Abah Kanceng, Juru Pantun Buhun Generasi Terakhir Itu Sakit...

FX Puniman

Pendongeng Sunda atau yang lebih dikenal dengan sebutan juru pantun
buhun sejak dua minggu yang lalu sakit. Dia hanya tiduran di kasur
yang diletakkan di ruang depan rumahnya yang terbuat dari bilik. Abah
Kanceng adalah nama beken Andi Yana (88), si juru pantun buhun itu.

Tiga tahun lalu dia memperoleh penghargaan dari Wali Kota Bogor saat
itu, Iswara Natanegara, bertepatan dengan peringatan hari jadi Bogor
yang ke-521. Si Abah ini memperoleh penghargaan dari Pemerintah Kota
Bogor berkaitan dengan dedikasinya dalam melestarikan seni Sunda,
yakni pantun yang dituturkan dengan iringan kecapi yang dimainkannya.

Rabu (15/2) petang, Achmad Mikami yang akrab dipanggil Maki, pupuhu
(pimpinan) Padepokan Giri Sundapura, menjenguk Abah Kanceng di
rumahnya di Kampung Cibeureum, RT 02 RW 03, Kelurahan Mulyaharja,
Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor.

Maki yang pada Minggu pertama bulan ini berhasil merekonstruksi acara
Seren Taun yang bertahun-tahun lalu dilaksanakan kakeknya, Etong
Sumawijaya, di Desa Pasir Eurih, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten
Bogor. Seren Taun terhenti sejak tahun 1971. Ketika diselenggarakan
kembali, acara Seren Taun menjadwalkan Abah Kanceng untuk tampil dalam
pentas kesenian tradisional.

Namun, hari Jumat (3/2), sehari menjelang tampil untuk menjadi juru
pantun buhun, Abah Kanceng mendadak sakit.

Maaf Abah, baru sekarang bisa datang kemari, kata Maki di samping Abah
Kanceng yang tiduran di kasur di pojok ruang depan, yang ditunggui
istrinya, Miah (65).

Maki menambahkan, kesibukannya sebagai penyelenggara acara Seren Taun
awal bulan ini membuatnya agak terlambat menjenguk Abah Kanceng.

Seusai acara Seren Taun, ia melakukan evaluasi dari rangkaian kegiatan
yang dilaksanakan selama tiga hari berturut- turut (tanggal 3 hingga 5
Februari) itu.

Sayang Abah tidak bisa tampil pada acara pentas kesenian. Tidak apa
Abah, mudah-mudahan Abah cepat sembuh, kata Maki, seraya berjanji akan
membawa Abah Kanceng untuk berobat ke Rumah Sakit PMI Bogor.

Meski sakit, semangat Abah Kanceng masih tinggi ketika ngomong-ngomong
tentang keahliannya menjadi juru pantun. Semalam suntuk, dari pukul
21.00 sampai pukul 04.00, kalau sedang mendongeng tentang kerajaan
Pajajaran sambil memetik kecapi.

Sejak tahun 1960-an, kedua mata juru pantun ini buta. Dengan napas
yang tertahan-tahan karena penyakit asma, ingatan Abah Kanceng masih
lancar menjawab pertanyaan Maki tentang sejumlah sesepuh setempat
pelestari budaya Sunda.

Dia seakan lupa akan penyakit yang dideritanya. Selain asma, dia
merasa sakit pada saluran kencing. Abah Kanceng sendiri merasa agak
kecewa karena anaknya tak ada yang berminat menjadi juru pantun. Abah
Kanceng merupakan generasi terakhir juru pantun di daerah Bogor.





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke