'Madu & racun' makanan tradisional

Indonesia kaya akan makanan tradisional. Pilih yang sehat agar Anda panjang 
umur.
Rahasia hidup sampai 100 tahun. Itulah coverline National Geographic Indonesia 
pada November 2005. Edisi itu mengulas kearifan lokal Okinawa (dekat Jepang), 
Sardinia (Italia), dan California (Amerika Serikat) yang telah menjadi kunci 
rahasia sehat dan panjang umur penduduk setempat. Bayangkan, di usia 100 tahun, 
Frank Shearer dari AS masih bermain ski air. Dengan busana ski yang membalut 
ketat tubuhnya, perutnya tampak rata. Lain lagi dengan Kame Ogido di Okinawa. 
Di usianya yang ke-89, ia masih produktif. Sementara Marge Jetton dari 
California, memperpanjang SIM di umur 101 tahun!

Penduduk Sardinia terbiasa minum anggur arak merah dalam jumlah sedang. Tradisi 
warga Okinawa adalah makan dalam takaran kecil. Sedangkan penduduk California 
(penganut Kristen Advent), suka makan kacang-kacangan dan buncis. Persamaannya, 
mereka semua tidak merokok, hidup mengutamakan keluarga, aktif sepanjang hari, 
bersosialisasi dengan orang lain, makan buah, sayur, dan gandum. Bagaimana 
dengan makanan asli Indonesia? Sehat jugakah?
Tergantung cara memasak

Menurut Arbai (1977), makanan tradisional merupakan bagian dari budaya. Karena 
Indonesia terdiri dari berbagai sub-etnis, setiap etnis (daerah) memiliki jenis 
makanan tersendiri. Bentuknya pun terdiri dari berbagai jenis olahan, baik 
sebagai makanan pokok ataupun selingan.
Ahli nutrisi dan diet dari Jakarta Anti-aging & Executive Fitness Consultant, 
dr. Phaidon Toruan, MM, mendefinisikan makanan tradisional sebagai makanan yang 
sejak dulu diolah dengan cara alamiah. "Tapi, tak semua makanan tradisional itu 
sehat. Kalau dimasak terlalu lama, diimbuhi banyak gula, berarti sudah tak 
sehat lagi," kata dr. Phaidon.

Sosiolog Universitas Indonesia, Dr. Erna Karim, juga sepakat. Menurutnya, ada 
sejumlah makanan tradisional yang kini tak lagi masuk kategori sehat. "Cincau, 
misalnya, yang dipercaya sebagai penyembuh demam. Dulu, cincau dibuat dengan 
cara alami. Tapi sekarang, untuk kebutuhan industri yang mensyaratkan bahan 
pangan tahan lama, cincau ditambah sejenis zat pemutih yang umum dipakai 
sebagai bahan bedak dingin."

Pengaruh budaya global mengubah cara-cara pembuatan makanan tradisional, 
demikian pula dengan kebiasaan makan kita. Salah satunya adalah fast food. 
"Dibanding fast food, makanan tradisional memang lebih sehat. Khususnya bila 
dilihat dari proses pengolahan dan bahan-bahannya. Fast food dibuat sekaligus 
dalam jumlah banyak, menggunakan perasa (esens), tambahan bumbu, dan diolah 
dengan teknologi. Sedangkan makanan tradisional biasanya dibuat dari bahan yang 
langsung didapat dari alam, berskala kecil, dan mempertahankan rasa (bumbu) 
asli. "Masyarakat belajar langsung kearifan itu dari alam. Lihat saja, bentuk 
tubuh kita bersinergi dengan tempat kita bermukim. Terjadi kecocokan antara 
tanaman sumber pangan yang ditumbuhkan alam, dengan kebutuhan hidup manusia 
yang tinggal di sekitarnya," papar Erna.
Makan bersama itu sehat.

Erna menjelaskan, sehat tidak hanya mencakup fisik, tetapi juga emosi, mental, 
sosial, dan spiritual. "Sehat fisik artinya tidak mudah terkena penyakit 
dikarenakan virus atau bakteri. Daya tahan tubuh bagus. Sementara, sehat emosi 
artinya tidak mudah marah, tersinggung, kecewa, sedih, dan sebagainya. Sehat 
mental berarti dapat berpikir jernih, positif, produktif dan tidak menderita 
insomnia," paparnya.

Khusus tentang sehat sosial, Erna menjelaskan, seseorang dikatakan sehat sosial 
jika mampu berinteraksi dengan orang lain dengan mudah, tidak mudah terlibat 
konflik, suka menolong, dan bersifat kooperatif. Salah satu kearifan lokal yang 
berperan menyehatkan non-fisik kita adalah makan bersama.

Sejak dulu, Indonesia punya budaya makan bersama. Kita juga suka menjamu 
kerabat atau tamu. Dokter Phaidon mengatakan, makan bersama merupakan salah 
satu kearifan lokal yang perlu tetap kita lakoni. "Sekelompok orang hijrah dari 
Italia ke Amerika Serikat. Tiba di Amerika, mereka yang dirinya memiliki gaya 
hidup sehat ala Italia -contohnya rajin mengonsumsi minyak zaitun- mulai 
mengonsumsi banyak hidangan junk food dan merokok. Hasil studi menunjukkan, 
karena sejarah hidup sehat mereka, risiko kematian komunitas Italia tersebut 
lebih kecil dibanding warga lokal Amerika, meski yang mereka makan adalah 
makanan sama," kata dr. Phaidon.

Bukan faktor genetis dan bukan hanya soal bahan pangan yang dimakan, kebiasaan 
makan orang Italia ternyata juga mendukung kesehatan mereka. Italia ternyata 
juga mendukung kesehatan mereka. Tradisi berkumpul dan makan bersama dalam 
keluarga besar membantu menurunkan risiko stres. Stres yang menumpuk dan tak 
ditangani segera, bisa sangat berbahaya karena kadar kortisol, pemicu radikal 
bebas, jadi meningkat.

"Dengan makan bersama, secara psikologis kita akan lebih sehat. Stres bisa 
terbagi, karena ada saling dukung dalam mengatasi masalah. Kebersamaan 
merupakan salah satu elemen kesehatan yang luar biasa besar manfaatnya," papar 
dr. Phaidon.

SITTA MANURUNG


FEMINA - 17-23 April 2010


Facebook: Radityo Djadjoeri
YM: radityo_dj
Twitter: @mediacare

Kirim email ke