"Sei" Kupang Menggoda Rasa Lidah sampai Australia



Daging sei begitu populer di kalangan masyarakat Kupang dan Provinsi
Nusa Tenggara Timur umumnya. Daging yang diasapi itu sejak 1986 mulai
merasuki rasa lidah dan hasrat sejumlah warga Kota Kupang sampai para
tamu dari luar negeri. Sei menjadi makanan khas, bahkan sejak beberapa
tahun terakhir dilirik pengusaha dari Australia.

Sei, bahasa
daerah Rote, artinya daging yang disayat dalam ukuran kecil memanjang,
lalu diasapi dengan bara api sampai matang. Sei adalah makanan khas
suku Rote yang kemudian merambah selera masyarakat Nusa Tenggara Timur
(NTT).

Dari tahun 1981 hingga 2006 hanya terdapat satu rumah
makan (RM) daging sei di Baun, 25 kilometer (km) arah utara Kota
Kupang. Pada tahun 2007 muncul lagi satu RM Sei Petra di Oebufu, Kota
Kupang. Warung makan ini setiap hari, dari pukul 09.00 hingga pukul
16.00 Wita, dipadati masyarakat Kota Kupang dan tamu-tamu dari luar.

Pemilik
RM Sei Petra, Helda Manafe Pellondou (37), di Kupang, Sabtu (10/10),
mengatakan, bahan baku sei biasanya daging babi atau sapi. Namun,
mayoritas masyarakat NTT lebih suka mengonsumsi sei babi, maka sei babi
menjadi pilihan utama. Mereka menilai lemak daging sapi lebih berbahaya
bagi kesehatan dibanding lemak babi.

”Di RM Petra ini setiap
hari saya potong tiga ekor babi dengan berat keseluruhan 100 hingga 150
kilogram. Sampai pukul 16.00 Wita, semua daging sei itu terjual habis.
Hari Natal dan Tahun Baru, babi yang dibutuhkan sampai 10 ekor, dengan
berat masing-masing 40 hingga 70 kilogram,” kata Helda.

Harga
satu porsi sei babi dan nasi Rp 12.000, sementara 1 kg sei babi Rp
100.000. Biasanya, para konsumen datang dalam kelompok, dari anak-anak
sampai orangtua, dari masyarakat kampung hingga orang berdasi.

Selain
makan, mereka juga membeli untuk anggota keluarga di rumah atau
oleh-oleh bagi keluarga atau teman di luar NTT. Setiap warga baru
selalu kembali dari Kupang membawa oleh-oleh sei itu. Sei itu bertahan
sampai tiga hari, tetapi jika dalam alat pembeku bisa bertahan sampai
beberapa bulan.

Sei sapi biasanya disediakan khusus CV Aldia
yang memiliki tiga toko penjualan sei, termasuk di Bandara Kupang. CV
Aldia menyediakan puluhan segmen daging, seperti sei, daging segar,
kulit, bakso, tulang, dan jeroan. Aldia tidak menyediakan sei asap
dalam jumlah banyak, kecuali daging dan tulang segar. Aldia telah
mendapat sertifikat halal dari MUI pada 2007.

Menurut Helda,
jumlah tenaga yang dipekerjakan 20 orang, tetapi jumlah itu masih
kurang sehingga warung Petra tidak buka sampai malam. Sumber daya
pekerja masih rendah, semua urusan, dari belanja bumbu sampai proses
pengasapan, pun tetap dikontrol Helda.

”Saya lulusan sekolah
kepandaian putri di Kupang, yang antara lain memperkenalkan masakan
tradisional dari beberapa daerah, termasuk masakan khas Rote, yakni sei
babi atau sapi. Sei ini tidak asing bagi masyarakat Kota Kupang atau
masyarakat Rote. Saya hanya meningkatkan dengan memadukan beberapa
jenis bumbu dan cara memasaknya,” kata Helda.

Ibu tiga putra ini
mengaku masih berkonsentrasi pada RM Petra, sambil mencari peluang
membuka warung makan serupa di lokasi lain di Kota Kupang. Setelah
sukses di Kupang, ia akan membuka beberapa warung makan sei di
kabupaten lain, seperti Kefamenanu, Atambua, Baa, Soe, Ende, Maumere,
dan Larantuka.

Selain itu, beberapa pengusaha dari Surabaya
memintanya mengirim setiap hari sei babi 50 kg khusus untuk kompleks
permukiman China. Demikian pula pengusaha NTT di Batam, mengajaknya
membuka warung makan sei di Batam.

Akhir September 2008, Helda
didatangi pengusaha dari Australia, setelah sebelumnya orang Australia
itu mencicipi sei di RM Petra milik Helda. Pengusaha itu mengajak Helda
membuka usaha sei babi di Darwin, tetapi ia berkeberatan. Pengusaha
Australia itu kemudian menawarkan kerja sama dengan Helda, yaitu
membuka peternakan babi di Kupang. Daging sei yang dikelola atas kerja
sama pengusaha Australia itu dikirim ke sejumlah warung makan di
Australia. Namun, tawaran itu belum dilayani Helda.

Istri Ande
Manafe (40) ini mengatakan, campuran bumbu sama seperti jenis masakan
pada umumnya, hanya sei atau babi ditambah madu Timor sehingga terasa
lebih gurih, manis, dan lezat. Cara mengasapi sei pun hanya menggunakan
kayu kusambi selama 5-9 jam.

Anton Nope (33), pekerja di RM Sei
Baun, mengatakan, tiap hari RM Sei Baun memotong 16 ekor babi dengan
berat 30-70 kg per ekor. Masakan RM Sei Baun sebagian besar dikirim ke
pelanggannya yang memesan, termasuk warga di Surabaya.

”Orang mengatakan sei itu dibakar, tetapi sesungguhnya diasapi sehingga rasanya 
gurih, lezat, dan nikmat,” kata Nope. (KORNELIS KEWA AMA)

Sumber: Kompas
KLIK http://bango-mania.blogspot.com


      

Kirim email ke