benar-benar jadi menu
makan siang yang raos pisan!

Waktu membayar bon di kasir,
kembali lagi saya menemukan harga yang jujur. Ayam goreng, ikan mas
goreng Rp 9.500,00, bakwan Rp 3.000,00, tahu dan tempe goreng Rp
2.000,00, pepes tahu/teri/jamur Rp 3.500,00 dan lalapan sekeranjang
plus sambal dahsyatnya Rp. 5.000,00. jadi per orang tak lebih dari Rp.
25.000,00. (dev/Odi)

Rumah Makan Sunda IHC Cabang Condet
Jl. Condet Raya No.102
Jakarta Timur

Rumah Makan IHC (Ibu Haji Cijantung)
Masakan Sunda
Jl. Raya Serpong, Tangerang Km 7
Banten
Telpon: 021-53150422

Rumah Makan Sunda IHC Cabang Bandung
Jl. Kemuning 15
Bandung

Sumber: detikFood
Klik juga http://kecap-bango.blogspot.com atau www.bangomania.org


      

Kirim email ke