Tengkleng Solo Pengobat Rindu
JAKARTA | Kuah tengkleng yang gurih dan bumbu yang ringan berwarna kecoklatan ini memang paling sedap untuk menemani sepiring nasi putih hangat. Dagingnya kenyal empuk dan bumbu yang terasa hingga ke dalamnya. Selain tengkleng apalagi yang disediakan rumah makan ini? Tak perlu waktu lama saat saya mencari rumah makan ini. Lokasinya yang memang berada persis di depan Cilandak Town Square membuat Resto 30 ini cukup mudah ditemui. Resto 30 ini masih satu group dengan salah satu resto khas Solo ternama di Jakarta, Omah Solo. Dari luar tak terlalu nampak ramai, namun saat pintu terbuka ternyata hampir semua tempat duduk sudah penuh dengan pengunjung. Untunglah sebuah tempat duduk di sudut ruangan menyisakan sepasang kursi untuk saya dan teman saya. Pelayan pria berbaju batik dengan sigap langsung menghampiri dan memberikan daftar menu. Hal pertama yang saya lakukan adalah langsung memesan tengkleng Solo yang sudah lama saya rindukan. Sisanya saya masih asyik membolak balik daftar menu. Timlo Solo pesanan saya yang lain ternyata sudah habis, jadilah soto nggading jadi penggantinya. Sedangkan teman saya memilih oseng-oseng mercon dan juga selat Solo. Wedang ronde yang awalnya saya ingin pesan berubah menjadi es dawet Kota Gede dan Es kelengkeng lechy. Untung saja kedua minuman tadi datang dalam waktu yang relatif singkat. Es kelengkeng hanya terdiri dari beberapa potong buah lechy dan nata de coco saja tidak ada kelengkengnya sama sekali. Buat saya rasanya cenderung terlalu manis. Es dawet Kota Gede cukup menarik, isinya ketan hitam, cendol hijau, nangka, dan beberapa buah bubur sumsum yang berbentuk bulat-bulat. Rasanya gurih karena penggunaan santan sebagai kuahnya, dan rasa manisnya hanya lamat-lamat saja. Tidak ada jejak manis dari gula mera seperti es dawet yang sering saya jumpai. Tengkleng Solo, soto nggading, dan selat solo datang bersamaan. Tengkleng Solo yang disajikan dalam wadah mangkuk besar berwarna cokelat mirip sekali dengan hot pot tom yam. Aroma gurih langsung menguap. Kuahnya berwarna cokelat terang, saat diserutup kuahnya sangat terasa gurih dan cukup ringan dengan jejak sedikit rasa manis yang tertinggal. Yang saya suka adalah daging iga yang menempel di tulang nya yang empuk dan mudah sekali terlepas dari tulangnya. Sedikit kenyal namun tidak menimbulkan perlawanan yang berat saat dikunyah. Dua buah satai lidah yang empuk disajikan bersamaan. Nyam..nyam.. benar-benar enak. Karena saya suka dengan pedas, tambahan sedikit sambal rawit membuatnya jadi semakin enak! Sluurp.. Tengkleng sebenarnya adalah sejenis gulai khas Solo namun dengan kuah yang lebih ringan. Isianya berupa putongan tulang iga sapi yang dimasak cukup lama sehingga menghasilkan daging yang empuk dan menyerap bumbu. Soto nggading tampil dengan sangat sederhana, kuahnya bening dengan isi bihun, potongan ayam, tauge cambah, dan taburan seledri. Dari segi rasa cukup enak, gurihnya kaldu ayam cukup terasa namun tampilan dan isinya kurang memuaskan. Jeruk nipis dan juga sambal rawit mentah sebagai condimentnya. Selat Solo hadir sangat komplet, mulaid ari buncis, wortel, timun, kentang goreng, selada dan tomat. Kuahnya berwarna cokelat gelap. Kalau diperhatikan lebih teliti hampir mirip dengan semur, namun dengan bumbu lebih ringan. Dan yang menjadi keunikannya adalah diberikannya saus mustard yang rasanya asam-asam segar. Dagingnya empuk dan bumbunya meresap hingga ke bagian dalam daging. Selagi asyik menikmati tengkleng sambil sesekali menyerutup es dawet, oseng-oseng mercon pun datang dengan menebarkan harum aroma cabai yang sangat kuat menusuk hidung. Wah, tampaknya pedas sekali! Warnanya yang merah menyala tampak garang, apalagi beberapa buah cabai rawit utuh jadi pemanisnya selain tauge cambah diatasnya. Oseng-oseng mercon ini beriosi irisan kikil dan juga daging yang ditumis dengan bumbu yang sangat pedas. Benar saja, suapan pertama mampir di lidah membuat saya sedikit tersengat! Tak heran mengapa dinamakan oseng-oseng mercon, mungkin karena saat dimasak menggunakan cabai rawit yang sangat banyak yang membuat orang kaget saat menyantapnya, mirip seperti mercon. Sebenarnya, oseng-oseng mercon ini adalah makanan khas Jogja. Meskipun rasa pedas sangat dominan, tapi masih tersisa jejak rasa manis di akhirnya. Dagingnya sangat empuk, dan kikil nya kenyil-kenyil nikmat. Oseng-oseng mercon ini sangat enak apalagi disantap bersama dengan nasi putih yang masih hangat kemepul. Tanpa terasa peluh sudah membanjiri kening dan leher saya. Tapi menurut teman saya, pedasnya masih belum terlalu nonjok. Walah.. ini saja sudah membuat saya bermandi keringat! Semangkuk tengkleng solo dihargai Rp 29.000,00, soto nggading Rp 8.000,00, oseng-oseng mercon Rp 19.500,00 sedangkan es dawet dan es kelengkeng Rp 7.500,00. Hmm.. perut kenyang rasa kangen saya pun terobati. (eka/Odi) Resto 30 'Wisata Kuliner Solo' Jl. TB Simatupang 71 A Cilandak (depan Cilandak Town Square) Telp: 021-98113333 Jl. Buncit Raya 21 A Jakarta Selatan( Sebelah Pizza Hut Buncit) Kampung Bunga, Jl. Tegal Rotan 72 Bintaro Sektor XI, Bintaro Sumber: detikFood Kunjungi selalu http://bango-mania.blogspot.com
