Onde-Onde Mojokerto Yang Mampu Bertahan




Peluang
usaha onde-onde di Mojokerto masih cukup menjanjikan. Terbukti,
sejumlah pengusaha masih mampu bertahan. Seperti yang kini dijalani Nur
Wachid, warga Perumahan Suromulang Barat, Kelurahan Surodinawan,
Kecamatan Prajuritkulon, Mojokerto ini.

Menjamurnya makanan
kecil atau snack tak membuat produsen onde-onde kegerahan. Seperti roti
dengan berbagai macam rasa. Dari rasa nanas, strawbery, pandan, coklat
hingga roti dan onde-onde juga hadir dalam berbagai bentuk dan aroma.
Setidaknya itulah yang dialami Nur Wachid pengerajin penganan onde-onde
yang belakangan disebut makanan oleh-oleh khas daerah peninggalan
Majapahit ini. Bahkan kesibukan pria berusia 33 tahun ini kian
bertambah.

Seperti yang dilakoninya kemarin siang sekitar pukul
12.00. Di rumahnya Lingkungan Perumahan Suromulang Barat IV Nomor 85
Kelurahan Surodinawan, Kecmatan Prajuritkukulon, Mojokerto. ”Kalau
siang begini onde-onde tidak ada yang tersisa. Semua sudah terjual,”
ujarnya, di sela-sela mempersiapkan pembuatan onde-onde untuk di jual
keesokan hari.

Di rumah sederhana itu keseriusan pria yang akrab
disapa Nur dalam dunia onde-onde sepertinya tidak ada yang diragukan.
Segala bentuk bahan pokok semisal kacang hijau, wijen, goodfree (bahan
pengganti minyak goreng), gula dan ketan semua sudah tersedia di dapur
biasa tempat dia bekerja. ”Sengaja saya memakai goodfree agar rasa
onde-onde tidak serik. Beda kalau pakai migor selain rasanya kurang
enak, banyak mengandung kolesterol,” kata bapak dari M. Aviv Yifta, 8,
Fafa Kholili, 2 dan Satria Dharmawangsa yang baru berusia 9 bulan.

Kalau
melihat hasil onde-onde yang tersisa di dapur miliknya, sepintas rasa
onde-onde buatan Nur tidak ada perbedaan dengan onde-onde yang lain.
Termasuk yang bermerek Bo Liem. Namun bila digigit dan dirasakan dalam
lidah memang berbeda. Rasa serik di tenggorakan nyaris tidak ada, rasa
khas kacang hijau dalam bulatan kulit onde-onde pun terasa lembut.
Tidak heran jika istri Choiriyah menyebut penganan bikinannya,
onde-onde anti kolesterol dan mengandung manfaat untuk kekebalan tubuh
konsumen.

”Bukan berarti bersih dari kolestrol tapi menggunakan
goodfree bisa mengurangi kadar kolesterol di dalam onde-onde,”
terangnya. Tidak heran jika minimnya kolesterol dan manfaat bagi
ketebalan tubuh buah karya Nur terdaftar di Dinas Kesehatan (Dinkes)
dan memperoleh sertifikat penyuluhan makanan dari Pemkot Mojokerto.
Bakan mendapat perlindungan hak kekayaan intelektual (HAKI) dari
departemen Hukum dan HAM RI (Depkumham) Provinsi Jatim. ”Agar konsumen
tahu hak cipta mendapat izin dari Depkes saya cantumkan di bungkus
onde-onde,” tambah pemilik onde-onde bermerek Nuria ini. Nama ini
diambil dari gabungan nama Nur Wachid dan Choiriyah, istrinya.

Kendati
hanya dibantu Choiriyah, dalam segi pemasaran produksi rupanya Nur
tidak mengalami kesulitan. Berbekal sebuah motor, setiap hari dia rela
berkeliling menjajakan hasil produksi di perumahan yang ada di
Mojokerto. Di antaranya perumahan Wates Magersari, BSP, Puskopad, Perum
Taratai Sooko dan Lingkungan perumahan Gatoel. ”Tapi itu pada hari
libur saja. Karena setiap harinya saya kirim ke sebuah toko di Jl.
Niaga Mojokerto,” jelas Nur.

Bakat Nur dalam dunia penganan
onde-onde tidak bisa dibilang instant. Meski baru menekuni selama 6
tahun, tapi darah pembuatan penganan ini mengalir dari orangtuanya
Achmad. Husain dan Sunarsih membuat mantan pengerajin sandal sepatu ini
mampu bermotifasi dalam dunia onde-onde. Itu terlihat dari hasil yang
diperolehnya setiap bulan yakni mencapai Rp 6 juta. Dengan rata-rata
setiap produksi perhari antara 200 hingga 300 onde-onde. ”Kalau sedang
banyak pesanan bisa mencapai 500 sampai 1000 perhari,” tutur pria yang
juga menjabat sebagai sekretaris PAC PPP Kecamatan Prajuritkulon itu.

Lantas
bagaimana dengan pengann khas Mojokerto yang mulai tergerus berbagai
macam merek pengenan? Nur menceritakan sejauh ini onde-onde asli buatan
warga lokal masih mendapat pengakuan konsumen. Bahkan datang dari luar
daerah. Namun akibat terjebak merek terntentu, konsumen perlahan-lahan
mulai meninggalkan onde-onde khas Mojokerto sendiri. Salah satunya
disebabkan permainan rasa yang kian bervariasi tetapi menanggalkan
manfaat positif bagi konsumen. Seperti hanya sekedar memproduksi tanpa
mengutamakan sisi kesehatan. ”Makanya kalau sekarang banyak konsemen
yang lebih memilih merek tertentu saya tidak mempersoalkan,” bebernya.

Selain
itu meredupnya makanan khas Mojokerto lantaran peran pemerintah
setempat dirasa belum optimal. Melalui Disperindag dan UKM, urai Nur,
saat memilih hasil produksi, pemerintah terkesan asal-asalan. Tanpa
mempertimbangkan kualitas makanan dan manfaat kesehatan bagi konsumen.
”Contohnya kalau ada Kunker (kunjungan kerja,red) dari daerah lain.
Yang ditampilkan bukan dari UKM onde-onde yang tercatat di Disperindag
dan UKM. Melainkan dari produksi lain yang tidak mengoptimalkan rasa,”
paparnya.

Akibat belum maksimalnya peran pemerintah tersebut
tidak heran jika banyak konsumen mengeluh saat ini hasil onde-onde
Mojokerto tidak seperti sebelumnya. Lebih mengutamakan rasa dan manfaat
untuk kesehatan para konsumen. ”Sekarang yang ada justru produksi
asal-asalan,” terangnya. Untuk itu agar penganan khas Mojokerto tetap
bertahan, Nur berharap kepada konsumen kiranya membeli onde-onde yang
tidak mengutamakan merek semata. Melainkan lebih mendahulukan rasa dan
manfaatnya.

Di sisi lain keseriusan pemerintah untuk
mengembangkan penganan di Mojokerto bisa dioptimal. Salah Satunya kerap
mengadakan pelatihan-pelatihan pembuatan pengananan khas Mojokerto,
menyediakan lokasi pemasaran yang strategis dan mengalokasikan anggaran
yang realistis. ” Tapi untuk mewujudkan itu semua tergantung pemerintah
dan masyarakt sendiri. Mau apa tidak?” tuturnya.

Info tentang Onde-Onde
Perumahan Suromulang Barat IV Nomor 85
Kelurahan Surodinawan, Kecmatan Prajuritkukulon, Mojokerto

Sumber : MOCH. CHARIRIS, Radar Mojokerto
Kunjungi juga http://bango-mania.blogspot.com


      

Kirim email ke