Usaha Manisan Mangga Cirebon



Melimpahnya
buah mangga di Cirebon merupakan sumber produk makanan olahan yang kaya
rasa. Salah satunya, manisan mangga buatan keluarga Handrawati (45)
yang menjadi oleh-oleh khas dari ”Kota Udang” ini.

Tak banyak
orang tahu, sebagian manisan mangga yang dibeli wisatawan di toko
oleh-oleh di Kota Cirebon itu berasal dari sebuah rumah sederhana di
Jalan Garuda, Kota Cirebon.

”Hampir 80 persen manisan mangga
yang kami buat dibeli toko oleh-oleh tanpa merek. Mereknya mereka buat
sendiri sesuai nama toko masing-masing atau nama dagangnya. Hanya 20
persen yang pakai merek kami sendiri,” ujar Handrawati, yang
menggunakan merek Taci Kembar pada produk manisan mangganya.

Saat
ini, sudah mulai banyak pelancong yang datang ke Cirebon mengenal
manisan mangga Taci Kembar. Mereka terkadang sengaja datang ke rumah
Wawa, panggilan akrab Handrawati. Dia sudah merintis bisnis ini selama
30 tahun.

Sukses bisnis Wawa diraih berkat kegigihan. Jatuh bangun dan kegagalan usaha 
dalam usaha manisan mangga sudah pernah dialaminya.

Semua
anggota keluarganya pun ikut terlibat dalam memasarkan manisan mangga
ini. ”Kami dari keluarga biasa. Kalau barang tidak terjual, kami tidak
bisa sekolah. Jadi, di sekolah, saya juga jualan manisan mangga,”
kenang Wawa.

Usaha pembuatan manisan mangga dimulai sebelum tahun 1970 oleh almarhum kakak 
perempuan dari ayah Handrawati.

Mulai
tahun 1980-an, usaha pembuatan manisan mangga diteruskan Handoko, ayah
Handrawati. Karena respons pasar bagus, pemasaran mulai diperluas
sampai ke Bandung, Cianjur, Jakarta, Semarang, dan Surabaya.

Asli dan alami

Satu
hal yang selalu menjadi komitmen usaha Wawa selama puluhan tahun adalah
terus mempertahankan resep asli dan alami manisan buatan keluarganya.
Menurut dia, konsumen sekarang sangat kritis sehingga mereka akan
memilih yang terbaik untuk mereka konsumsi.

Oleh karena itu, keaslian cita rasa harus dijaga. Salah satunya, menggunakan 
mangga segar dan tidak menggunakan bahan pengawet.

Semua
mangga yang diproses adalah mangga yang baru dibeli dari petani di
daerah Ciledug dan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon. Jenis mangga yang
dibeli terdiri dari cengkir, golek, kidang, dan mangga lalijiwo.

Tidak
ada mangga yang distok lebih dari seminggu. Akibatnya, proses produksi
hanya berjalan selama delapan bulan, hanya saat panen mangga.

Mangga-mangga itu langsung dikupas, direndam dengan garam selama sehari semalam 
untuk menghilangkan getah.

Kemudian
direndam dengan air gula selama dua hari. Selanjutnya, dijemur di bawah
terik matahari selama 3-4 hari sampai benar-benar kering.

Tidak
memakai bahan kimia pengawet dan pengeras atau mesin pengering. Semua
proses pembuatan masih alami dan tradisional sehingga rasa yang
ditimbulkan juga alami.

”Rasa tidak bisa bohong, Mas. Biarpun
(harganya) lebih mahal, kalau rasanya enak, pasti tetap dicari,” ujar
Wawa yang kini menjalankan usahanya bersama adik perempuannya.

Selama
6-8 bulan, sekali produksi, Taci Kembar membutuhkan 100 kilogram
mangga, yang bisa menghasilkan 15 kg manisan mangga berbagai jenis.

Pembuatan
manisan mangga 5-7 hari bergantung pada cuaca. Jika musim hujan, akan
lebih lama karena tidak banyak sinar matahari untuk menjemur.

Saat
ini, harga manisan mangga Taci Kembar dijual Rp 40.000-Rp 60.000 per
kg. Ukuran kemasan yang ditawarkan mulai dari 100 gram, 250 gram, 500
gram, sampai 1 kg. Manisan mangga juga dijual hingga ke Jakarta,
Surabaya, dan Pulau Dewata Bali. (Timbuktu Harthana)

Sumber: KOMPAS
KUNJUNGI http://bango-mania.blogspot.com


      

Kirim email ke