Sajian Kapau Orang Minang



Sajian
kuliner Kapau lebih dari sekadar masakan Padang. Olahan masakannya
lebih rumit. Peminatnya pun bakal kebingungan memilih. Gulai tambunsu
atau ayam pop? Bebek cabai hijau atau gulai kepala kakap? Belut goreng
atau gulai tempe?

Gulai tambunsu adalah gulai dengan usus 12 jari berisi adonan tepung beras dan 
telor bebek.

Hhm... saat menentukan pilihan, air liur Anda mungkin sudah menggenang di mulut 
karena bermacam aroma harum sajian Kapau.

Di
Jakarta Pusat, para penggila kuliner Kapau bakal merujuk deretan warung
makan kaki lima di Jalan Kramat Raya, seperti Warung Makan Bareh Solok
atau Warung Nasi Kapau Sabana Bana. Deretan warung ini berdiri sejak
tahun 70-an.

Di Jakarta Selatan ada Restoran Padang Sabana Nasi
Kapau. Tepatnya di Jalan Melawai Raya 21A, Blok M, Kebayoran Baru. Yang
laris di restoran ini adalah ayam pop dan ayam goreng panas ala Kapau,
gulai dendeng lidah sapi, gulai kepala ikan kakap, serta rendangnya.

Nagari

Seperti
halnya Padang, Kapau adalah nama tempat. Nama sebuah nagari, Nagari
Kapau, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Letaknya
sekitar lima kilometer dari Bukittinggi. Dari Bukittinggi ke Payakumbuh
lewat Jalan Soekarno-Hatta. Sampai simpang empat Tanjung Alam, beloklah
ke kiri.

Anda sudah memasuki kawasan Kapau. Udaranya jernih dan
segar. Hamparan sawah di mana-mana mengepung Gunung Merapi dan Gunung
Singgalang.

Dari Nagari Kapau, sajian Kapau dibawa ke
Bukittinggi oleh ibu-ibu pedagang nasi. Mereka berjualan masuk keluar
kampung dan pasar tradisional yang buka hanya setiap pekan, seperti
Pasar Lasi, Pasar Baso, Pasar Biaro, atau Pasar Padang Luar.

Di
tahun 70-an, mereka sampai Jakarta dengan masakan nasi kapau. Nasi
kapau adalah nasi dengan sambal dan lauk gulai cubadak (nangka, kol,
dan kacang panjang), gulai cancang (tulang dan daging kerbau), gulai
babek (bagian perut kerbau), serta gulai tunjang kulit.

Melihat
pasar yang kuat, mereka menyajikan menu lainnya, seperti rendang merah,
bebek cabai hijau, dendeng basah cabai hijau, sup tulang iga, dan telur
ikan.

Warung-warung dan restoran ini kemudian membuat sajian
unggulan masing-masing. Cara ini mereka lakukan seperti yang mereka
lakukan di kampung halaman mereka.

Di Pasar Baso atau di Los Lambuang Bukittingi, misalnya, rendang itik ya ”nasi 
kapau tek syam”.

Yang ringan

Di
Jakarta, memasuki bulan suci, makanan dan minuman ringan Kapau
bermunculan. Satu makanan kecil khas Kapau adalah godok tangguli atau
godok tinta. Godok ialah campuran pisang dengan tepung yang dilumatkan
dan digoreng. Kelengkapannya, itulah tangguli. Tangguli sebagai kuah
atau tinta untuk godok tersebut. Tangguli dibuat dari gula merah tebu
yang diencerkan. Kuah berwarna coklat tersebut seperti jeli encer.
Boleh dicoba. Tidak ada di Jakarta. Apalagi yang namanya pecal kapau,
ceritanya lain lagi.

Gulai tambunsu, ayam balado dengan tumbak
bawang, dendeng, gulai tunjang, ikan mas, dan banyak lagi. Kelezatan
masakan Uni Lis membuat keringat menetes di dahi, padahal di luar sana
gerimis mengguyur membuat udara semakin sejuk.

Beberapa peserta
menemukan es tebak dan ampiang dadiah yang unik. Para peserta diajak
menikmati pical sikai, lemang tapai, pisang goreng ketan, dan rujak mak
san yang sudah berjualan lebih dari 50 tahun!

Ayam pop Simpang
Raya terasa sepuluh kali lebih nikmat ketika dinikmati sambil memandang
Jam Gadang yang indah di bawah sinar bulan.

Sebut saja bubur
kampiun, lemang tapai, atau es tebak (es campur khas Minang). Bubur
kampiun adalah campuran kolak pisang, bubur sumsum, candil, ketan
putih, dan sarikaya telur, yang kemudian diguyur gula merah cair.

Sarikaya
telur yang dimaksud adalah adonan telur bebek, gula aren, santan, dan
pandan. Beraroma campuran manis dan wangi, tentu saja menggoda untuk
dicicipi.

Lemang tapai tak lain adalah ketan yang diberi santan
kemudian dibakar selama dua jam. Uniknya, ketan ini dimasukkan ke dalam
bambu. Dimakan bersama tape ketan hitam.

Es tebak adalah es
campur dengan isi utama tebak, semacam cendol yang terbuat dari beras.
Tebak berwarna putih dan lebih panjang dan tebal serta tidak lembek.
Dulu penjual bubur ini ada di pacuan kuda di Bukitinggi. Silakan
nikmati.

Enaknya Nasi Kapau, Sayur Kapau


Siapa
sih yang enggak suka masakan Minang? Di segala penjuru di Indonesia ini
boleh jadi tidak sulit mencari rumah makan atau warung masakan Minang.
Sekalipun di luar negeri, termasuk di Timor Timur, yang kini sudah tak
lagi berada dalam rangkulan Ibu Pertiwi.

Namun, yang menarik,
berbagai warung atau rumah makan khas Minang biasanya juga disebut
rumah makan Padang. Selain itu, ada pula yang menyebut warung nasi
kapau. Orang kerap mengasosiasikan warung atau rumah makan nasi kapau
merupakan masakan yang berasal dari Bukittinggi.

”Orang sebutnya
nasi kapau. Kapau itu sebenarnya gulai sayur nangka muda, kol, dan
kacang panjang,” kata Misriyati, pemilik warung nasi kapau Bareh Solok
di Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat.

Misriyati
menuturkan, warungnya telah berusia sekitar 30 tahun. Dahulu, warungnya
dikelola ibunya, Rohana (65). Hingga kini, Rohanalah yang memasak semua
masakan di warungnya. Ada sekitar 25 macam lauk yang ada di warungnya.
Salah satu yang paling favorit adalah dendeng batoko, yaitu daging sapi
yang dimasak mirip balado. Rasanya amat pedas dan dagingnya empuk.
Selain itu, rendang di Bareh Solok selain terasa pedas juga amat kuat
rasa rempahnya. Rendang dengan kentang bulat-bulat kecil itu bumbunya
juga cenderung kering dan tak terlalu berminyak.

”Bumbu kami
giling sendiri, tidak beli bumbu gilingan di pasar. Sering kali malah
ambil bumbu dari Solok langsung karena lebih enak dan wangi. Misalnya
ketumbar. Beda dengan ketumbar yang ada di sini,” cerita Misriyati.

Sekalipun
andalannya adalah lauk-pauk yang beragam, Misriyati mengatakan, nasi di
warungnya harus benar-benar enak. Untuk itu, jika ada kesempatan, dia
selalu memesan beras dari Solok. Beras dari Solok menghasilkan nasi
yang unik, pera tetapi empuk.

Rasanya memang benar-benar enak.
Beras yang empuk, hangat, dengan lauk-pauk yang begitu padat rempah.
Bisa berkali-kali tambah nasi.... (SF/Windoro Adi)

Sumber: KOMPAS

KUNJUNGI http://bango-mania.blogspot.com


      

Kirim email ke